Senin, 10 Juni 2013

"TOO FRIENDLY? TOO KIND?"

Banyak yang bilang kadang saya terlalu ramah, sopan, hingga baik. (Masa?) Tapi, kelanjutan dari komentar tersebut biasanya nggak enak:

"Makanya elo sering dimanfaatin orang!"

Jlebb! Apa iya nasib saya selalu semalang itu?

Mungkin banyak yang pernah mengalami nasib serupa. Gara-gara komentar itu pula, ada yang jadi apatis. Ngapain berbaik-baik sama orang kalo akhirnya selalu kita yang disakiti?

Ada juga yang memilih jalan tengah - mungkin seperti yang saya coba beberapa kali, seperti satu kejadian ini:

Saya mengunjungi sebuah apartemen di daerah Jakarta Selatan seminggu sekali untuk urusan bisnis. Setiap lewat meja resepsionis, saya selalu tersenyum ramah pada pak satpam yang duduk di baliknya, sembari meminta dibukakan pintu elektronik.

Pak satpam balas tersenyum. Kadang kalo sempat kami mengobrol, bergurau, dan tertawa sedikit. Namanya juga ramah-tamah khas Indonesia.

Hingga suatu siang, saat saya bilang ingin ke minimarket di samping lift. Tiba-tiba dia tampak sangat tertarik dan bertanya untuk apa.

"Beli makanan." Memang, kebetulan hari itu saya tidak sempat sarapan.

"Beliin buat saya juga, nggak?"

Menganggap dia cuma bercanda, saya hanya nyengir dan berlalu. Eh, minggu berikutnya dia lebih berani. Dia kembali menanyakan hal yang sama saat saya bilang mau ke minimarket lagi. Pas saya cuma nyengir dan melenggang pergi, tiba-tiba dia sampai - asli! - berdiri dari mejanya dan berseru:

"Mbak, bagi makanan, dong! Beliin, ya?"

Oke, jujur saja - kali itu saya dongkol. Halo, siapa dia? Sok akrab dan buntutnya madatan! Iya kalo dia pengemis yang nggak punya kerjaan dan kelaparan, karena sudah tua dan - maaf - mungkin juga punya keterbatasan fisik. Selain tidak tampak profesional, mengemis makanan pada pengunjung jelas-jelas bikin dia kelihatan nggak punya malu maupun harga diri. Please, dah!

Bisa dibilang, itu terakhir kalinya saya bersikap ramah pada si satpam. Mungkin saya kejam. Tadinya saya hampir ekstrim, langsung mengadukannya pada supervisor - biar diberi pelajaran tata krama. Adik saya yang baik hati justru menyarankan agar mendiamkan saja dulu. Kalo ternyata masih keterlaluan, tegur baik-baik. Masih ngeyel juga? Ancam saja bahwa saya akan melaporkan kelakuannya yang enggak banget ke supervisor. Kalo dia ternyata udah nggak butuh lagi kerja, bolehlah itu dilaksanakan.

Apakah saya terlalu ramah dan baik, hingga selalu mudah dipermainkan orang? Tidak selalu. Saya hanya sebisa mungkin tidak marah-marah atau menyakiti orang lain. Ada cara yang lebih elegan daripada main bentak-bentak orang di depan umum - kayak adegan sinetron basi.

Yang pasti, tatapan dingin dan irit bicara cukup membuat si satpam kapok meminta-minta pada saya lagi. Semoga.

R.

(Jakarta, 2 Juni 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar