Tampilkan postingan dengan label #PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #PUISI. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2016

"JUJUR?"

Jujur selalu?
Ah, jangan naif begitu
apalagi disertai kekasaran itu
meski sesuai maumu
hanya agar mereka tahu
semua isi benakmu
Persetan dengan sopan-santun palsu
bagai munafik yang berlaku

Jujur selalu?
Ya, kamu merendahkanku
yang memilih diam membisu
bak pengecut yang enggan berjibaku
sembunyi di balik slogan damai
netralitas tukang cari aman sejati
atas nama toleransi
Sosok egois yang tidak peduli
hanya memikirkan diri sendiri

Jujur selalu dan sekali?
Aku muak setengah mati
Kamu hanya menghina tanpa henti
berkoar-koar ke sana kemari
bikin orang sakit hati
tanpa ada tawaran solusi
Kesombonganmu memuakkan sekali
Entah kapan kamu mau berhenti

Jujur saja?
Aku muak dengan drama
Lagi-lagi keributan yang sama
tanpa menghasilkan apa-apa
kecuali saling menghina
mengutuk yang berbeda
mencela yang tidak tahu apa-apa
menyumpahi yang diam saja

Jujur?
Rasanya ingin kabur
sebelum ada yang keburu takabur
Namun, kamu akan kembali menyebutku pengecut
dengan mulut yang kecut
sementara panggung ini masih penuh badut…

R.
(Jakarta, 14 Desember 2016 – 16:00)

Sabtu, 17 Desember 2016

"TERUNTUK #ALEPPO"

Di satu sisi dunia,
semua ceria
jalani hidup seperti biasa
di bawah cerahnya angkasa

Di sisi lainnya,
banyak yang terluka
kehilangan dan penuh duka
lari dan sembunyi, bertaruh nyawa

Di mata media,
ada ragam cerita
Ada yang percaya
Ada yang menuduh pura-pura

Datang, datanglah ke sana
Lihat sendiri, apa adanya
Mungkin kau akan beruntung, masih bernyawa
saksi hidup perjuangan nyata…

R.
(Jakarta, 17 Desember 2016 – 16:15)

Selasa, 06 Desember 2016

"PUAS YANG BUAS"

Mereka kerap hanya ada
berkumpul saat bahagia
Senyum dan polah si mungil di depan mereka
ibarat tontonan belaka

Ada yang tidak puas
selalu ingin lebih, bahkan hingga tandas
Mengaku manusia, namun buas
hanya saat dilihat, mereka berkoar-koar soal moralitas

Ayunan tangan dan selangkangan
pencipta banjir air mata
jerit jiwa-jiwa muda
kian terluka dan ternoda

Manipulasi emosi
tak cukup sekali
kalau perlu tanpa henti
sampai mereka tak bernyawa lagi

Ke manakah mereka?
Hanya diam seribu bahasa
setelah beralasan: “Bukan anak saya”,
atau: “Urusan keluarga mereka.”
Saat menutupi aib lebih berguna
jauh berharga daripada nyawa

Mereka pun terpencar
meninggalkan jiwa-jiwa rusak terpapar
perlahan kehilangan pendar
Tragedi kelar
Massa bubar
Tinggal cerita lama di surat kabar

Kapan mereka mau beraksi?
Haruskah menanti
saat mahluk buas itu mulai menyakiti
anak-anak yang mereka cintai?

Akankah mereka kian membisu,
dalam bumi yang makin membara
namun penuh jiwa-jiwa dingin, kosong, dan sunyi?

Karena mereka masih bernapas,
namun dengan nurani yang mulai kebas
perlahan terancam mati…

R.

Kamis, 01 Desember 2016

"CANDU DIGITAL"

Ada saat mulut berucap
atau jemari lincah menari
di atas papan ketik laptopmu
atau ponsel terbaru

Apa yang keluar?

Pekerjaan?
Gosip dan gunjingan?
Informasi atau lelucon basi?
Ekspresi cinta atau benci?
Nasihat, motivasi, atau caci-maki?

Sudah kelar
Masih ramai atau sudah bubar?

Mulut berucap ibarat lidah mencecap
Telinga pengang, gagal mendengar
Gegap gempita di luar
Otak gegar dan jiwa bergetar

Jemari kian lincah
lebih lihai dari lidah
Mungkin sudah ahli, malah...

...sementara otak dan hati terancam (di)bungkam,
terlupakan di pojok gelap ruangan
seiring batin perlahan menghitam...

R.
(Jakarta, 19 Oktober 2016 - 17:00)

Minggu, 27 November 2016

"TIDAK SUKA?"

Bagimu, aku terlalu banyak bicara
meski berupa tulisan di social media
Ah, bukan aku satu-satunya
Sadar atau tidak, kamu juga sama

Bagiku, aku punya hak serupa
Sungguh, tak perlu kau baca semua
bila memang tidak suka
Toh, manusia tinggal memilih saja...

R.
(Jakarta, 22 November 2016 - 11:00)

Kamis, 17 November 2016

"SAAT JUMAWA BERTAHTA"

Ancamanmu begitu nyata
saat kau akhirnya di singgasana
Wahai, Sang Raja
Hati-hati dengan ucapanmu, Baginda
walau kau merasa seputih istana

Kau berharap tunduknya dunia
hanya karena kau begitu kaya
Kini kau makin berkuasa
merasa bebas semena-mena
Kau pikir kaulah segalanya

Coba tebak, 'Yang Mulia'
Di mata-Nya, kau bukan apa-apa
Seperti kami yang bagimu bukan siapa-siapa
Nikmatilah jumawa
meski sementara
mumpung kau masih bernyawa...

R.
(Jakarta, 14 November 2016 - 8:30)

Senin, 31 Oktober 2016

"BULLY" (PENINDAS)

Memang benar lidah tak bertulang
Luwesnya bukan kepalang
Bercakap tanpa henti
meski telinga lelah setengah mati

Tinju mudah melayang
terutama mereka yang merasa jagoan
Yang penting lawan terjengkang
kalau bisa tunggang-langgang ketakutan

Tiada hangat di sorot mata
Bibir mencibir penuh hina
Ada dingin dalam tawa
Ah, mereka kira mereka segalanya

Mereka kira akan dapat kehormatan
dengan nyali kerdil dan mental bajingan
Tinggal tunggu tanggal mainnya
saat ada yang ingin melenyapkan mereka
selamanya dari dunia…

R.
(Jakarta, 7 Oktober 2016 – 7:30 am)

Kamis, 20 Oktober 2016

"SAAT HUJAN BAGAI PELURU..."

Kadang tetes hujan melesat bagai peluru,
berkali-kali menghajar wajahku
Setidaknya, mereka tidak kejam menghunus
menembus hati yang sedang membiru

Lalu, ada saja duka lama
menggedor-gedor pintu
bagai candu yang menuntut lebih dari sebelumnya
membuatku lari bersembunyi
merebahkan diri di lantai
Ah, kukira sudah kutendang pergi

Itukah tawa Iblis?
Tak pernah kudengar dia begitu sinis
Aku tetap sendiri berjuang
menyuruh mereka diam
Diamlah!
Kepala ini sudah penat oleh masalah
hingga dingin kuacuhkan
meski hanya angin penawar dekapan…

Kata mereka, para malaikat turun bersama hujan
mendengarkan setiap doa,
yang mengirim mereka kembali pada Sang Maha Pencipta
Inginkah Dia agar aku melalui hal yang sama?
Baiklah
Tergantung Kebijakan-Nya
kapan ingin mengangkat semua luka…

R.
(Jakarta, 14 Oktober 2016 – 5:00)


Selasa, 04 Oktober 2016

"SI PATAH HATI DAN SI MATI RASA"

Ada merah di matanya,
dengan marah bersemayam di sana
bercampur rindu dan rasa kalah
Mungkin hatinya sedang patah

“Apa kabar temanmu?”
Ah, dia gagal menyembunyikan sendu
Bahkan, sepertinya dia ingin aku tahu
meski saat itu aku lebih memilih membisu

Ada rindu dari tanya itu
Sayang, tiada solusi di benakku
Apalagi, aku sedang enggan berurusan dengan cinta
Takut kembali berakhir sepertinya:
lagi-lagi kecewa…

R.
(Jakarta, 13 September 2016)


Minggu, 11 September 2016

"1 SEPTEMBER 2016"

Kau mencari yang dulu kau tinggal
Untuk apa?
Semoga kali ini kau terpental
menjauh untuk selamanya

Kau mencari yang dulu kau tinggal
seperti bocah mencari mainan lama
enggan menerima kenyataan karena bebal
Kau pikir kau istimewa

Percayalah, kau tak ingin memulainya lagi
Lebih baik kau pergi
Tinggalkan dia sendiri
Jangan bakar hatinya dengan memori dan rasa benci

Masih terus mencari?
Selamat berusaha
Semoga kau takkan pernah menemukan apa-apa
alias buang-buang waktu dan tenagamu saja…

R.
(Jakarta, 3 September 2016 – 18:30)

Sabtu, 27 Agustus 2016

"1 AGUSTUS 2016"

Pagi selalu cocok untuk secangkir kopi
sambil membaca berita hari ini
atau tumpukan pesan untuk diri…

…termasuk dari sosok yang tak tahu diri
si penyebab sakit hati
kini ingin bertemu kembali

Ah, pagi yang cocok untuk pahitnya kopi
sembari menebalkan dinding hati
mengunci semua yang perlu dilindungi
Jangan sampai terluka lagi

Biarlah badai itu datang, asal jangan singgah
Usahakan segera enyah
Kalau bisa, sekalian sampai musnah
Jangan mau kalah

Selamat pagi, diri
Mari habiskan pahitnya kopi…

R.
(Jakarta, 4 Agustus 2016 – 22:00)

Rabu, 03 Agustus 2016

"SAAT 'SEMOGA' BERKISAH..."

Percayalah…
Siapa pun dirimu
sendiri atau di tengah kerumunan
mereka yang barangkali bisa kau sebut teman

Pasti ada…
Pasti ada yang kerap luput dari matamu
sepasang mata yang sesekali memandang dalam diam
menyimpan rahasia, berupa sebuah kekaguman…

…berharap akan satu kisah…
Tak perlu yang luar biasa
atau pakem bak mitos “bahagia selamanya”…

…cukup satu kisah
Semoga cukup indah…

R.
(Jakarta, 2 Agustus 2016 – 16:00)

Rabu, 20 Juli 2016

"MONSTER DI ANTARA MANUSIA"

Telah banyak monster di antara kita
Terlalu banyak, hingga semua tampak sama
tidak jauh beda dengan manusia
menyaru tingkah-laku, meniru suara hingga gaya bicara

Monster itu bisa begitu rupawan
kalahkan lelaki paling tampan
Makin samarlah hati dengan kelembutan
Kau akan terlena dan mati dalam satu ledakan

Yang mana mereka?
Bagaimana mengetahuinya?
Jangan mudah tertipu, wahai manusia...

...bahkan saat kau sendiri berkaca...

Yakin kau bukan salah satu dari mereka?

R.
(Jakarta, 7 Juli 2016 - 10:00)