Minggu, 24 Mei 2015

“BAHAGIA SAAT CARI KENALAN BARU...”

Saya ingin memulai tulisan ini dengan berterima kasih pada seorang kawan lama. Berawal dari percakapan singkat kami di salah satu social media, dia berkomentar: “Sepertinya akhir-akhir ini lo amat menikmati hidup lo. Lo kedengeran bahagia banget.”
            Benarkah? Darimana kawan saya tahu? Mungkin dari foto-foto saya yang di-tag teman-teman dan selalu ada wajah-wajah baru di sana, yang mengesankan saya sedang senang-senangnya cari kenalan baru. Mungkin juga dari suara saya di telepon.
            Atau mungkin juga dari betapa makin jarangnya saya curhat di social media berupa status soal pribadi, apalagi yang negatif. Bagi saya, lama-lama rasanya seperti buang-buang waktu dan tenaga. Untuk apa? Rasanya tidak perlu seluruh dunia tahu tentang saya.
            Merasa kesepian, namun sepertinya para sahabat sedang sibuk semua dan tidak bisa diajak ketemuan? Berarti saatnya cari kenalan baru. Kalau bingung, kita bisa mulai dari mendatangi dan nimbrung di komunitas hobi atau berisi orang-orang yang seminat dengan Anda. Ingat, banyak jalan menuju Roma (atau ke Negeri Cina, terserah pilihan Anda.)
            Itulah yang sering saya lakukan akhir-akhir ini: cari kenalan baru lewat komunitas menulis di sela-sela jadwal kerja. Apakah lantas ada persahabatan instan? Tidak juga. Semua perlu proses. Tidak bisa dipaksakan.
            Saya juga tidak sedang berusaha mengganti teman lama dengan yang baru. Jangan samakan mereka dengan baju. Setiap orang berbeda.
            Yang pasti, dulu saya tidak seperti ini. Dulu saya tidak begitu percaya diri. Baru-baru ini saja saya sudah mulai sedikit lebih terbuka, meski tidak lantas langsung cerita semuanya. Seperti biasa, saya belajar dari pengalaman. Tak seharusnya masa lalu dijadikan alasan untuk takut maju.
            Kita tak pernah tahu kemana hidup akan membawa kita. Maka itu, tidak ada cara menjalani hidup selain melangkah maju, kalau perlu tanpa terlalu sering menengok ke belakang. Ya, salah satunya dengan cari kenalan baru.

            R.


            (Jakarta, 22 Mei 2015 – 19:05)

Extreme - Rest In Peace

Rabu, 20 Mei 2015

"KISAH DAGING DAN ANJING"

Aku bak sebongkah daging
segar menggiurkan di matamu
Matamu melebar bak mata lapar si kucing
atau mungkin juga anjing
Yang mana persisnya, aku tak tahu

Lidahmu terjulur
menetes-neteskan air liur
Matamu liar dan terlalu jujur
Moralmu kehilangan tolak ukur
sementara aku hanya ingin kabur

Bisa jadi rapat aku terbungkus
namun kau tetap ingin mengendus
Ah, kau selalu salahkan naluri
yang alami, minta dimaklumi dan dikasihani
meski kerap menggelapkan nurani

Bila bagimu aku tak lebih dari sebongkah daging,
jangan-jangan kau memang seekor anjing!

R.

(Jakarta, 20 Mei 2015 – 16:50)

Selasa, 19 Mei 2015

"INDONESIA, BERHENTILAH MENODONG!"

Maaf, bukan bermaksud menuduh bahwa bangsa ini semuanya sama. Saya sendiri juga orang Indonesia dan sebisa mungkin berusaha untuk tidak melakukannya, meski dengan resiko dikatai “sok alim”, “nggak asik”, “terlalu baik”, hingga “merugi”.

            Mungkin banyak yang akan menjadikan budaya sebagai alasan, tapi apa gunanya dipertahankan bila berpotensi merusak hubungan pertemanan dan keluarga? Belum lagi dengan kemungkinan besar bahwa kita akan kembali mewariskan kebiasaan merugikan ini ke generasi berikutnya, yaitu meminta-minta. Ah, bosan. Kapan majunya kita?

            Saatnya berhenti menodong saudara / teman untuk saat-saat seperti ini:

            1.Saat mereka berulang tahun.
            Sampai pernah ada yang berkomentar: “Kalau di luar negeri, yang ultah malah ditraktir, dibanjiri hadiah, pokoknya dimanjain banget dalam sehari. Di sini? Yang ada malah dirampok ampe gak kira-kira! Boro-boro mereka kasih hadiah. Nodong traktiran pake maksa dan ngancem musuhan segala!” Nah, lho. Lain cerita kalau yang berulang tahun ikhlas mentraktir Anda, bahkan menawarkan duluan. Namun, tetap jangan jadikan itu kebiasaan. Bukan apa-apa, belum tentu teman selalu punya uang cukup untuk mentraktir Anda. Jangan sampai lama-lama teman akan menghindari Anda saat hari ulang tahun mereka, apalagi bila Anda terkenal memaksa dan menuduh mereka pelit dan nggak setia kawan karena permintaan Anda tidak dituruti. Lebih parah lagi bila Anda makin tak tahu diri dengan mendesak mereka agar mentraktir Anda di tempat yang mahal punya, sementara ultah mereka sialnya jatuh pas tanggal tua, dimana keuangan belum tentu memadai. Kasihan, ‘kan? Teman apa teman, sih? Hiiih...

            2.Saat mereka punya pacar baru.
            “Heeii, yang baru jadian! PJ-nya mana?” (PJ = Pajak Jadian!) Sering diminta begini saat ketahuan punya pacar baru? (Apalagi yang pakai pengumuman segala lewat FB dengan status ‘in a relationship’.) Bagaimana perasaan Anda?

            Seperti biasa, bila teman baru punya pacar, cukuplah ikut berbahagia dengan memberi mereka ucapan selamat. Sama seperti kasus di atas, kalau mereka mau merayakannya dengan memberi PJ alias traktiran – itu terserah mereka. Kalau tidak? Ya, lagi-lagi jangan memaksa – meskipun Anda sahabat terdekat sekali pun atau Anda ikut berjasa dalam menjodohkan teman dengan pacar barunya. Kalau sampai mengungkit-ungkit, bisa dipastikan teman akan berpikir dua kali meminta bantuan Anda – karena Anda ternyata memegang teguh prinsip ‘utang budi’ alias pamrih!

            3.Saat mereka mendapatkan gaji pertama.
            Baik sebagai first jobber atau karena pindah kerja, ada baiknya Anda berpikir ratusan kali untuk menodong teman dalam kasus ini. Tolong hargai teman yang sedang berusaha mendapatkan penghasilan untuk meningkatkan taraf hidup mereka, apalagi bila sebelumnya mereka sudah pernah berada dalam kesulitan finansial (misalnya: terlalu lama menganggur hingga harus bergantung sama orang lain, kehilangan pekerjaan karena di-PHK atau perusahaan sebelumnya gulung tikar, harus mengurus anggota keluarga yang sakit keras hingga membutuhkan banyak biaya, dan lain-lain.) Lagipula, bisa saja teman punya prioritas hidup lain yang jauh lebih penting dan mendesak, daripada sekedar mentraktir Anda hanya agar Anda tidak mempertanyakan kualitas pertemanan kalian. Jangan sampai nantinya mereka akan berhenti berbagi cerita dengan Anda, karena khawatir Anda hanya akan ‘menempeli’ mereka gara-gara sifat Anda yang ternyata aji mumpung dan mata duitan!

            4.Saat mereka ke luar kota atau negeri.
            Ini mungkin sudah banyak dibahas, dimana saat seseorang ketahuan mau ke luar kota atau negeri, semua orang – baik yang dekat maupun yang tidak – mendadak jadi ekstra ramah karena mau menitip: “Oleh-oleh!” Okelah, mungkin Anda memang sedang tidak sempat atau tidak selalu bisa bepergian. Tapi lihat-lihat juga situasi dan kondisi teman. Apakah mereka sibuk dan belum tentu sempat mencari oleh-oleh / titipan untuk Anda? Apakah Anda menyediakan uangnya, sepakat mengganti uangnya saat barang sudah diterima, atau hanya sekedar menodong dan menuntut agar dibelikan? Memangnya Anda mau tanggung-jawab saat teman terkena excess baggage (kelebihan muatan) di bandara dan harus membayar denda karenanya? Belum lagi kalau ternyata barang yang sudah didapat tidak sesuai bayangan Anda / tidak Anda sukai. Nah, lho! Pernah berpikir sampai ke situ, nggak?

            Untuk keempat contoh kasus di atas (atau mungkin ada beberapa contoh lainnya), kuncinya terletak pada keikhlasan, kemauan, dan kemampuan mereka untuk melakukan permintaan Anda – bahkan sebelum Anda todong. Jangan sampai mereka akan bertanya-tanya apakah Anda akan selalu ada bahkan saat mereka tak selalu punya uang!

            R.


            (Jakarta, 17 Mei 2015 – 16:00)

"KEPO"

Apa yang kau cari dari lamanku,
sampai kau ibarat pemburu?
Oh, aku enggan memuaskan obsesimu
akan banyak hal yang ingin kau tahu

Bisakah kita sama-sama sibuk
agar tak perlu mengorek yang buruk?
Masa lalu tak perlu kau keruk
Tak perlu membuat sesama saling terpuruk

Semoga kau segera temukan bahagia,
sementara aku tetap apa adanya
Kita mungkin masih dapat bertatap muka,
tanpa harus ada saling cela.

R.

(Jakarta, 18 Mei 2015 – 14:45)

Sabtu, 16 Mei 2015

Picture Perfect - Michael W. Smith

"BEBAS?"

Aku ingin bebas. Kamu juga? Ya, semua orang sama.
            Ya, setidaknya itu yang kita rasakan dari kecil. Bebas dari semua aturan yang membelenggu. Suka-suka. Kalau perlu, kita bebas bermain sepuasnya. Sampai lelah dan enggan bermain lagi kalau perlu.
            Kita ingin bebas. Kita berhak untuk bebas. Ya, kita seperti itu saat remaja. Bebas berkarya, berpendapat yang mulai tak sejalan dengan keinginan orang tua. Sayangnya, isi dompet kita juga masih dari mereka. Tinggallah ‘bebas’ sebagai keinginan tertunda. Tak ayal kita tak sabar ingin segera dewasa. Bebas berbuat sesukanya.
            Apakah kita telah bebas? Orang tua telah lama melepas kita. Isi dompet tak lagi dari mereka. Ya, kerja, kerja, dan kerja. Lagi-lagi bertemu aturan berbeda. Kamu suka? Ah, ya. Jawaban bisa apa saja. Suka tak suka, isi dompet masih dan sepertinya akan selalu berbicara. Jika cukup banyak, mungkin kebebasan dapat terbeli atau sekedar tersewa... meski belum tentu lama. Setelah itu? Saatnya kembali bekerja. Siapa tahu kita beruntung, berikutnya kita dapat kembali bebas... yang lagi-lagi terbeli dari hasil jerih-payah kita. Begitu dan begitu seterusnya. Belum lagi mereka yang sedang butuh bantuan kita untuk bebas. Bebas dari apa? Ya, dari apa saja – termasuk utang hingga sekedar perasaan tak berdaya.
            Social media telah diakui sebagai ‘surga’ – nya pencinta kebebasan. Bebas pamer kebanggaan, foto-foto dan video kesukaan, hingga berpendapat tentang apa saja. Suka-suka yang punya akun dan laman. Ada yang keberatan? Sah-sah saja. Toh, tidak semua bisa disenangkan. Siapa mereka yang berhak mengatur-atur kita? ‘Kan tinggal tidak usah membaca. Tidak semua perlu dilihat, dikomentari, apalagi hingga jadi beban pikiran.
            Bagaimana dengan dunia nyata? Sanggupkah kita sejujur di social media? Apakah semua pencitraan belaka? Belum lagi tuntutan hukum yang siap memancung kebebasan Anda yang – pada kenyataannya – kerap kebablasan.
            Bebas? Yakin kita benar-benar ‘bebas’? Ketahuan membunuh, kita bisa masuk penjara. (Ya, kecuali isi dompet yang lebih dari cukup untuk membeli kembali kebebasan kita.) Binatang membunuh sesama, spesies berbeda, atau manusia? Hanya insting belaka. Siapa yang mau memenjarakan mereka? Oh, ya. Manusia. Mereka berada di kebun binatang untuk dipamerkan ke seluruh dunia.
            Masih tidak percaya, kalau kebebasan itu ilusi belaka?

            R.

            (Jakarta, 14 Mei 2015 – 20:00 untuk The Couchsurfing Writers’ Club Gathering di Kopi Oey, Jalan Sabang. Topik: bebas / kebebasan.)