Tampilkan postingan dengan label #OPINI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #OPINI. Tampilkan semua postingan

Selasa, 20 Desember 2016

"2016 - Menulis dan Komunitas"

Apa arti 2016 bagi saya?
Banyak menulis dan ikut komunitas. Bahkan, bisa dibilang saya lagi getol-getolnya nemplok sana-sini, baik di dunia nyata maupun maya. Banyak ketemu wajah-wajah baru dan mengenal nama-nama baru.
Intinya, memperluas jaringan pertemanan…dan (semoga) bisnis. Saya masih baru di sini. Para freelancer (penulis dan blogger) yang sudah lebih dulu bergerilya di bidang ini telah menginspirasi dan membagikan tips kepada saya dengan amat murah hati. Tanpa mereka, mungkin saya masih clueless hingga kini.
Namanya juga belajar, perjalanan saya nggak bisa dibilang selalu mulus. Pernah gagal? Iya. Pernah mengecewakan orang? Sayang sekali juga demikian. Namun, saya memutuskan untuk tidak mudah patah arang dan menjadikan semuanya sebagai bahan pembelajaran. Bukankah pengalaman selalu guru terbaik?
Bisa dibilang, menulis adalah cinta sejati saya. Bahkan, saking cintanya, saya lebih senang menulis daripada mengobrol. Lagipula, menulis itu enak. Nggak akan ada yang dengan seenaknya memotong opini kita, berbeda dengan saat berbicara.
Lalu, bagaimana dengan hobi saya yang senang nemplok sana-sini, setiap ada komunitas yang membuat saya tertarik? Apalagi bila komunitas tersebut sesuai dengan minat saya.
Selain menyukai fiksi dan puisi, saya juga ingin menepis tuduhan miring yang pernah dilontarkan seseorang pada saya: saya nggak punya banyak teman, saya nggak bisa berteman, dan yang paling parah…saya terlalu tergantung sama satu teman. Agak konyol juga memang, mengingat sudah di kepala tiga, tapi masih juga mudah ‘termakan’ celaan orang yang nggak berdasar. Padahal, celaan itu keluar hanya karena orang itu kesal gara-gara saya nggak mau mengikuti maunya.
Ya, akhirnya saya berhasil membuktikan teori miring tersebut. Lagipula, saya juga bisa sendirian. Saya nggak melulu tergantung sama satu teman, meski mungkin dulu banyak yang melihat saya sering banget nongkrong sama satu teman tertentu. Ternyata saya bisa juga menambah teman, terutama karena saya yang memilih demikian. Saya memilih membuka pintu agar mereka semua bisa datang dan masuk ke dalam hidup saya. Ini sesuatu yang jarang sekali saya lakukan waktu remaja dan di awal usia 20-an.
Pada akhirnya, saya menyadari satu hal:
Saya melakukannya hanya untuk saya, bukan untuk membalas ucapan menyakitkan orang itu. Saya berhak bahagia. Meskipun mungkin orang yang sama akan tetap mencibir, menganggap bahwa semua orang itu juga belum tentu tulus mau berteman dengan saya, rasanya tidak masalah. Saya tidak peduli lagi. Selama niat saya baik dan tetap waspada, kenapa tidak? Kenapa harus selalu takut?
Kenapa harus (mudah) merasa bodoh bila ternyata saya melakukan kesalahan? Namanya juga belajar. Nggak ada yang berhak menuntut saya agar menjadi sempurna seperti versi mereka. Biarlah setiap manusia memperbaiki diri dengan cara dan kecepatan mereka masing-masing. Jangan kaburkan batas antara ‘peduli’ dengan ‘usil setengah mati’ lewat ucapan jahat. Nggak ada gunanya juga.
Makanya, saya sebisa mungkin nggak mau terlalu usil sama urusan pribadi orang lain. Cukup saling mengingatkan yang baik-baik, setelah itu terserah mereka.
Selalu membenci orang yang menyakiti kita memang selalu cara termudah. Mendoakan hal terburuk terjadi sama mereka juga bisa. Saya yakin banyak yang melakukannya. Saya dulu juga melakukan hal buruk tersebut.
Bila doa jelek kita terkabul, apakah kita lantas akan berbahagia karenanya? Senang di atas penderitaan orang lain, mungkin sama seperti orang yang pernah bahagia di atas penderitaan kita? Lalu, apa bedanya kita dengan mereka?
Bisa jadi, lama-lama kita akan semakin kesepian karena dijauhi banyak teman. Silakan menuduh mereka selalu enggan menerima kita apa adanya. Kenyataannya, bisa saja mereka khawatir bakalan kena giliran disumpahi bila gagal menerima target sempurna ‘sahabat sejati’ versi kita.
Tunggu sebentar. Benarkah kita sendiri sudah se-sempurna itu? Yakin?
Semoga semua yang pernah atau (sayangnya) masih hobi menyakiti orang lain dengan ucapan jahat (baik sengaja atau tidak) diberi kebahagiaan yang cukup. Ya, cukup banyak agar mereka tidak perlu lagi merasa harus menyakiti orang lain, hanya agar membuat diri mereka merasa lebih baik dan bahagia. Kasihan aja bila mentalitas mereka masih di situ-situ saja. Mandek dan nggak naik kelas.
Untuk menyambut tahun baru 2017, selamat berharap dan menggapai hal-hal terbaik untuk kita semua. Semoga berkah. Aamiin…
R.

Sabtu, 17 Desember 2016

"5 Orang Pintar Menurut Mata Awam Saya"

Entah kenapa kepikiran untuk menulis tentang ini. Mungkin karena sekarang sudah makin banyak contoh ‘ajaib’ seputar orang pintar (dari yang asli pintar sampai yang pintar kw sekian.)
Jadi, inilah mereka:
1. Orang yang (beneran) pintar.
Orang ini bisa kelihatan dari banyak sisi. Juara satu di kelas, juara umum di sekolah, atau IPK selalu di atas 3.5 selama kuliah? Yang pasti, lebih banyak prestasi nyata ketimbang sensasi belaka.
Enggak hanya itu, mereka juga jago menghibur orang, kreatif dalam mendesain karya seni, jagoan olahraga di lapangan, hingga…jago padu-padan dalam hal berpakaian dan dandan. (Nah, tolong jangan nganggep mereka dangkal dulu. Enggak semua orang punya selera fashion yang bagus, lho.)
Apa pun jenis kepintaran mereka, bakalan makin oke bila mereka rela ‘membagi’-nya dengan orang lain yang mau belajar, alias enggak disimpen sendiri. Selain itu, mereka juga pintarnya karena usaha, bukan cuma-cuma. Otak cerdas kalo enggak terus dimanfaatkan sama aja dengan otot lembek akibat jarang (atau malah enggak) olahraga. Ups! *langsung noyor diri sendiri*
2. Orang pintar yang (terlalu) bahagia dengan diri sendiri.
Nggak ada yang salah dengan jadi pintar, apalagi sampai berbahagia karenanya. Selain hidup terasa lebih mudah, yang hormat dan kagum sama kita juga banyak.
Jeleknya? Terlalu bahagia bisa menciptakan kesombongan. Berbagi kepintaran dengan orang lain beda dengan sekadar memamerkannya. Bukan kagum yang didapat, lama-lama malah muak yang melihat.
Haruskah kita membenci sosok macam ini? Menurut saya sih, biarin aja. Mungkin diam-diam mereka belum yakin kalau mereka pintar dan berharga, makanya masih cari-cari pengakuan dengan cara pamer ke mana-mana. Nggak apa-apa, itu hak mereka. Mau sebal, kasihan, atau peduli setan, itu juga hak Anda.
Merasa keganggu? Cuekin aja, selama mereka nggak secara langsung menyakiti Anda. Ya, asal mereka nggak sampai menjadi kategori nomor berikut ini:
3. Orang yang pintar menjatuhkan orang lain di depan umum.
Saya enggak sedang bicara soal adegan slapstick basi, di mana Karakter A sengaja menyandung Karakter B hingga jatuh, lalu ngakak sepuas-puasnya sementara si B mengaduh kesakitan. Untuk orang macam ini, mungkin ada yang akan memberikan pembelaan yang enggak kalah basi dengan adegan di atas:
“Wajar, namanya juga orang pintar.”
Oke, apa IQ di atas 140-sekian berarti legitimasi untuk menghina atau merendahkan orang? Hmm, kok jadi inget psikopat atau sosiopat di film-film thriller psikologi, yah?
Orang pintar yang masuk kategori ini harus hati-hati, apalagi bila dengan enaknya mereka mengatai korban mereka yang marah dengan sebutan “baper” (bawa perasaan). Mungkin mereka bakalan komen begini:
“Enggak usah baper gitu, deh! B ajah. Gue ‘kan cuma bercanda. Abis elo,,,(lemot/terlalu serius/terlalu sensi/dll.), sih.”
Kenapa mereka harus hati-hati? Selain kemungkinan bakalan disumpahin kejedot ampe gegar otak kronis sama korbannya atau disakiti oleh mereka yang mau balas dendam, tipe ini juga berisiko mengalami kemandekan. Karena merasa udah paling pintar daripada yang lain, biasanya mereka malah enggak terpacu untuk memperbaiki dan mengembangkan diri. Padahal, mendiang Steve Jobs aja pernah ngomong gini:
“Stay hungry. Stay foolish.” (Jangan cepat puas. Jangan merasa sudah pintar.)
4. Orang pintar yang enggan kelihatan pintar.
Jenis ini juga terbagi dua lagi. Yang pertama, mungkin mereka hanya ingin merendah. Mereka merasa nggak ada gunanya juga pamer ke mana-mana atau bahkan masih merasa kurang pintar. Jadi, lebih baik mereka diam-diam mengembangkan diri, sampai saatnya mereka sudah cukup pede untuk unjuk gigi.
Yang kedua justru jenis yang paling berbahaya, yaitu yang diam-diam karena punya ‘agenda terselubung’ atau modus. Biarin aja banyak orang yang menganggap mereka bego, nggak ngerti apa-apa, dan diam saja pas di-bully. Justru ‘penyamaran’ mereka semakin sempurna berkat anggapan miring orang-orang tersebut.
Jangan senang dulu bila Anda merasa di atas angin karena pernah merendahkan orang lain, karena bisa saja balasan dari mereka akan lebih mengerikan. Ya, karena diam-diam mereka telah merencanakannya dengan super matang, termasuk menghitung jumlah ‘dosa’ Anda selama menyakiti mereka.
Pokoknya, tipe ini juga termasuk kalem dan hati-hati dalam berucap hingga bertindak.
5. Orang pintar…dengan tanda kutip. (Baca: “pintar”.)
Ada yang berusaha kelihatan pintar dengan cara-cara ‘ajaib’. Mulai dari sengaja dandan super rapi kayak karakter nerd/kutu buku di film-film – lengkap dengan kaca mata (padahal mata mereka masih sehat-sehat saja.) Ada yang sengaja bawa buku-buku tebal ke mana-mana. (Perkara itu buku beneran dibaca dan dimengerti, urusan belakangan.)
Begitu pula saat berdiskusi atau berdebat dengan orang ini. Entah kenapa, mendadak ragam definisi maupun istilah canggih, alias ‘kelas berat’ kayak tesis anak S2 keluar semua dari mulut mereka. Jika Anda termasuk orang awam dan langsung minder mendengarnya, wajar saja. Mungkin mereka sedang berusaha kelihatan pintar, alias mengidap ‘superiority complex’. (Duh, saya kok jadi ikutan, ya?)
Yang menggelikan bila terbukti bahwa mereka sebenarnya enggak ngerti-ngerti amat dengan semua jargon tersebut…atau bahkan salah menempatkannya pada konteks percakapan. Waduh.
Untuk yang satu ini, enggak usah benci-benci amatlah sama mereka. Biasa aja. Kalau peduli, bisa kita kasih tahu baik-baik bahwa mereka enggak perlu sedemikian rupa hanya buat bikin kita terkesan. Kalau enggak, diamkan saja.
Ada juga yang “pintar” karena “pemberian lebih” berupa indera ketiga. Nah, ada yang menggunakannya dengan niat menolong orang lain, ada yang malah menyalahgunakannya untuk mengambil keuntungan dari orang lain. Apa pun itu, buat saya percaya sama Tuhan tetap harus nomor satu.
Apakah semua orang bisa pintar? Bisa, meski mungkin kadarnya berbeda dan keahlian yang mereka kuasai juga tidak sama. Namanya juga manusia. Pasti ada ragamnya, dong.
Tapi, jangan harap semuanya bisa didapat dengan cara instan. Kebetulan, saya jadi ingat karakter kekasih dr. Reid (Matthew Gray-Gubler), dr. Maeve Donovan (Beth Riesgraf) dalam serial favorit saya, “Criminal Minds”. (Awas, spoiler buat yang belum nonton episode ini!) Sebelum mati, Maeve sempet ngomong gini sama penjahatnya:
“Genious is hard work.” (Jenius itu hasil kerja keras.)
Orang pintar sih, banyak. Cuma, berapa yang benar-benar berkualitas hingga bermanfaat bagi orang lain, alias nggak cuma jadi bully yang tambah bikin keruh suasana?
Mau jadi orang pintar macam apa? Seperti biasa, selamat memilih dan bertanggung jawab.
R.

Jumat, 11 November 2016

"Tentang Pacaran dan #RelationshipGoals"

Sejak banyak yang meributkan si selebgram A atau B (berhubung sudah pada bisa nebak, saya nggak usah sebut nama, ya?), tagar #relationshipgoals kerap mampir di benak saya. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, artinya ya ‘tujuan dari sebuah hubungan / relationship’.
Sebenarnya apa sih, #relationshipgoals itu? Apa biar bisa sekadar posting foto-foto super mesra di IG, hanya biar bisa dilihat semua orang? Apa biar banyak yang iri dan sirik, karena melihat kita bisa bersanding dengan cowok paling ganteng atau cewek paling cantik?
Apa yang penting kita bisa bebas memamerkan pacar kita ke seluruh dunia, hanya untuk menunjukkan bahwa kita punya alias ‘laku’?
            Mungkin saya mulai terdengar sinis di sini. Mungkin ada juga yang menganggap saya diam-diam sirik karena saat ini sedang tidak punya pacar. Terserah sih, saya nggak peduli.
Sebenarnya, saya nggak gitu suka mendengar pertanyaan “Udah punya pacar, belum?” atau “Mana pacarnya?” Kalau yang nanya kebetulan cowok yang tertarik sama saya atau ingin mengenalkan saya dengan seseorang, masih nggak masalah. Kalau hanya basa-basi? Malas. Apalagi bila begitu tahu jawaban saya ‘belum’ atau ‘nggak ada’, ada yang menjadikannya bahan lelucon atau malah langsung mencari-cari ‘cacat’ penyebab saya hingga kini belum punya pacar. Begitulah bila yang ditanya perempuan, terutama yang sudah di atas usia 25. Entah (dianggap) kurang cantik-lah, perkara berat badan-lah, cara berpakaian, hingga karakter dan kepribadian. (Meski untuk dua yang terakhir sepakat, saya juga ogah ‘memukul rata’ semua lajang sebagai sosok dengan ‘masalah kepribadian’, karena ada saja tuh, sosok yang mungkin menurut Anda kelakuannya ‘enggak banget’ tapi bisa dapat pacar/pasangan.)
Tapi, lagi-lagi masyarakat suka labil dan nggak jelas. Nggak punya pacar, dibilang ‘nggak laku’ atau dituduh ‘kurang inisiatif mencari’. Giliran giat mencari, dikatain ‘desperate’ binti agresif.
Cowok punya pacar banyak (apalagi dalam waktu bersamaan, alias playboy) dianggap jagoan. (Entah gimana ceritanya kalau suatu saat dia berumah tangga dan punya anak perempuan.) Giliran cewek, langsung dikatain murahan.
Mungkin, karena itulah saya nggak begitu suka maupun peduli dengan konsep pacaran, terutama sekarang-sekarang ini. Capek juga denger mulut usil orang-orang. Buat saya, semua terserah keinginan dan keperluan masing-masing. Yang merasa perlu pacaran, silakan. Pilihan pribadi, tanggung jawab masing-masing. Nggak perlu saling usik, apalagi sampai mem-bully yang masih jomblo. (Jones = jomblo ngenes? Aduh, kok saya nggak ampe segitunya, ya?)
Yang masih jomblo juga biasa aja. Mungkin Anda memilih enggan pacaran karena ‘takut berzina’ atau ‘alasan-alasan lain’ yang hanya diketahui oleh Anda. Ya, nggak apa-apa. Nggak perlu mem-bully yang pacaran dengan sebutan ‘murahan’. Bisa kan, saling mengingatkan akan kebaikan tanpa harus pakai menghina segala? Sisanya ya, terserah mereka.
Jujur, saya lebih suka punya banyak teman, daripada satu pacar namun cemburuan dan hobi melarang-larang. Kalau pun ada celetukan soal tipe laki-laki idaman saat obrolan, nggak berarti lantas saya menutup diri dari yang di luar tipe itu. Asal sosok itu memperlakukan saya dengan hormat sebagai manusia setara, benar-benar sayang, setia, dan mau berjuang bersama untuk hidup yang lebih baik, kenapa enggak?
Jadi, apa #relationshipgoals saya? Sederhana, namun butuh perjalanan panjang dan usaha ekstra keras. Saat mereka bertanya tentang ‘si dia’-nya saya (siapa pun yang dikirim Tuhan nantinya), deskripsi saya tentangnya hanya satu:
“Dia juga sahabat saya…”
R.

Minggu, 30 Oktober 2016

#MyBodyMyPride: Ini Tubuhku. Kok Kalian yang Ribut?

Tumbuh sebagai sosok chubby, kriwil, dan pendek bukan perkara mudah. Apalagi, kakak perempuanku termasuk yang dianggap cantik gara-gara dia tinggi, langsing, dan berambut lurus serta panjang. Gara-gara fisik kami begitu berbeda, mulai deh, berbagai celaan keluar untukku. Dari yang masih bisa dicuekin hingga yang bikin bete plus sakit hati, ada semua.
Mereka cukup tega lho, membanding-bandingkan aku dan kakak secara terang-terangan. Menurut mereka, kakakku lebih cantik. Entah apa gunanya mereka ngomong gitu sama aku.
Akibatnya, sempat aku minder setengah mati dan enggan satu sekolah, kampus, maupun tempat kerja dengan kakakku sendiri. Memang jahat sih, kedengarannya. Habis, mulut mereka juga enggan diam, meski aku sebenarnya nggak suka cari masalah.
Lalu, bagaimana akhirnya aku menepis rasa minder itu, meski orang-orang bermulut usil dan jahat sayangnya akan selalu ada?
Pertama, aku masih punya banyak hal baik dalam hidupku. Pekerjaan bagus. Teman-teman baik dan suportif. Bersyukur sekali mereka bukan tipe yang berpikir dangkal dengan mempermasalahkan penampilanku. Mereka hanya rajin mengingatkanku agar jangan lupa menjaga kesehatan. Biasanya, yang hobi berkomentar jahat begini yang ogah aku jadikan teman:
“Gimana mo dapet cowok kalo nggak kurus-kurus?”
            Oke, saat menulis ini, aku memang masih single. Terus kenapa? Usaha menurunkan berat badan mah, untuk diri sendiri – bukan hanya menyenangkan orang lain. Aku malah seram kalau sampai jatuh cinta sama laki-laki yang hanya menilai perempuan dari fisik belaka.
Lagipula, ada juga kok, laki-laki yang suka model chubby kayak aku. Buktinya, salah seorang sahabat yang juga chubby sudah bersuamikan laki-laki yang baik sekali dan mereka sudah punya anak, lho. Aktor Iko Uwais juga termasuk suami yang baik, karena membela istrinya, Audy Item, saat dikatai gemuk sama netizen di media sosial.
Jadi, ngapain nakut-nakutin saya dengan ancaman ‘susah dapet jodoh karena badan gemuk’? Udah nggak zaman ah, mem-bully siapa pun dengan cara begitu. Lagipula, ada tiga (3) keuntungan yang kudapat karena gemuk, yaitu:
  1. Keponakan yang masih bayi cepat pulas saat kugendong.
Kata kakaknya yang juga masih kecil: “Habis Bibi empuk.” Hahaha.
  1. Jadi nggak cepat ‘gelap mata’ saat berbelanja pakaian.
Ya, habis mau gimana lagi? Nggak semua model cocok di aku juga.
  1. Nggak mudah diculik.
Haha, ini candaan yang sering kulontarkan setiap kali masih ada saja yang mengejek ekstra lemak di badanku. Ya, iyalah. Pasti penculik males juga ngangkut-ngangkut yang berat dan serba salah. Pas masih sadar, mereka bisa kena gampar. Pas dibius, yang mencoba mengangkat bisa tepar.
Nggak usah jauh-jauh menculik. Pas mau menceburkanku ke kolam renang dalam rangka ngerjain aku yang ultah, butuh enam orang laki-laki kuat untuk melakukannya. Hihihi…
Pada tahu Adele, Rebel Wilson, dan Melissa McCarthy, ‘kan? Mereka chubbynamun berprestasi. Mereka juga cantik tanpa perlu menonjolkan kecantikan mereka. Bagi saya, mereka adalah inspirasi. Meski demikian, aku masih kok, mau usaha menyehatkan badan. Cuma, aku merasa nggak perlu laporan ke siapa-siapa buat pembuktian.
Lagipula, ini badanku. Kok kalian yang ribut?
R.
(Tulisan ini juga disertakan untuk Lomba Menulis Vemale.com dengan Tema: #MyBodyMyPride)

Sabtu, 27 Agustus 2016

#StopTanyaKapan: Kawin/Nikah

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri…pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single, terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah: “Kapan nyusul?”

(Lanjutannya dapat dibaca di: http://ruangbenakruby.com/wp/2016/08/27/stoptanyakapan-kawinnikah/ )

Sabtu, 30 Juli 2016

"ANTARA MENULIS DAN SAYA"

Boleh dibilang, saya sudah gandrung dengan menulis dari kecil. Pokoknya, pelajaran Bahasa Indonesia dan Inggris menjadi favorit saya waktu sekolah. (Makanya, sekarang saya juga menjadi pengajar Bahasa Inggris dan penerjemah selain menulis.) Paling suka dapat kado berupa buku tulis atau buku harian. Apalagi kalau cover-nya lucu, warna-warni dan bergambar animasi...

(Selanjutnya dapat dibaca di:

http://ruangbenakruby.com/wp/2016/07/31/antara-menulis-dan-saya/ )

Rabu, 29 Juni 2016

"5 GEJALA UMUM KELELAHAN PSIKIS" (Menurut Awam)

Akui sajalah, banyak di antara kita yang pernah punya mimpi mustahil: menjadi manusia serba bisa, selalu kuat, dan tidak pernah gagal. Namanya juga manusia. Ya, tidak mungkin. Kadang beratnya tuntutan - baik dari pihak lain maupun diri sendiri - menyebabkan seseorang lama-lama mengalami kelelahan psikis. Lima (5) di antaranya adalah:
1.Pola tidur terganggu
Kadang susah tidur, namun begitu akhirnya bisa tidur malah jadi susah bangun. Mana mimpinya juga seram-seram lagi! Bangun tidur harusnya merasa segar (apalagi kalau tidurnya cukup lama, seperti sekitar enam sampai delapan jam.) Namun, yang ada malah pusing dan lebih lelah dari sebelumnya.
Saran: Banyak berdoa dan berpuasa untuk menenangkan diri. Absen dulu dari mengonsumsi kafein. Gantilah dengan chamomile atau peppermint tea. Matikan semua peralatan elektronik sebelum tidur.  
2.Kehilangan semangat
Mau kerja kok malas? Kegiatan yang biasanya terasa mudah dan menyenangkan, sekarang malah jadi susah dan membosankan. Lalu otak mulai berulah seperti Pentium-1.
Saran: Pasang musik penyemangat saat bekerja. Carilah teman yang dapat memotivasi Anda. Buatlah daftar hadiah/reward untuk diri sendiri setiap kali menyelesaikan tugas-tugas berat dalam seminggu atau selesai presentasi. Misalnya: memanjakan diri dengan terapi spa atau membeli makanan favorit yang agak mahal. (Tapi, ini sesuai selera masing-masing, ya.)
3.Kinerja menurun
Saran: Liburan! Anda bukan robot. Jangan menyiksa diri sendiri dengan mengabaikan kebutuhan untuk beristirahat.
4.Berubah menjadi sosok menyebalkan
Mendadak enggan mendengarkan curhat teman (apalagi bila problemnya seputar mereka ribut sama teman atau baru putus dengan pacar). Berubah tidak pedulian. Cenderung menjauh dari orang-orang alias berubah menjadi anti sosial. (Bukan autis, ya. Jangan salah dan jangan asal sebut!)
Saran: Termasuk salah satu dari kategori ini? Saatnya menikmati me-time sampai tenang. Kadang sendirian memang juga perlu, kok. Tidak hanya me-recharge energi, Anda juga lebih punya kesempatan untuk mendengarkan suara hati.
5.Akhirnya...jatuh sakit
Bisa dibilang, ini tahap akhir dari kelelahan psikis. (Jangan sampai ada nomor berikutnya, karena saya sendiri terlalu ngeri membayangkannya.) Fisik drop gara-gara selama ini Anda sudah termakan ilusi bahwa Anda manusia super.
Saran: Kalau bisa sih, lain kali jangan sampai menunggu hingga tahap ini. Bahkan, dari tahap awal saja seharusnya kita sudah waspada. Segeralah beristirahat. Konsultasi dengan dokter bila perlu. Jagalah kesehatan dengan kembali menerapkan pola makan yang baik dan berolahraga secara teratur.
Tentu saja, yang paling penting adalah menerima fakta bahwa Anda hanyalah manusia biasa. Anda tidak bisa mengendalikan semuanya.
Ya, Anda hanya bisa berusaha...
R.
(Jakarta, 26 Juni 2016 - 10:00)

Kamis, 23 Juni 2016

"UNTUK DUKA DI DALAM DIAM DAN SUSAH DI BALIK SENYAP..."

Seorang kawan yang lebih bijak pernah mengaku bahwa dia bukan tipe yang suka (terlalu) mengumbar masalah pribadinya di social media. Kalau pun akhirnya bercerita, biasanya dia hanya menunggu dulu sampai masalahnya benar-benar selesai. Itu pun bukan karena ingin minta dikasihani atau mencari simpati. Dia menjadikannya sebagai contoh kasus dalam kehidupan sehari-hari, dengan harapan pembaca akan terinspirasi dan dapat mengambil hikmah darinya. Tidak ada nama-nama yang disebut sebagai bagian dari peristiwa yang bersangkutan. (Iyalah, nggak etis juga. Salah-salah ada yang tidak suka, merasa difitnah, atau sakit hati karena merasa reputasinya dicoreng. UU ITE bisa dimanfaatkan secara maksimal, tuh. Tidak peduli siapa yang akhirnya terbukti bersalah, intinya tetap merepotkan.)
Masih menurut kawan saya, terlalu sering berkeluh-kesah di social media tidak ada gunanya. Selain terlihat sebagai tukang mengeluh dan kurang bersyukur akan karunia hidup, rasanya juga seperti menebar aib atau kelemahan diri sendiri hingga orang lain. (Boleh lho, kalau ada yang tidak sepakat.)
Makanya, kawan saya ini lebih memilih berpasrah pada Tuhan YME, baik saat sakit secara fisik maupun disakiti orang lain. Kawan ini percaya bahwa selalu akan ada akhir bahagia bagi para penyabar. Hebat sekali, bukan?
Eits, jangan lihat saya dulu. Jangankan nyaris, sedikit mendekati saja sepertinya belum. Bukannya mencari alasan atau tidak mencoba berusaha. Yang pasti, saya sepakat dengan kawan saya dalam satu hal:
Ada kalanya, dalam sebuah perdebatan (apalagi termasuk yang sengit), tidak masalah siapa yang benar dan salah. Menjelaskan satu perkara yang benar kepada pihak yang sedang dikuasai amarah sama saja dengan buang-buang waktu dan tenaga. Apalagi bila mereka hobi banget memotong ucapan lawan bicara, entah karena ingin selalu didengar, dianggap benar, atau yang paling bikin gegar...dua-duanya. Atau mungkin juga sadar bahwa mereka sebenarnya salah, namun masih terlalu gengsi hingga memutuskan untuk mati-matian membela harga diri. Pokoknya melelahkan setengah mati. Sampai mulut berbusa pun sama saja. Lebih baik diam dan menunggu situasi tenang sebelum langkah selanjutnya. Apa itu? Ya, terserah Anda. Mau kembali berusaha menyelesaikan masalah (meski belum tentu juga Anda yang memulai, apalagi salah), membiarkannya mengendap lama hingga ada penyelesaian (entah bagaimana dan kapan), atau tidak lagi menganggapnya sebagai masalah. Terserah bila pihak lawan bicara masih menganggapnya sebagai masalah, selama Anda tetap berusaha berbaik-baik dengan mereka. Kata teman saya yang lain, hidup sebegini singkat kok dibikin berat sama dendam kesumat? Sayang amat.
Mungkin saya sendiri juga sudah berubah cukup kejam bagi beberapa orang yang dulu pernah cukup dekat dengan saya. Jangan salah, ada masa di mana saya sendiri pernah amat membenci saya yang dulu (kata mereka, nih): cengeng (ini pernah ada yang bilang, bahkan kadang dengan seringai mengejek pula),tukang curhat nggak penting (yang celakanya sampai berulang dan yang mendengar membutuhkan terapi musik klasik untuk menghilangkan depresi sekunder, hihihi!), dan...ah, pokoknya semua hal yang kadang bikin saya sendiri sampai berpikir: "Para terapis jiwa itu hebat-hebat, ya? Giliran mereka curhat pada ke mana, ya?" Tidak hanya dibayar untuk menjadi 'tong sampah berjalan' bagi curhatan para klien, namun bonus point mereka adalah bila bisa membantu klien mengolah sampah mereka sendiri agar menjadi sesuatu yang "indah". Sampah beneran saja ada yang bisa didaur ulang jadi sesuatu yang berguna, berarti seharusnya masalah juga bisa begitu, dong?
Buat kupingnya yang sudah pernah mengalami 'kegendutan metaforis' akibat semua curhatan sampah saya, mohon maaf dan terima kasih telah dengan sabar meladeni saya yang kadang lebih mirip konsumen Prozac yang butuh dosis ekstra. Apakah kini saya sudah banyak berubah? Entahlah. Semoga itu pertanda baik, ya. Lagi-lagi saya hanya bisa berusaha.
Maafkan juga bila sekarang saya terkesan dingin dan tidak pedulian dalam menanggapi curhatan Anda seputar beberapa masalah ini: Anda tidak suka gaya berpakaian dan gaya ngomong si A, sentimen sama si B karena satu dan lain hal, hingga lagi musuhan sama si C, entah karena apa. (Bukan karena sekarang bulan puasa saja, tapi sepertinya untuk seterusnya.) Maaf, saya juga peduli dengan kewarasan saya. Jika si A, B, dan C tidak pernah bermasalah sama saya dan sebaliknya, tidak pantaslah berusaha bikin saya ikutan sebal atau marah sama mereka. Astaga, memangnya saya siapa? Belum tentu juga saya kenal-kenal amat sama mereka.
Saya juga mengagumi mereka yang cukup tegar untuk tidak terlalu mengumbar - atau bahkan tidak sama sekali - masalah pribadi mereka di social media. Padahal, bisa jadi masalah mereka jauh lebih berat daripada kita yang seringkali tanpa sadar kebiasaan curhat terbuka soal hal-hal yang lebih remeh, mulai dari slek sama rekan kerja, ribut sama pacar, ditolak idaman, hingga musuhan sama teman.
Bisa jadi mereka sedang menjadi korban kekerasan, baik secara berulang di rumah maupun di tempat lain. Bisa jadi mereka diam-diam memendam trauma...atau sedang dalam masa pemulihan yang tidak mudah.
Bisa jadi mereka juga sedang sakit...dan memilih untuk tidak bercerita pada siapa-siapa, bahkan mungkin Anda yang (merasa) cukup dekat dengan mereka.
Mungkin ada alasan yang takkan pernah Anda ketahui, saat akhirnya mendengar kabar mengejutkan: ternyata mereka telah berpulang. Kalau sudah begini, biasanya Anda hanya bisa berdoa agar arwah mereka tenang di alam sana...
R.
(Jakarta, 21 Juni 2016 - 13:00)

Jumat, 17 Juni 2016

"9 HAL YANG INGIN SAYA KATAKAN PADA SAYA VERSI REMAJA - ANDAI BISA"

Saya pernah membaca tajuk editorial sebuah majalah remaja, yang kalau tidak salah judulnya "Things I Would Tell My 20-Year-Old Self" (Hal-hal yang Ingin Saya Katakan pada Saya Versi Usia 20-an). Mungkin terdengar agak melodramatis, seperti daftar penyesalan atas yang pernah dilakukan (namun ternyata salah!) dengan yang tidak. Ada juga yang menyebutnya sebagai refleksi diri dan introspeksi.
Ada yang memutuskan untuk menyimpannya sendiri, ada yang membagikannya. (Ya, seperti yang saya lakukan sekarang.) Mungkin alasan tiap penulis berbeda. Mungkin ada yang berharap yang tidak akan mengalami hal yang sama.
Jadi, jika ada mesin waktu untuk kembali ke masa lalu, inilah 9 hal yang ingin saya katakan pada saya versi remaja:
  1. Mau kurusan atau gemukan, rambut kriwil atau lurus, akan selalu ada orang yang usil berkomentar tentang fisikmu. Memang menjengkelkan sekali, sih. Mendingan tetap berusaha sehat dan bahagia. Lagipula, berat badan dan penampilan luarmu harusnya bukan urusan mereka atau siapa-siapa.
  2. School system sucks, but you still have to study every subject anyway. Memang, rasanya tidak adil bila kecerdasan seorang murid semata-mata hanya diukur dari nilai (meskipun banyak yang memperolehnya dengan cara menyontek!) Keuntungan jangka panjang dari nilai-nilai tinggi memang bisa mengantarkanmu mendapatkan beasiswa (apalagi ke luar negeri), namun selamat - kamu sudah sadar bahwa tidak menjadi murid sempurna bukanlah akhir dunia.
  3. Sering dibanding-bandingkan dengan kakakmu? Suka-suka mereka kalau begitu. Sampai mati pun, kalian akan selalu menjadi dua orang yang berbeda, meski berasal dari orang tua yang sama. Jadi, ngapain pula buang-buang waktu dan tenaga memikirkan ocehan mereka?
  4. Suka menulis? Bagus. Teruskanlah. Suatu saat nanti ini akan menjadi salah satu kegiatan penghasil uang yang paling kamu cintai, meski saat ini banyak yang menganggapnya hanya sebagai hobi - dengan masa depan yang diragukan sekali.
  5. Banyak yang menyamakan legitimasi kecantikan seorang perempuan dengan hadirnya sosok pacar, bahkan kalau perlu daftar deretan pacar yang panjangnya melebihi ular naga dalam lagu anak-anak. Guess what? Langkahmu sudah benar dengan tidak menjadikan 'pacar' sebagai satu-satunya tujuan hidupmu agar merasa cantik dan bahagia. Masih banyak hal baik lainnya yang dapat kamu lakukan di dunia ini. Kamu berhak bersama sosok yang selalu menghargai dan menyayangimu apa adanya, bukan yang selalu menuntutmu agar sesuai standar mereka. Toh, mereka juga tidak sempurna. Kamu berkembang sesuai lajumu sendiri. Orang lain masih berpikir begitu, kamu tidak usah ikutan dangkal.
  6. Belajarlah untuk bilang 'TIDAK', karena kamu tidak perlu - dan tidak akan bisa - selalu menyenangkan semua orang di dunia ini. Hal ini akan sangat berguna saat ada laki-laki yang memintamu melakukan hal yang tidak kamu inginkan, apa pun itu. Tidak usah takut ditinggal. Jangan pernah mau kompromi sama orang brengsek yang hanya mau enaknya sendiri.
  7. Tuhan dulu sebelum yang lainnya. Tidak akan mudah, karena akan selalu ada banyak godaan. Jangan menyerah, ya?
  8. Kamu galak dan pemarah? Jadikan dua hal tersebut sebagai senjata untuk melindungi dirimu, bukan alasan untuk menyakiti orang lain - apalagi hanya untuk membalas mereka.
  9. Kamu hanya punya waktu sebanyak tiga dekade dan tiga tahun untuk mengenal ayahmu. Manfaatkanlah.

R.

Kamis, 09 Juni 2016

"SAAT BERDUKA, SAAT BERANJAK"

(Awas, spoiler buat yang belum nonton serial “Criminal Minds” seputar season 8 -9!)
            Mendadak saya teringat beberapa episode dari serial favorit saya, “Criminal Minds”. Salah satu karakter utama yang sangat saya sukai, dr.Spencer Reid (yang diperankan oleh aktor Matthew Gray Gubler), kehilangan kekasihnya, Maeve. Seorang psikopat membunuh gadis itu tepat di depan matanya, semata akibat sakit hati, rasa iri, dan dendam.
            Tentu saja, trauma akibat peristiwa senaas itu tidak bisa sembuh hanya dalam semalam. Bahkan, setelah Reid sempat cuti cukup lama, perasaan itu masih saja menghantuinya. Sampai-sampai dalam  salah satu episode, dia sempat bertanya pada David Rossi, rekan seniornya di B.A.U. (Behavioural Analysis Unit) di FBI, Quantico:
            “Jadi aku harus apa setelah melewati batas masa berduka yang sesuai kebanyakan orang?”
            Pertanyaan bagus.
            Kebanyakan orang mungkin hanya akan berkomentar: “Sudahlah, move on saja. Hidup terlalu singkat untuk dipakai berduka terus.” Gampang saja, seperti mengganti pakaian atau membeli ponsel baru saat uang sudah ada.
            Memang ada benarnya juga, sih. Tapi, kenyataannya tidak semua bisa dipukul dengan sedemikian rata. Kasusnya beda-beda, begitu pula cara tiap orang berduka. Jangan samakan Anda yang sedih diputuskan pacar karena beda prinsip dengan teman yang bercerai karena salah satu berkhianat, atau kehilangan anggota keluarga karena musibah. Ya, apalagi kalau sudah menyangkut kematian. Memang, kita semua pasti sudah pernah kehilangan seseorang dan tidak ada yang bisa menghindarinya.
            Namun, bagaimana cara menghibur seseorang yang pernah kehilangan sosok tercinta karena peristiwa tragis, seperti kecelakaan, pembunuhan, bunuh diri, hingga kematian mendadak, sementara Anda sendiri belum pernah mengalaminya? (Semoga tidak, ya.) Akankah Anda dengan entengnya menyarankan atau meminta mereka agar segera move on, terutama bila menurut Anda mereka sudah terlalu lama berduka?
            Benarkah?
“Jadi aku harus apa setelah melewati batas masa berduka yang sesuai kebanyakan orang?”
Jawaban Rossi? Tidak ada, kecuali tatapan sedih dalam diam.
Ya, kadang diam dan mendengarkan adalah ekspresi peduli paling tulus, meski mungkin Anda sudah punya jutaan nasihat di kepala yang siap Anda muntahkan untuk mereka kapan saja. Kita tidak bisa selalu memahami, meski peduli. Kadang kita hanya bisa berdoa agar mereka cukup tangguh untuk melalui semuanya.
Ada saat berduka, ada saat beranjak. Lagi-lagi, rentang waktunya berbeda bagi setiap manusia...

R.

(Jakarta, 8 Juni 2016 – 22:15)



Senin, 06 Juni 2016

“’PROGRAM DIET’ DAN PUASA SI GEMPAL”

Entah kenapa, masih saja ada yang menyamakan puasa dengan...program diet. Mungkin gara-gara waktu sarapan jadi bergeser lebih dini (alias mulai pukul tiga atau empat pagi hingga sebelum masuk waktu Subuh, atau disebut juga dengan ‘sahur’.) Lalu, tidak ada makan siang. (Ya, iyalah. Namanya juga orang berpuasa.)

            Waktu berbuka puasa jatuh saat azan Magrib (yang biasanya sekitar pukul enam sorean.) Biasanya, setelah ibadah shalat Magrib, barulah ada waktu makan malam.

            Terserah sih, kalau ada yang ingin menganggap waktu berpuasa sama saja dengan berdiet. Yang mengganggu paling saat mereka lantas melontarkan komentar asal (mungkin maksudnya lagi-lagi ‘hanya bercanda’) kepada sosok-sosok gempal yang mereka kenal yang kebetulan juga menjalani ibadah puasa:

            “Wah, kamu bisa sekalian diet, dong!”

            Sebentar. Apa? Diet?? Tidak hanya itu, komentar ‘asal’ berikutnya saat si gempal makan sahur dan berbuka puasa – terutama saat acara berbuka puasa bersama keluarga atau teman:

            “Udah, jangan banyak-banyak. Ntar percuma udah puasa, nggak kurus-kurus juga.”

            Sampai sini, masih belum selesai juga. Saat ketemu di acara halal bi halal keluarga untuk merayakan Lebaran, masih keluar juga pertanyaan (atau lebih tepatnya, komentar) semacam ini:

            “Hei, gimana puasanya? Udah turun berapa kilo?”

            “Masih/tambah gemuk aja. Kemaren gimana puasanya? Lancar, gak? Kok nggak turun juga beratnya?”

            Ya, sampai di sini, saya mau menarik napas panjang dulu sambil berzikir...biar tidak meledak membayangkannya. Bisa berkurang pahala puasa saya kalau sampai marah. Lagipula, percuma juga kalau pakai acara keki. Mending saya jelaskan pelan-pelan dan baik-baik di sini.

            Buat yang masih suka asal komentar seperti contoh-contoh di atas, saatnya ganti cara untuk mengakrabkan diri dengan teman/saudara yang kebetulan punya ekstra lemak di badan. Mengapa demikian? Tiga (3) alasan di bawah ini mungkin cukup masuk akal di benak Anda:
  1. Sudah banyak sekali yang bilang bukan, bahwa puasa bukan hanya perkara menahan lapar dan haus? Lisan juga termasuk, lho. Komentar asal berpotensi mengganggu konsentrasi mereka yang niatnya memang hanya untuk beribadah – bukan sekedar menurunkan berat badan seperti perkiraan Anda. Daripada hanya bisa menyuruh mereka berdiet agar mengurangi kelebihan lemak, bagaimana bila Anda sendiri juga ‘diet bicara’, alias berkomentar seperlunya untuk mengurangi ucapan yang tidak penting serta kemungkinan bikin kesal orang lain?
  2.  Ada beda antara mengingatkan dengan mencela. Daripada menyinggung-nyinggung soal berat badan mereka, mendingan cukup mengingatkan dengan ucapan seperti ini: “Jangan keasyikan makan, nanti waktu shalat kelewatan” atau “Jangan sampai kebanyakan makan, nanti pas sujudnya nggak enak.”
  3.  Tidak hanya pertanyaan kapan kawin hingga kapan punya anak atau kapan menambah anak lagi, komentar “Kok nggak kurus-kurus juga?” atau pertanyaan “Sudah turun berapa kilo selama puasa?” juga sama mengganggunya. Padahal, kalau dipikir-pikir lagi, nilai ibadah ‘kan, tidak dilihat dari berapa kilogram yang sukses Anda singkirkan dari tubuh. Lagipula, untuk apa mereka harus laporan sama Anda segala? Kecuali kebetulan Anda juga berprofesi sebagai ahli nutrisi yang sedang mereka bayar untuk konsultasi.


Coba deh, mulai puasa tahun ini, komentar-komentar asal semacam itu dikurangi. Ada kalanya diam memang jauh lebih baik daripada membuka mulut namun akhirnya malah bikin keki.

R.