Tampilkan postingan dengan label #LIPUTANKHUSUS. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #LIPUTANKHUSUS. Tampilkan semua postingan

Jumat, 02 September 2016

"Menambah Keberuntungan Diri dengan 'The Luck Factor' "

Oke, sebenarnya saya sudah lama ingin segera menulis hasil liputan saya bersama tim BRID  (Blogger Reporter Indonesia) pada tanggal 6 Agustus 2016 pukul 9:00 WIB kemarin. Namun, karena kesibukan yang super padat akhir-akhir ini, saya baru sempat menuliskannya. Maaf, ya.

(Selanjutnya dapat dibaca di:

http://ruangbenakruby.com/wp/2016/09/02/menambah-keberuntungan-diri-dengan-the-luck-factor/)

Sabtu, 27 Agustus 2016

#StopTanyaKapan: Kawin/Nikah

Nggak di acara keluarga, reuni teman-teman lama, sampai kadang sahabat sendiri…pasti ada saja yang suka nanya begitu. Apalagi bila sahabat yang tadinya sama-sama single, terus habis nikah langsung ikut-ikutan nanya. Variasi lain dari pertanyaan yang sama adalah: “Kapan nyusul?”

(Lanjutannya dapat dibaca di: http://ruangbenakruby.com/wp/2016/08/27/stoptanyakapan-kawinnikah/ )

Minggu, 15 Mei 2016

"SEHARIAN PENUH DI JAKARTA BARAT..."

Mungkin kalau ada yang bilang saya urang jalan-jalan dan kurang hiburan ada benarnya juga. Sekalinya jalan-jalan seharian penuh (di daerah yang tidak familiar pula), pulangnya langsung tepar.
Kamis itu (12 Mei 2016) diawali dengan memberi les privat di suatu perumahan di Jakarta Barat. Berhubung belum pernah tahu tempatnya, saya sengaja berangkat sepagi mungkin. Untunglah, ternyata itu keputusan yang tepat. Sempat berputar-putar (termasuk nyasar!) selama dua jam sebelum akhirnya tiba juga di tujuan.
Setelah selesai, iseng-iseng saya mampir ke Bentara Budaya Jakarta pada malam harinya. Untuk apa? Seorang kawan memberitahu bahwa Six Strings (yang terdiri dari Baim, Baron, Tohpati, Dewa Budjana-nya 'Gigi', dan Eros Chandra-nya 'Sheila On 7/SO7') tampil malam itu. Saya yang sudah cukup lama tidak begitu mengikuti perkembangan musik penasaran. Lumayan, hiburan gratis. Apalagi, kebetulan saya juga suka musik rock.
Jadi, bagaimana penampilan mereka malam itu? Saya sangat menyukainya. Lucu sekali melihat gaya mereka berduet, berkolaborasi, hingga terkesan adu keahlian bermain gitar - namun masih dengan aura persahabatan yang hangat. Mereka bahkan sesekali saling menjahili sesama dan melempar guyonan kepada penonton hingga banyak yang tertawa. Yang paling ramai mungkin saat Baim dan Eros berduet memainkan lagu "Dan" milik 'SO7' dan saat Six Strings bersama-sama membawakan lagu "Bendera" yang populer dinyanyikan 'Cokelat'. (Tentu saja, Eros juga yang menulis liriknya.)
Hmm, kira-kira apa ya, acara untuk Kamis malam berikutnya?
R.
(Jakarta, 13 Mei 2016 - 19:00)


Rabu, 04 Mei 2016

"DI BALIK PERINGATAN 'JANGAN-JANGAN'..."

"Jangan-jangan..."
Aku sudah terlalu familiar dengan ucapan itu, berikut dengan nada suara yang penuh rasa curiga dan was-was. Kadang nyaris mendekati paranoia.
Dan kata mereka, akulah yang berlebihan. Akulah yang terlalu khawatir, seperti biasa.
Jangan-jangan itu suara hantu. Jangan-jangan kamu mau sakit.
Sejak kecil, aku sudah dikenalkan dengan ekspresi itu. Aku tahu, aku bukan satu-satunya. Banyak anak lain yang mengalaminya. Namun, tak semua sama. Mungkin ada yang lebih santai menanggapinya. Ada juga yang sepertiku, (dianggap kelewat) waspada. Bagaimana, sih? Kata mereka, aku harus selalu hati-hati, wajib waspada. Kalau sampai terjadi apa-apa denganku, nanti bisa repot jadinya. Lebih parah lagi, kemungkinan setelah 'jangan-jangan' yang gagal sebagai peringatan, berikutnya yang keluar adalah:
"Kamu sih, udah dibilang jangan masih nekat juga."
Salah tidak sih, kalau penyebab ucapan 'jangan-jangan' sering tidak dihiraukan ya, gara-gara tidak ada penjelasan, alasan di balik suatu larangan atau peringatan? Yang paling sulit tentu adalah saat berurusan dengan sesama manusia. Ya, tahu sendiri hati mereka suka mudah berubah.
"Hati-hati, jangan-jangan dia bajingan. Jangan-jangan kamu hanya dijadikan mainan."
Bersyukurlah bagi mereka yang berinsting kuat. Meski kadang kecemasan atau kecurigaan mereka tidak terbukti, yang penting diri sendiri aman - tidak tersakiti. Memang, tidak semua harus tergantung logika untuk hal ini.
Namun, ada kalanya manusia ingin sekali menikmati meski satu hari saja, tanpa kekhawatiran yang diawali dengan "Jangan-jangan..."
Saya yakin, saya bukan satu-satunya...
R.
(Jakarta, 1 April 2016 - untuk Tantangan Menulis Jakarta's Couchsurfing Writers' Club. Tema: "Jangan-jangan".)

Jumat, 11 Maret 2016

"HARI PEREMPUAN INTERNASIONAL: MEREBUT MALAM KEMBALI DI TAMAN SUROPATI"

Ada yang bilang 'malam' dan 'perempuan' bukan gabungan yang terdengar enak di telinga. Mendengar sebutan 'perempuan malam', pasti yang muncul di kepala adalah 'perempuan tuna susila' / PSK (penjaja seks komersial) - meski saya lebih suka menyebutnya 'PEDILA' (perempuan yang dilacurkan). Pokoknya semua yang dianggap hina dari seorang perempuan yang suka keluar malam.
Masih ada juga sebutan-sebutan lain yang tak kalah negatif, seperti: perempuan gila pesta, pencinta hedonisme, nakal, penggoda, dan sebangsanya. Pokoknya, menurut masyarakat patriarki, 'perempuan baik-baik' itu perempuan yang tidak suka keluar malam, tidak pernah keluar malam, dan kalau bisa selalu di rumah saja. Sekian.
Alasannya? Yang paling populer: 'keamanan'. Sisanya sih, lebih banyak stigma sosial. Menurut mereka, perempuan yang suka keluar malam pasti dan selalu memancing kejahatan. Namun, apa iya selalu demikian?
Inilah yang menjadi topik diskusi pencerahan dalam acara "Hari Perempuan Internasional: Merebut Malam Kembali" di Taman Suropati pada 8 Maret kemarin, pukul tujuh malam. Acara yang berakhir pada pukul sepuluh ini juga berisi pembacaan puisi, menyanyi bersama, dan pastinya saling berbagi cerita.
"Di kampung saya masih saja ada paham bahwa perempuan yang keluar malam pasti bakal hamil," cerita Tyas, salah satu peserta diskusi. "Padahal, kita semua tahu bahwa tidak mungkin malam bikin hamil perempuan. Lagipula, ibu saya juga jualan makanan di stasiun pada malam hari. Kalo nggak gitu, kita pada nggak makan, dong."
Masih banyak lagi cerita sejenis. Meski termasuk perempuan yang hanya keluar malam bila benar-benar diperlukan, saya termasuk salah satu penentang stigma sosial yang terlanjur mengakar menyesatkan. Stigma tersebut seakan memberi alasan bagi para lelaki di luar sana untuk menyerang perempuan yang kebetulan sedang di luar rumah sendirian pada malam hari. Saking muaknya, sering kali saya berharap yang mereka kira 'perempuan manusia tulen' yang hendak dijadikan sasaran niat bejat mereka ternyata 'mahluk gaib', hehehe... (Maklumi fantasi jahat saya.)
Ada perempuan yang terpaksa bekerja malam, ada yang memang menyenanginya - dan itu tidak berarti mereka termasuk penjaja seks komersial. Coba, mau nggak kalau semua lelaki yang suka keluyuran di malam hari dicap bajingan yang mudah 'horny' saat melihat perempuan lewat - apa pun yang mereka kenakan atau saat mereka sedang sendirian? Nggak mau, 'kan? Ngakunya mahluk yang lebih memakai logika, bukan?
Bila faktor 'keamanan' yang jadi alasan, bagaimana dengan mereka yang jadi korban kejahatan - justru di siang bolong dan pas di tempat ramai pula? Bagaimana dengan mereka yang jadi korban perampokan saat mereka masih tidur di dalam rumah? Bagaimana dengan mereka yang justru malah jadi korban kekerasan di rumah mereka sendiri, setiap hari pula?
Jangan salahkan malam. Jangan bisanya selalu hanya menyalahkan perempuan. Salahkanlah sosok-sosok di luar sana yang masih mengaku manusia, namun tidak manusiawi karena merampas rasa aman dan nyaman yang harusnya menjadi hak asasi semua manusia - baik lelaki, perempuan, anak-anak, tua, dan muda - di mana pun mereka berada. Termasuk perempuan yang suka keluar malam, apa pun urusan pribadi mereka.
Lagipula, kata siapa harus menunggu malam untuk berbuat asusila atau kejahatan? Semua tergantung niat masing-masing manusianya. Bukankah harusnya bumi ini milik bersama?
R.
(Jakarta, 9 Maret 2016 - 11:00)

Kamis, 28 Januari 2016

"DI BALIK MENGHENINGKAN CIPTA DI SARINAH-THAMRIN..."

Memang beda antara jurnalis profesional dengan blogger amatiran seperti saya. Niatnya ingin datang tepat waktu, mengamati sekeliling, hingga mungkin foto-foto serta mewawancarai narasumber terkait acara mengheningkan cipta untuk korban bom Sarinah - Thamrin yang diadakan pada Jumat, 15 Januari 2016, pukul empat sore.
Acaranya di lokasi bekas ledakan dan sekitarnya, namun saya terlambat lima menit karena satu dan lain hal. Celakanya, baterai HP saya habis dan tidak sempat recharge. Tidak bawa kamera foto juga karena memang belum punya.
Intinya, persiapan saya untuk menulis soal ini benar-benar PAYAH. Kalau saya jurnalis beneran, mungkin sudah dipecat.
Jadinya, saya hanya berputar-putar di tengah keramaian yang mayoritas berbaju putih. Banyak juga kalangan media yang meliput acara tersebut, baik dalam maupun luar negeri.
Berhubung demikian, saya tidak akan menceritakan hal yang sama. Ada spanduk #KamiTidakTakut dan #WeAreNotAfraid berwarna merah. Ada pembagian kembang mawar putih dan acara doa bersama di depan gerbang tempat pemboman terjadi. Ada juga orasi bergiliran dari tokoh-tokoh terkenal serta pekikan "Kami tidak takut!" yang diserukan berkali-kali.
Saya juga tidak akan menutup mata bahwa di tengah-tengah orasi, banyak yang lebih memilih foto selfie. Tidak salah sih, selama masih ingat tujuan utama acara tersebut dan tidak kehilangan makna - alias sekadar hura-hura. Tiap beberapa menit sekali, ada saja yang meminta tolong saya untuk memotret mereka, lengkap dengan latar kerumunan serta spanduk di tangan.
Terlepas dari semua itu, mungkin wajah-wajah ceria sore itu dapat memberi harapan dan suntikan keberanian.
"Kira-kira apa yang coba mereka sampaikan melalui kegiatan ini?" tanya seorang jurnalis dari salah satu media yang kebetulan meminta waktu saya untuk wawancara narasumber orang awam. Berhubung awam, saya hanya bisa mengira-ngira:
"Di sini kami berkumpul tidak hanya sebagai warga kota dan anak bangsa, namun juga sesama manusia dalam memerangi terorisme. Teroris adalah pengecut yang merusak nama agama lewat kekerasan."
Damai Jakarta-ku, damai negeriku. Semoga tiada lagi kekerasan dalam bentuk apa pun, karena perdamaian ini terlalu berharga untuk dirusak dengan sedemikian rupa...
R.
(Jakarta, 18 Januari 2016 - 17:20)


Rabu, 23 Desember 2015

#CSW-CLUB DIARIES: STEREOTYPING"

Takkan ada habisnya bila kita membahas 'stereotyping'. Mulai dari yang berkaitan dengan gender, pakaian khas seseorang, penampilan luar, gaya hidup, agama yang dianut, kelas sosial, level pendidikan, latar belakang keluarga dan lingkungan sosial, asal-usul, dan masih banyak lagi. Manusia selalu punya pendapat akan segala sesuatu, tak peduli selalu benar atau tidak. Bisa jadi daftarnya melebihi umur mereka sendiri.
Ada yang bilang, 'stereotyping' adalah bagian dari mekanisme rasa aman (dan mungkin juga nyaman) ciptaan pikiran manusia setelah meneliti beberapa contoh sosok sejenis dengan karakter serupa di luar sana. Bukankah kita selalu paling ahli dalam hal-hal yang kita (rasa) sudah ketahui? Misalnya pakem a la Hollywood, dimana cewek pirang dan seksi pasti bodoh dan cowok berkaca mata pasti kutu buku dan cupu dalam pergaulan sosial.
Ngomong-ngomong soal pergaulan sosial, dalam kelas sosial juga begitu. Si kaya pasti sombong dan selalu mudah mendapatkan segalanya, kadang tanpa perlu banyak usaha - tinggal menyodorkan uang. Si miskin pasti pemalas. Perkara agama apalagi, terutama setelah 9/11 dan penembakan di Australia dan Prancis. Banyak yang saling menuding, seperti orang beragama (apalagi yang termasuk taat) pasti kaku, konservatif, tidak toleran dengan perbedaan, serta tidak berpikiran terbuka. Sementara orang yang memilih menjadi agnostik atau atheis sekalian pasti bejad, kelakuannya minus semua, dan tidak punya moral yang lebih baik daripada mereka yang beragama.
Ada pengakuan seorang aktivis kesehatan yang pernah memegang posisi penting dalam pemerintahan. Pendekatannya dalam pencegahan penularan HIV/AIDS melalui akses kesehatan dan pembagian kontrasepsi gratis dianggap buang-buang waktu dan biaya saja, karena mereka masih beranggapan bahwa orang Indonesia semuanya baik-baik, beragama, dan tidak mungkin berbuat amoral.
Ya, ya, ya.
Apa pun latar penyebabnya, 'stereotyping' lebih banyak merugikan - baik bagi pelaku maupun target. Pelaku jadi enggan berpikir, enggan membuka hati, dan selalu merasa paling benar sendiri - karena merasa sudah mengetahui segalanya. Mereka jadi kehilangan kesempatan untuk mengenal orang-orang yang mungkin berbeda sekali dengan mereka, namun bukan berarti lebih buruk. Sekali lihat langsung mengecap: "Ah, pasti mereka semua sama saja!" Yang beda mereka anggap ancaman. Pola pikir mereka juga lebih mudah didikte oleh media yang bias. Korban cuci otak yang sempurna.
Untuk korban stereotipe? Mereka jadi sasaran penghakiman dan kebencian orang-orang yang tidak kenal mereka dan sebaliknya. Padahal, belum tentu juga mereka mengganggu siapa-siapa. Sama halnya dengan perempuan berbusana terbuka yang dianggap pelacur sehingga pantas dilecehkan - atau perempuan berjilbab yang disangka teroris atau pasti paling alim se-umat.
Ya, seperti inilah wajah dunia - terutama akhir-akhir ini...
R.
 
(Jakarta, 19/12/2015 – 8:15. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 17 Desember 2015, pukul 20:00 di Black Canyon Coffee - Cikini. Tema: “Stereotyping”.)

Jumat, 11 Desember 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "OLAH RAGA"

Siapa yang suka olah raga? Jangan bilang hanya para atlit. Tidak semua penyuka olah raga bercita-cita menjadi atlit. Ada yang sekedar ingin sehat. Ada yang menganggap olah raga permainan menyenangkan.
Ada juga yang melakukannya sekedar untuk keren-kerenan. Mengikuti trend menjadi salah satu cirinya. Lagi trend zumba, ikut zumba. Yang lain lagi coba yoga, mereka tidak mau ketinggalan. Tidak salah sih, asal tidak jadi kebiasaan.
Ada juga yang berolah raga agar langsing, bahkan kalau bisa kurus sekalian. Ini termasuk alasan paling populer, terutama dari kalangan perempuan yang (merasa) kelebihan berat badan. Tahu sendiri 'kan, masyarakat seperti apa?
Pilihan olah raga beragam, tergantung kecocokan yang dirasakan tiap orang. Karena itulah, seorang teman pernah mengalami ketidakadilan dalam mata pelajaran Pendidikan Kesehatan Jasmani (nama lain dari pelajaran olah raga) di sekolahnya dulu. Bayangkan, masa nilai tertinggi baru bisa didapat dari seberapa cepat seorang murid berlari? 'Kan tidak adil!
Ada juga yang sering dibuat kesal dengan olah raga. Pasalnya, badannya yang tambun membuat banyak orang menyuruhnya olah raga. Giliran baru mulai lari keliling kompleks, ada saja yang kurang kerjaan dengan berkomentar:
"Mau kurus nih, yeee!"
"Bum...bum...bum..." (Meniru bunyi benda berat jatuh setiap langkah kaki si tambun menyentuh tanah saat berlari.)
Ganggu banget, 'kan? Mending mereka sendiri juga suka olah raga atau punya kerjaan lain yang jauh lebih berguna.
Apa pun pilihan olah raganya, rasanya menyenangkan bila dilakukan dengan rasa senang - bukan terpaksa.
R.

(Jakarta, 11/12/2015 – 8:15. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 10 Desember 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee - Setiabudi One. Tema: “Olahraga”.)

Selasa, 08 Desember 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "KEKERASAN POLITIK"

"Politics sucks. It destroys families. It makes people distrustful."
"Politik itu menyebalkan. Politik menghancurkan keluarga. Politik membuat orang jadi tidak bisa dipercaya."
Kalimat di atas diucapkan tokoh SSA (Special Secret Agent - Agen Rahasia Khusus) Emily Prentiss (diperankan oleh Paget Brewster) dalam salah satu episode serial TV "Criminal Minds". Dialog tersebut mungkin cocok untuk menggambarkan tema pertemuan #CSW-Club kali ini: kekerasan politik. Tak hanya menghancurkan satu-dua orang, namun juga keluarga, masyarakat, bangsa, hingga dunia. Cakupannya bisa luas sekali, bukan?
Sejarah telah menyebutkan banyak sekali contohnya. Terlalu banyak malah. Kita bisa fokus pada angka-angka berupa tanggal, tahun, jumlah pelaku kekerasan, korban, luas lahan yang terkena dampak, kerugian finansial, hingga data-data statistik lainnya yang terkait dengan kekerasan politik. Ada yang berpendapat bahwa kekerasan ini termasuk masif, berlapis-lapis dan penanganannya pun berlarut-larut. Bahkan, seringkali banyak yang malah tidak selesai sama sekali alias tetap menjadi misteri.
Andai para pelaku dan otak di balik semua peristiwa itu sendiri terungkap, apa yang biasanya terjadi? Benarkah mereka akan selalu diadili? Benarkah mereka bukan tumbal untuk melindungi pelaku sebenarnya?
Bagaimana bila ternyata mereka telah lama meninggal dunia? Akankah keturunan mereka diminta untuk bertanggung-jawab?
Benarkah - dalam hal ini - mereka yang jujur akan selalu terancam? Benarkah niat mereka selalu untuk mencari keadilan, bukan sekedar balas dendam atau menjatuhkan lawan?
Benarkah kita tidak pernah benar-benar (mau) belajar dari sejarah? Atau, jangan-jangan sejarah malah menjadi inspirasi kita untuk menciptakan kerusakan berikutnya yang lebih parah...
R.

(Jakarta, 5/12/2015 – 16:40. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 5 Desember 2015, pukul 20:00 di Blueberry Pancake House - Wahid Hasyim. Tema: “Kekerasan Politik”.)

Minggu, 29 November 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN"

Mungkin ini termasuk salah satu topik terberat dalam sejarah pertemuan The Couchsurfing Writers' Club di Jakarta. Sesi ini juga sekalian memperingati "Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan". Kampanye "Orange Your Hood" sudah berlangsung sejak 25 November kemarin hingga 10 Desember nanti.
Sudah terlalu lama kita terkungkung dalam budaya patriarki yang kebanyakan hanya menguntungkan satu pihak dan merugikan pihak lainnya, dalam hal ini lebih enak di laki-laki daripada perempuan. Sudah terlalu banyak cerita duka di baliknya, baik yang masih tersimpan rapat sebagai rahasia maupun yang dengan berani dibagi kepada dunia, tak peduli cemoohan mereka. Sudah terlalu lama kita hanya bisa saling tuding, saling mencari kambing hitam, hingga ajang balas dendam tanpa penyelesaian yang memuaskan semua pihak. PR kita masih banyak. Sangat banyak.
Semoga kita semua dapat dan mau bekerja sama menangani akar masalah global ini: cara kita memandang perempuan sebagai individu dengan identitas sendiri yang berhak diakui dan dihargai, bukan sekedar pelengkap hidup laki-laki. Semoga tidak ada lagi anak perempuan yang dilecehkan teman laki-lakinya, meski dengan alasan "penasaran/coba-coba". Tidak ada lagi perempuan yang disiuli dan dipanggil-panggil dengan ucapan tidak senonoh di pinggir jalan oleh para lelaki berandalan yang sepertinya kurang kerjaan (atau jangan-jangan memang pengangguran?) Apa pun yang mereka kenakan dan meskipun sedang sendirian, tak perlulah mereka jadi sasaran.
Semoga tidak ada lagi perempuan yang menjadi korban kekerasan, baik oleh keluarga, pasangan, hingga lingkungan yang sering bisanya hanya menghakimi tanpa memberi solusi.
Cinta harusnya memberikan rasa aman. Semoga para kekasih mereka (pacar/suami) yang kasar segera sadar dan memperbaiki diri sebelum terlambat. Semoga para orang tua dan kerabat tidak memandang rendah anak perempuan mereka, hanya karena belum juga menikah.
Semoga para perempuan yang (terlanjur) terluka diberi kekuatan untuk bangkit kembali, memaafkan diri sendiri, dan belajar berdamai dengan masa lalu. Semoga mereka juga akan kembali mulai (lebih) mencintai diri sendiri...
R.
(Jakarta, 27/11/2015 – 11:05. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 26 November 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee - Senopati. Tema: “Kekerasan Terhadap Perempuan”.)

Senin, 23 November 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "TERBUKA"

Banyak kisah, pendapat, hingga spekulasi di balik kata 'terbuka'. Tidak hanya tanda 'OPEN' yang tergantung di pintu kaca toko yang biasanya mengundang pengunjung untuk datang dan masuk untuk melihat-lihat isinya. Setelah itu, siapa tahu ada yang berkenan membeli.
Bagaimana dengan 'buka-bukaan' yang lain?
Tuh, 'kan? Belum apa-apa mikirnya sudah pada kemana-mana. Macam-macam saja.
Hehehe...
Banyak opini tentang pakaian yang (dianggap) terlalu 'terbuka', begitu pula sebaliknya. Ini juga berlaku bagi kepribadian manusia hingga kebijakan suatu negara. Ada yang bilang, orang dengan kepribadian terbuka lebih menyenangkan hingga banyak teman. Berbeda dengan mereka yang berkepribadian tertutup: cenderung lebih misterius, agak sulit percaya dengan orang lain - apalagi saat pertama, namun jadi bisa lebih menilai yang mana yang benar-benar teman sejati.
Bagaimana dengan kebijakan suatu negara? Ada yang takut bila negaranya terlalu 'terbuka' dengan pihak asing. Selain khawatir kehilangan jati diri budaya sendiri akibat terpengaruh budaya luar, alasan lainnya adalah takut dijajah lagi.
Benarkah semua yang serba terbuka itu selalu baik/buruk? Apakah kita siap dinilai, dipuji, maupun dihakimi setelah terbuka/memutuskan untuk tetap tertutup? Selain itu, bila kita ingin membuka segala sesuatu, apakah kita benar-benar siap dengan yang akan kita temukan nanti?
Setelah siap menerima sesuatu yang telah kita buka, apa langkah berikutnya? Apakah kita akan menunjukkannya pada orang lain - atau cukup kita saja yang tahu?
R.
 
(Jakarta, 20/11/2015 – 11:05. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 19 November 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee - Setiabudi One. Tema: “Terbuka”.)

Jumat, 06 November 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "NEGATIF"

Pada dasarnya, semua yang ada di dunia ini butuh pembanding. Suka tidak suka, itulah kenyataannya. Mulai dari kanan-kiri, atas-bawah, depan-belakang, dan masih banyak lagi.
Begitu pula dengan positif dan negatif.
Bisa dipastikan, lebih banyak yang tidak senang dengan sesuatu yang negatif. Seperti, siapa juga sih, yang tahan berteman dan terus-terusan mendengarkan keluhan orang yang selalu berpikiran negatif, alias berprasangka buruk terhadap segala sesuatu dan setiap orang? Sayang sih, sayang. Tapi lama-lama capek juga, 'kan? Namanya juga manusia. Bahkan, terapis paling profesional pun juga butuh istirahat dari mendengarkan keluhan pasiennya.
Kalau dalam rumus Matematika, simbol negatif ( - ) tampak seperti simbol yang kekurangan, alias hanya segaris tunggal. Karena itulah bila dua simbol tersebut bertemu, maka yang dapat tercipta adalah simbol positif (+).
Yah, setidaknya itulah rumus yang terdapat dalam Matematika. Lain cerita kalau dua orang berpikiran negatif bertemu, namun enggan melakukan sesuatu kecuali saling mengeluh.
Namun, dalam hidup memang harus ada yang negatif - sama seperti gelap untuk membedakan terang. Selain sebagai pembanding, energi negatif bisa dijadikan pemicu untuk meraih sesuatu yang positif. Semua tergantung pilihan masing-masing.
Apakah negatif selalu buruk? Tidak juga. Pasti Anda lega dong, bila dalam tes kesehatan Anda dinyatakan negatif dari virus berbahaya mana pun - alias sehat-sehat saja?
R.

(Jakarta, 6/11/2015 – 15:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 5 November 2015, pukul 20:00 di MacDonald's, STC. Tema: “Negatif”.)

Sabtu, 31 Oktober 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "ASAP"

Tiada asap tanpa api. Pepatah itu populer. Tak ada masalah bila tak ada penyebabnya.
Selain ramainya musibah kebakaran hutan yang menyebabkan Riau, Borneo, dan sekitarnya dikepung asap tebal, banyak hal lain yang terkait dengan asap. Mulai dari asap akibat ada yang memasak di dapur (apalagi bila diikuti aroma yang harum semerbak), asap knalpot kendaraan bermotor di kota yang tampaknya tidak berkurang juga, asap rokok (terutama dari mahluk-mahluk yang tidak peduli dengan kehadiran ibu hamil, anak kecil, hingga bayi di sekitar mereka), hingga asap di tempat kremasi jenazah, asap akibat ada yang membakar sampah, hingga asap yang ditimbulkan biang es untuk efek di panggung pertunjukan dan adegan dalam film.
Tentu saja, yang paling melumpuhkan tetaplah asap akibat pembakaran hutan. Semoga bencana ini segera berlalu - dan Tuhan Maha Pengampun masih sudi memberi kita napas untuk melanjutkan hidup ini dengan sebaik mungkin. Aamiin...
R.
(Jakarta, 30/10/2015 – 15:20. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 29 Oktober 2015, pukul 20:00 di Coteca, Jakarta Barat. Tema: “Asap”.)

Sabtu, 24 Oktober 2015

#CSW-CLUB DIARIES:"KERIPUT"

Apa yang tercetus di benak Anda saat mendengar kata "keriput"? Mungkin Anda akan langsung terbayang wajah kakek-nenek - atau mungkin orang tua Anda yang sudah sepuh. Tua, alias berusia senja. Kulit yang tidak lagi mulus dan kencang, alias mulai kendur dan banyak garis-garis bermunculan di tempat-tempat 'strategis', seperti dahi, pipi, pinggir mata dan mulut, leher...sebut saja.
Keriput juga sama artinya dengan 'kerut' atau 'kisut'. Seorang teman pencinta ilmu alam bahkan juga mengingatkan bahwa buah pun permukaannya berkerut bila sudah melewati 'batas kematangan'- nya.
Apa boleh buat. Meski keriput proses yang tidak bisa sepenuhnya dihindari alias hanya diperlambat dengan gaya hidup, pengobatan, hingga teknologi tertentu, tak ayal banyak yang enggan - dan bahkan takut - menghadapinya. Kaum Hawa termasuk yang paling panik dalam berurusan dengan keriput, terutama mereka yang bekerja di media dan bidang kecantikan. Inilah realita, dimana dunia masih cenderung memandang dan menilai mereka dari segi fisik belaka. Menyedihkan sekali, bukan? Serba salah memang. Di satu sisi mereka ingin sekali menyenangkan pasangan (pacar, suami) dengan terus menjaga penampilan agar (selalu) dianggap cantik, bahkan dengan kosmetik termahal supaya kelihatan awet muda - alias tidak keriputan. Di sisi lain, tetap saja ada yang akan menuding mereka dangkal hanya karena mau segitu repotnya mempercantik diri.
Kalau dipikir-pikir, ketakutan mereka masuk akal. Sudah banyak cerita suami meninggalkan istri atau mencari istri muda, HANYA karena yang pertama sudah keriput. (Jangan tersinggung, Tuan-tuan - ini fakta. Tak perlu marah bila Anda bukan salah satu dari mereka.)
Selain media, kehadiran dokter bedah plastik juga mendukung mereka yang segitu inginnya mengenyahkan keriput dari wajah, kalau bisa selamanya. Keinginan yang tidak realistis, bukan? Bayar mahal tak masalah. Resiko kesehatan dan kemungkinan nyawa melayang juga dipikir belakangan. Mau menghakimi mereka juga? Percuma, karena bisa jadi mereka juga terluka - dan 'dilukai' - secara sosial oleh harapan mustahil masyarakat tentang kecantikan sejati yang ideal bagi seorang perempuan: selalu awet muda, tanpa keriput.
Ada juga yang mengaitkan keriput dengan ketidakseimbangan gaya hidup dan penyakit - terutama bagi yang tinggal di daerah perkotaan yang padat penduduk dan berpolusi tingkat tinggi. Akibatnya, stres melanda dan lantas memunculkan keriput sebelum wakttunya, alias penuaan dini. Belum lagi stres karena terlalu memikirkan omongan orang lain yang tidak penting, hingga sering berpikir negatif dan lupa bahagia. Ada juga yang karena sakit parah menahun, yang sepertinya wajar saja bila mereka tidak selalu bisa bahagia karena terserang depresi. (Untuk yang satu ini, semoga mereka selalu diberi ketabahan dan kekuatan oleh-Nya - serta didukung orang-orang tersayang yang selalu menyayangi mereka.)
Namun, keriput tidak selalu buruk. Alangkah menyenangkan bila keriput tercipta lebih banyak karena senyum dan tawa. Anggap saja setiap garis di wajah berupa cerita. Toh, pada akhirnya semua manusia akan beranjak tua. Hanya menjadi dewasa yang merupakan pilihan...

R.
(Jakarta, 23/10/2015 – 15:20. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 22 Oktober 2015, pukul 20:00 di Bangi Kopi Tiam - Sabang, Jakarta. Tema: “Keriput”.)

Sabtu, 17 Oktober 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "BULAN (PURNAMA)"

Ide awalnya 'bulan purnama'. (Maklum, menjelang Halloween, meski sebenarnya bukan perayaan khas negeri ini.) Pastinya jadi yang seram-seram dan kayak rada-rada mistik gimana, gitu.
Meski pada saat menulis banyak yang lebih ingin mengeksplorasi bulan secara keseluruhan (alias tidak spesifik 'purnama' saja), tak ayal sempat ada juga diskusi pendek seputar mitos 'bulan purnama'. Tak hanya kisah tentang legenda manusia serigala seperti film "The Wolfman", tentu saja.
Entahlah. Mungkin ada hubungannya dengan air laut yang cenderung pasang / tinggi saat bulan purnama. Ada yang percaya bahwa beberapa kejadian tidak enak dalam hidup mereka ada kaitannya dengan energi yang 'terisap' / 'terkuras'  saat bulan purnama. Mulai dari kelelahan fisik luar biasa (padahal belum tentu banyak kegiatan juga), pertengkaran, kecelakaan, hingga depresi yang menimpa orang-orang tercinta.
Terdengar aneh? Mungkin Anda termasuk yang skeptis dalam hal ini. Mungkin Anda tidak percaya, karena: "Masa iya itu cuma gara-gara bulan purnama? Kapan manusia mau bertanggung-jawab atas perbuatan mereka?"
Bagaimana pun juga, bulan purnama tetap indah dipandang, apalagi bila sedang tidak ada kerjaan. Haha.
R.

(Jakarta, 16/10/2015 – 15:20. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 15 Oktober 2015, pukul 20:00 di Petamburan. Tema: “Bulan (Purnama)”.)

Rabu, 14 Oktober 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "KARAOKE"

Siapa yang suka nyanyi di karaoke? Silakan tunjuk tangan. Tidak masalah bila Anda beneran bisa nyanyi atau sekedar cuap-cuap atau bahkan teriak-teriak. Yang penting buat senang-senang.
Dalam bahasa Jepang (lewat riset seorang teman), 'karaoke'  berarti 'opera kosong' (empty opera). Mungkin kurang lebih sama seperti istilah 'minus one', dimana ada rekaman instrumen musik sebuah lagu, namun bagian vokal aslinya bisa dihilangkan dengan mesin dan bisa diganti dengan suara siapa saja.
Kalau tidak hapa lirik lagunya? Tinggal lihat teks di layar.
Tak hanya di Jepang, karaoke termasuk kegiatan komunal yang populer di Indonesia. Mulai dari karaoke rumahan (sejak zaman LD, CD, hingga mesin karaoke yang entah berapa harganya) hingga tempat-tempat khusus karaoke. Yang paling sering terjadi adalah rombongan manusia yang lelah selepas overtime kerjaan di kantor (seperti Anda dan teman-teman, mungkin?) langsung cabut ke tempat karaoke dan menyanyi sepuas hati.
Ada juga yang memanfaatkan tempat karaoke untuk tempat latihan sebelum ikutan audisi atau lomba menyanyi. Bahkan, ada juga yang anti karaoke, yang berpendapat begini:
"Ngapain bayar mahal-mahal, hanya untuk duduk-duduk dalam ruangan sempit lalu teriak-teriak di mikrofon?"
Seperti biasa, lagi-lagi semua hanya masalah selera...
R.
(Jakarta, 9/10/2015 – 18:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 8 Oktober 2015, pukul 20:00 di Taman Suropati - Menteng. Tema: “Karaoke”.) 

Rabu, 23 September 2015

#CSW-CLUB DIARIES 8: "TENTANG TAMAN"

Bukan berita baru lagi kalau kota-kota besar seperti Jakarta semakin butuh "ruang hijau" seperti "taman kota" daripada gedung-gedung tinggi. Ngapain? Mall sudah bejibun (dan masih mau tambah lagikah?), tapi isinya sama semua. Nggak bosan? Mending semua orang pada suka belanja.
Sempat taman dipandang 'menakutkan' pada pemerintahan era lalu, bahkan di tengah kota paling padat pun. Apa pasal? Bukan, bukan selalu perkara mistis. Rupanya karena paranoia pihak penguasa. Sempat ada larangan untuk berkumpul di taman gara-gara khawatir akan tercipta pembicaraan yang 'bukan-bukan' (seperti rencana kudeta, misalnya.)
Karena khawatir tidak bisa mengawasi (baca: menguping) semua orang, maka diperbanyaklah mall agar semua orang dapat dikumpulkan di dalam ruangan dan termonitor lewat CCTV.
Setidaknya itu hanyalah salah satu teori (yang jujur cukup bikin bergidik, seperti perihal mistis.) Ada teori lain yang (lebih) diamini sejuta umat, terutama kalangan urban:
Taman (dianggap) tidak memberikan keuntungan ekonomis. (Bagi siapa? Pertanyaan bagus.) Perawatannya mahal dan harus terus-terusan. Menanam, menyiram rumput, tanaman, dan pepohonan yang ada, hingga menyingkirkan sampah yang dibuang sembarangan oleh mereka yang merasa masih 'manusia' , namun sayang kelakuannya lebih mirip kera / primata.
Sayangnya, mereka kerap lupa bahwa biaya kesehatan untuk penderita asma dan ISPA (Inspeksi Saluran Pernapasan Akut) akibat polusi yang kian menebal juga makin mahal. Perawatan kesehatan jiwa apalagi. Bukan cerita baru bahwa makin banyak yang stres dan rentan depresi akibat kurangnya mereka terekspos akan lahan hijau. Mau olah raga saja harus di dalam ruangan, berlari di atas treadmill ibarat tupai di atas roda mainan di dalam kandang mereka. Bukan oksigen yang didapat, melainkan freon AC dalam paru-paru mereka. Kasihan, ya?
Mentok-mentoknya paling kabur ke daerah lain yang lebih sepi dan hijau kala sempat. Atau pindah ke sana sekalian bila dirasa sudah siap.
"I don't miss this city at all," aku seorang teman lain yang dulu pernah cukup lama menetap di Jakarta sebelum pindah ke Bali. Ya, siapa juga sih, yang kangen dengan kemacetan tiap hari, dimana pemakai jalan sudah semakin buas - rebutan jalur dan saling cela atau saling jegal dengan ganas, seolah-olah mereka semua akan mati bila bersabar barang sedetik saja? "Mereka kira gedung-gedung ini bakalan bikin kota ini sekeren Gotham City di komik Batman, padahal asli hancur banget!"
"Kota ini butuh lebih banyak taman," seru teman yang lain lagi. "Taman tempat yang cocok untuk berkumpul dan mengasah kreativitas serta berbagi ide."
Semoga jumlah taman di kota Jakarta ini bisa bertambah. Percuma juga banyak gedung, bila akhirnya yang dihasilkan juga lagi-lagi hanya...SAMPAH!

R.
(Jakarta, 18/9/2015 – 13:10. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 17 September 2015, pukul 20:00 di Taman Suropati - Menteng. Tema: “Taman / Park”.) 

Sabtu, 05 September 2015

#CSW-CLUB DIARIES 7: "MATAHARI TERBIT"

Yang gemar bangun pagi biasanya memulai hari dengan menyambut terbitnya matahari. (Tergantung agama dan kepercayaan masing-masing, ada juga yang seakan 'balapan' sama matahari - alias dulu-duluan bangun!)
Alasan mereka yang senang (dan sudah terbiasa) bangun pagi? Selain bikin badan terasa segar, hari jadi terasa lebih panjang dan banyak yang bisa dilakukan. Banyak pekerjaan yang bisa segera diselesaikan hari itu juga. Berbeda dengan mereka yang lebih senang / memilih bangun siang atau bahkan terpaksa bekerja dengan jam 'kalong'. Alamat bisa tidur seharian, sementara yang lain bekerja.
Bagi yang hidup di negara tropis macam Indonesia, bersyukurlah. Jatah sinar matahari pagi bisa dibilang stabil sepanjang tahun, kecuali mungkin pas musim hujan. Berbeda dengan mereka yang tinggal di negara empat musim, yang belum tentu bisa menikmati cerahnya sinar matahari pagi setiap hari. Selain dingin juga tidak terang-terang amat!
Nikmatilah terbitnya matahari pagi, selama masih diberi kesempatan tersebut. Bagi beberapa orang, bisa jadi itu merupakan pagi terakhir mereka di dunia. Seperti sosok Aylan Kurdi, bocah berkaus merah dan celana pendek biru yang terdampar di pantai saat keluarganya berusaha mengungsi ke tempat yang lebih baik - meninggalkan tanah kelahiran mereka yang digolak oleh perang...
Kita tidak pernah tahu...
R.

            (Jakarta, 5/9/2015 – 22:24. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 3 September 2015, pukul 20:00 di Goedkoop, Bendungan Hilir, Jakarta Selatan. Tema: “Matahari Terbit / Sunrise”.) 

Sabtu, 29 Agustus 2015

#CSW-CLUB DIARIES 6: "TEMPAT FAVORIT"

Apa tempat favorit Anda? Seperti biasa, jawaban tiap orang pasti berbeda. Ada yang bisa menyebut satu, beberapa, hingga: “Banyak!” Untuk jawaban terakhir, biasanya karena kesulitan memilih. Begitulah bila Anda kebetulan sangat suka jalan-jalan dan sudah pernah mengunjungi banyak tempat yang indah-indah.
            Apa alasan Anda memilih suatu tempat sebagai tempat favorit? Sama seperti pertanyaan sebelumnya, jawaban bisa beragam. Namun, alasan emosional menempati urutan pertama. Kebanyakan mengaitkan tempat favorit mereka dengan kehadiran sosok-sosok tercinta atau orang-orang terpenting dalam hidup mereka, seperti: keluarga, sahabat, hingga pasangan. Lagipula, bukankah kita sudah sering mendengar ungkapan “Home is where the heart is”? Dimana pun mereka berada, semua akan tampak indah bila hati merasa sungguh-sungguh bahagia. Meski tinggal di istana emas paling besar pun, tak ada gunanya bila hati merasa tidak bahagia alias terpenjara. (Jiahh!)
            Tapi ya, lagi-lagi bahagia itu masalah pilihan. Seperti kata seorang kawan: “Sebenarnya, kalau mau lebih jeli melihat, tidak ada pilihan yang benar-benar baik atau pun buruk. Semua hanyalah masalah persepsi.” Pemikiran yang positif dan brilian, meski mungkin bagi sebagian orang lainnya akan terdengar begitu utopis – alias tidak objektif maupun realistis. Dengan kata lain: in denial (dalam penyangkalan). Mungkin akan ada yang membantah begini: “Kalau kenyataannya emang lagi jelek, ya jelek aja. Nggak usah berlagak nggak ada apa-apa alias semuanya baik-baik aja!”
            Kalau seseorang sudah merasa cukup berbahagia berada di tempat paling sederhana yang mungkin bagi yang lain termasuk ‘enggak banget’, lalu siapa kita yang (merasa) berhak menghakimi pilihan hidup mereka? Begitu pula sebaliknya. Ngakunya sih, sudah merasa cukup puas dengan standar hidup sendiri yang sudah ada, alias nggak mau berusaha meningkatkan kualitas atau ‘naik kelas’. Tapi, diam-diam – atau mungkin malah terang-terangan – malah nyinyir sama mereka yang (dianggap) hidup ‘berlebihan’ serta doyan banget jalan-jalan kemana-mana. Kok malah jadi ngatur-ngatur dan memaksakan selera? Kalau pun tidak suka atau sepaham, ya cuekin saja selama nggak ada yang saling mengganggu! Yakin, situ sudah beneran ‘ikhlas’ dengan realita yang ada?

            R.

            (Jakarta, 29/8/2015 – 19:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 27 Agustus 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee – Setiabudi One, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tema: “Tempat Favorit”.)