Rabu, 04 Mei 2016

"DI BALIK PERINGATAN 'JANGAN-JANGAN'..."

"Jangan-jangan..."
Aku sudah terlalu familiar dengan ucapan itu, berikut dengan nada suara yang penuh rasa curiga dan was-was. Kadang nyaris mendekati paranoia.
Dan kata mereka, akulah yang berlebihan. Akulah yang terlalu khawatir, seperti biasa.
Jangan-jangan itu suara hantu. Jangan-jangan kamu mau sakit.
Sejak kecil, aku sudah dikenalkan dengan ekspresi itu. Aku tahu, aku bukan satu-satunya. Banyak anak lain yang mengalaminya. Namun, tak semua sama. Mungkin ada yang lebih santai menanggapinya. Ada juga yang sepertiku, (dianggap kelewat) waspada. Bagaimana, sih? Kata mereka, aku harus selalu hati-hati, wajib waspada. Kalau sampai terjadi apa-apa denganku, nanti bisa repot jadinya. Lebih parah lagi, kemungkinan setelah 'jangan-jangan' yang gagal sebagai peringatan, berikutnya yang keluar adalah:
"Kamu sih, udah dibilang jangan masih nekat juga."
Salah tidak sih, kalau penyebab ucapan 'jangan-jangan' sering tidak dihiraukan ya, gara-gara tidak ada penjelasan, alasan di balik suatu larangan atau peringatan? Yang paling sulit tentu adalah saat berurusan dengan sesama manusia. Ya, tahu sendiri hati mereka suka mudah berubah.
"Hati-hati, jangan-jangan dia bajingan. Jangan-jangan kamu hanya dijadikan mainan."
Bersyukurlah bagi mereka yang berinsting kuat. Meski kadang kecemasan atau kecurigaan mereka tidak terbukti, yang penting diri sendiri aman - tidak tersakiti. Memang, tidak semua harus tergantung logika untuk hal ini.
Namun, ada kalanya manusia ingin sekali menikmati meski satu hari saja, tanpa kekhawatiran yang diawali dengan "Jangan-jangan..."
Saya yakin, saya bukan satu-satunya...
R.
(Jakarta, 1 April 2016 - untuk Tantangan Menulis Jakarta's Couchsurfing Writers' Club. Tema: "Jangan-jangan".)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar