Sabtu, 14 Mei 2016

"SAYAP PATAH BIDADARI CILIK"

Aku merindukan-Nya. Sejak hari itu, hidupku tak lagi sama.
            Aku hanyalah siswi sekolah biasa. Pagi belajar, sore pulang. Kemana-mana lebih sering berjalan kaki. Biasa sendiri. Tidak pernah ada masalah. Selama ini, aku baik-baik saja.
            Hingga hari itu...
            Seperti biasa, aku pulang lewat jalan yang sama. Entah kenapa, kali ini ada mereka. Berkumpul bersama, mengobrol dan tertawa keras-keras. Bau arak dan tuak yang begitu kuat membuatku pusing dan mual. Mata-mata mereka merah dan berair.
            Haruskah aku berbalik arah? Ah, ini ‘kan, rute biasaku. Masa aku yang harus mengalah hanya gara-gara ada mereka? Kata Ayah, aku mesti berani, meski perempuan. Hanya boleh takut pada-Nya. Bunda yang selalu was-was dan rajin mengingatkan diriku agar selalu waspada dan menjaga diri. Gara-gara itulah mereka berdua sering bertengkar.
            Tak kupedulikan bisik-bisik, cekikikan, hingga suit-suitan nyaring mereka yang memang mencari perhatianku dengan sengaja. Norak dan menjijikan. Kata Ayah dan Bunda, mereka pengangguran. Tidak ada kerjaan, terlalu banyak waktu luang. Terus malah mengganggu orang.
            Kukira pakaian seragamku sudah cukup panjang. Namun, ternyata dunia bohong saat bilang bahwa aku takkan pernah diganggu karenanya. Aman?
            Tidak, orang-orang mabuk itu tiba-tiba menyergap dan menarikku dari belakang! Tolong...
*****
            Kata Ayah dan Bunda, aku akan selalu menjadi bidadari mereka. Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah bidadari harusnya suci? Seharusnya bidadari punya sayap, hanya agar bisa terbang tinggi dan jauh sekali – jauh dari tangan-tangan yang ingin merusak semua keindahan yang ada. Kadang alasan mereka hanya karena mau dan bisa melakukannya. Itu saja.
            Bagaimana ini? Kini sayapku telah patah. Aku tak lagi sama. Rusak semua.
            Gara-gara mereka!
            Sekarang aku hanya ingin bersama-Nya. Salahkah? Kasihan juga Ayah dan Bunda. Mungkin hanya Dia yang mau menerimaku apa adanya. Apa jangan-jangan Dia menyalahkanku juga, seperti kata mereka yang merasa sudah tahu segalanya?
            Ah, sudahlah. Entah...
*****
            “Bip...bip...bip...biiiip...!”
            “PUTRIII!”

            Siang itu, di salah satu kamar di sebuah rumah sakit, seorang ibu menangis histeris, sambil menatap pilu pada wajah bidadari ciliknya yang kini beku, sebelum mereka menutupinya dengan selembar kain putih...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar