Tampilkan postingan dengan label #MONDAY-FF. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #MONDAY-FF. Tampilkan semua postingan

Jumat, 16 Desember 2016

"MEMULAI KEMBALI"

Aku tidak ingin menunggu. Aku ingin menciptakan waktu.
Ya, aku tidak ingin menunggu waktu yang tepat, karena itu hanya mitos. Tidak pernah ada waktu yang tepat. Yang tepat hanya waktu yang ingin kita sempatkan.
Aku ingin menciptakan momentum itu, saat kita nanti kembali bersama. Aku ingin kita memulai segalanya kembali dari awal, karena kita sama-sama menginginkannya.
Karena itulah, kusisihkan hari ini khusus untukmu. Kita tahu, sebelumnya sudah terlalu banyak kesalahpahaman. Terlalu banyak pertengkaran. Aku yang terlalu keras kepala dan kamu yang tidak mau mendengar. Lelah, lemah, kalah. Pada akhirnya, kita sama-sama mudah menyerah. Sudah, hentikan saja semuanya. Lebih baik kita jalan sendiri-sendiri saja.
Waktu pun berlalu. Namun, tak surut jua rasa rindu. Kita pun memutuskan untuk kembali bertemu. Jangan lagi menunggu. Belum tentu esok akan ada waktu luang itu.
Sekarang, di sinilah aku. Di kafe tempat kita pertama kali bertemu, menunggu. Tapi, di mana kamu? Kenapa yang datang malah sahabatmu?
“Hai, Damai.”
—***—
Maafkan aku. Maafkan aku yang sering ragu untuk meluangkan waktu denganmu.
Salahkan ego dan gengsiku. Bahkan, sejak kita berpisah dulu, aku sudah memendam siksa di dalam diamku.
Makanya, aku bersyukur saat kamu duluan yang akhirnya kembali menghubungiku. Semakin bersyukur saat tahu bahwa kamu pun memendam rindu. Baiklah, mari kita sama-sama berdamai dengan masa lalu. Saatnya memulai lagi yang baru.
Aku tahu, hari ini sudah kau sisihkan khusus untukku. Aku juga melakukan hal yang sama untukmu. Aku bahkan sudah berjanji akan lebih memperhatikanmu kali ini, tidak seperti dulu. Tidak ada lagi aku yang egois dan selalu merasa paling benar sendiri. Demi kamu.
Aku sudah pernah kehilanganmu. Jangan pernah sampai terjadi lagi…
Percayalah, sebenarnya aku ingin segera ke kafe itu lagi, setelah sekian lama. Aku ingin kita kembali bersama, seperti dulu.
Kuharap kamu percaya. Dengarkanlah sahabatku saat dia tiba. Lalu, kemarilah segera.
Semoga…aku masih ada…
—***—
“Damai, Adrian kecelakaan…”

Minggu, 04 Desember 2016

"SELEPAS SATU MALAM ITU..."

Bertemu denganmu adalah kesialan. Mengenalmu adalah kesalahan.
            Bersamamu setara dengan kegilaan...meski sesaat.
            Ya, mereka semua akan bilang aku melakukan kesalahan saat denganmu. Aku yang kata mereka sedang rapuh setelah patah hati terakhirku, sehingga tidak lagi mampu berpikir jernih. Kamu yang...ah, harus kusebut apa, ya? Bajingan? Tukang cari mangsa yang berjenis kelamin perempuan?
            Pencari selingan? Ah, untungnya jadi kau, wahai laki-laki yang menganggapku menawan. Yang malam itu cukup lancang untuk menciumku, bahkan saat kencan pertama.
            Yang langsung mengajakku ke kamar selepas makan malam, saat itu juga. Yang memberi saran konyol berupa role-playing:
            “Kita bisa jadi siapa pun yang kita inginkan malam ini.”
            Aku tersenyum. Ya, malam itu kuikuti saja permainanmu. Kita bisa jadi dua jiwa kesepian yang mencari pelampiasan. Persetan dengan moral! Aku muak terkungkung olehnya, sementara kalian para laki-laki bebas ke mana-mana dan “ngapain aja” – bahkan sama “siapa saja”.
            Mungkin, bagimu semua ini sama saja. Hanya rutinitas pengusir kebosanan sang petualang.
            Lalu, bagaimana denganku?
            Ah, entahlah. Sudahlah, aku tidak peduli lagi. Yang kutahu, kamu sangat tipikal. Kuyakin banyak sekali laki-laki sepertimu di luar sana. Ya, meskipun lagi-lagi mereka akan memberikan argumen basi yang sama, hanya agar aku tidak terlalu kecewa dan memandang suram pada cinta serta seluruh dunia:
            “Tidak semua laki-laki...”
            Heh, mungkin benar. Tidak semua, tapi banyak, ‘kan? Seperti kamu contohnya. Bebas, tidak pedulian. Kamu ingin melakukan semuanya tanpa aturan maupun pengamanan. Sangat tipikal.
            Setidaknya, kamu tidak pernah berpura-pura baik dan bermartabat, seperti mereka yang selalu berharap pada perawan di pelaminan, sementara mereka sendiri boleh suka-suka.
            Pagi itu, kamu masih terlelap di ranjang kamar hotelmu. Semalam kamu bilang bahwa kamu terbiasa bangun siang, paling sekitar jam dua.
            Cepat-cepat aku berpakaian. Lalu aku diam-diam keluar dari kamarmu dan kabur lewat tangga darurat gedung itu. Tidak ada ciuman, berbeda dengan semalam.
            Tidak ada ucapan selamat tinggal. Tidak perlu, karena kita berdua sama-sama tahu. Kita tidak akan bertemu lagi setelah malam itu. Mungkin kamu akan meneleponku. Mungkin aku yang tidak mau. Tidak ada untungnya bagiku.
            Hanya satu yang mungkin belum kamu tahu...atau bahkan tidak akan peduli. Malam itu, aku memberimu hadiah dari mantan suamiku. Mungkin diam-diam kamu juga sudah punya atau barangkali ada juga yang lainnya.
            Tidak masalah. Kita bisa saling bertukar racun, saling membunuh dalam diam. Tidak perlu bilang-bilang. Toh, malam itu kita juga sama-sama senang.
            Selamat menikmati hadiah terkutuk dari mantan suamiku, yang pernah dia dapatkan juga entah dari siapa di luar sana. Yang kini dan selamanya bersemayam dalam tubuhku, membunuh janin yang pernah kami ciptakan berdua.

            Hadiah yang tak pernah kuminta itulah bentuk penghargaannya...untuk seorang istri yang selama ini setia, penurut, dan lebih banyak diam di rumah saja...


Rabu, 16 November 2016

"PRIA PENUNGGU PANTAI"

Selama beberapa hari di pantai itu, dia selalu di sana. Duduk di atas bukit berumput, memandangi lautan lepas. Tinggi dan tegap, tampak atletis dengan kaos putih dan celana kargo abu-abu tuanya.

Sebenarnya dia bukan tipeku, meski mungkin banyak wanita lain yang akan terpikat sosoknya. Wajah persegi, kulit coklat sempurna, alis tebal, hidung bangir, dan mata besar yang menyorot tajam bak elang.

Oke, dia lumayan tampan. Hari ketiga liburanku di sana, akhirnya tergoda juga aku. Bukan mendekatinya, meski memang aku naik ke bukit yang sama. Dudukku agak menjauh, sambil mengeluarkan buku sketsa dan peralatan gambarku dari dalam tas kanvas. Tak lama kemudian, aku memulai pada selembar halaman baru.

Tentu saja, karena bukitnya sepi, aku cepat ketahuan. Pria itu menoleh dan langsung tersenyum melihat yang sedang kulakukan. Malah aku yang salah tingkah.

“Lagi gambar apa?”

Kutunjukkan saja, meski malu-malu.

“Bagus,” pujinya tulus, meski yang terlihat di halaman itu baru garis dahi, hidung, bibir, dan dagunya. Aku senang sekali. “Terusin, dong.”

Aku menurut. Tidak butuh waktu lama sebelum kuperlihatkan lagi hasil akhir sketsa wajahnya. Pria itu tampak terkesan.

“Aku tersanjung,” ujarnya. “Terima kasih, ya.”

“Buatmu?” kutawarkan. Aku bahkan membubuhkan namaku pada bagian kanan bawah halaman: Artemia. Namun, pria itu menggeleng.

“Buatmu saja.” Saat membaca namaku, dia tampak kagum. “Namamu unik. Beda sama namaku.”

“Memang namamu siapa?”

“Raka.”

“Oke, Raka.” Kulihat sunset pertanda matahari sudah siap undur diri dari langit negeri ini. “Panggil saja aku Mia. Aku pulang dulu.”

“Hati-hati ya, Mia.”

Oke.” Baru saja aku berjalan beberapa langkah, ketika mendadak teringat ingin menanyakan sesuatu. Sayang, saat menoleh, Raka sudah tidak ada di tempat. Cepat sekali perginya.

Ah, sudahlah. Besok mungkin masih bisa ketemu lagi...

---//---

Aku memang masih sempat melihat Raka beberapa hari berikutnya, meski hanya saling melambai dari jauh. Sebenarnya ingin mengobrol dengannya lebih jauh, namun entah kenapa kuurungkan. Sepertinya dia tidak ingin diganggu dan aku juga bukan wanita yang mudah mendekati pria.

Hingga sore itu...

Baru saja aku melambai dan tersenyum pada Raka, ketika tiba-tiba terdengar jeritan ngeri dari pantai. Aku berbalik. Rasa ingin tahuku membuatku menghampiri kerumunan orang di sana. Mereka tengah mengelilingi sesuatu.

Dan aku pun melihatnya. Sesosok jenazah tenggelam yang terseret arus hingga ke pantai. Tubuhnya sudah sedikit biru dan bengkak, dengan kaos putih yang sudah kotor tercampur pasir.

Wajahnya...

Kupeluk tas kanvas isi buku sketsaku dengan jantung berdebar-debar. Kuarahkan kembali pandanganku pada puncak bukit, tempat Raka tadi berada.


Dia telah hilang. Pria penunggu pantai itu tidak lagi berada di sana...



Sabtu, 17 September 2016

"RUMAH DI UJUNG JALAN"

Sekilas, rumah berlantai tiga di ujung jalan itu tampak suram. Tapi, kamu akan berubah pikiran bila melihat para penghuninya.
            Satu keluarga tinggal di dalamnya. Ada suami, istri, dan kedua anak mereka. Pasangan itu masih tampak muda untuk ukuran orang tua dari dua anak yang sudah masuk sekolah dasar.
            Sang suami, Adrian, adalah seorang jaksa penuntut yang sudah berhasil memenjarakan banyak pelaku kriminal. Dia laki-laki tampan berwajah ramah, dengan kerut samar yang muncul setiap dia tersenyum. Istrinya, Cara, adalah seorang ibu rumah-tangga sekaligus konsultan hortikultura dari rumah. Cantik, cerdas, dan kelihatan rajin merawat diri. Tipikal soccer mom. Rajin mengantar-jemput kedua anak mereka yang masih sekolah. Menyetir Pontiac Fiero tua yang masih bagus kondisinya, entah keluaran tahun berapa.
            Kedua anak mereka ternyata kembar berusia delapan tahun. Yang laki-laki bernama Bryan dan yang perempuan Beth, mungkin panggilan dari ‘Bethany’ atau ‘Elizabeth’. Keduanya juga manis, baik dan ramah, meski Bryan lebih pendiam. Beth-lah yang rajin menyapaku setiap kali berpapasan.
            “Hi, Mr. Franks.”
            Siang itu, kedua anak itu saling bergandengan saat masuk ke dalam rumah. Kuperhatikan mereka, sebelum masuk ke dalam rumah sewaku sendiri di seberang. Ada yang harus kuselesaikan...
---***---
            “Jangan lupa. Tepat tengah malam.”
            Kubaca lagi SMS dari klienku dengan enggan. Lewat jendela, kuperhatikan rumah itu di ujung jalan. Tampak sepi dan tenang. Semua penghuninya pasti sudah terlelap.
            Kulirik senapan otomatisku dan menghela napas. Mungkin kamu akan heran, kenapa baru kali ini rasanya berat menjalankan tugasku.
            Untuk pertama kalinya, aku diminta ‘menangani’ satu keluarga, termasuk perempuan dan anak-anak. Salahku, yang kali ini membiarkan diriku terlalu dekat dengan targetku sendiri...


(Untuk Tantangan Mingguan “Monday Flash Fiction” dengan Prompt#125: “Rumah di Ujung Jalan”)


Minggu, 11 September 2016

"DI MATAMU..."

Di mataku, kamu sosok yang membingungkan. Ada kalanya kamu membuatku lelah, namun aku belum ingin menyerah.
            Ada kalanya, kamu tersenyum ramah padaku, sama seperti pada semua orang. Bagiku, dunia menjadi lebih cerah berkat senyummu yang merekah. Tapi...ah, dasar sial. Aku takut kamu menganggapku gombal.
            Siapa yang telah menyebabkanmu berpikir demikian? Mengapa sepertinya sulit bagimu untuk percaya akan tulusnya pujian?
            Sesekali sorot matamu masih tampak jauh. Ada kalanya, kamu gagal menyembunyikan luka. Jika sedang begitu, senyummu berubah kaku.
            Ada amarah dan pedih yang beku di matamu. Setiap ditanya, kamu hanya mengangkat bahu. Kadang kamu menggeleng dan menjawab: “Nggak apa-apa.”
            Kusadari juga sikap beberapa temanmu. Ada yang bermata elang, menatapku curiga. Gerak-gerikku diawasi dengan sedemikian rupa, terutama saat berada terlalu dekat denganmu.
            Mereka berusaha menjagamu, entah kenapa. Padahal, kuyakin kamu tidak serapuh itu.
            “Sekalinya lengah, perempuan selalu lebih mudah dipermainkan,” ucapmu geram. “Begitu kalah, tetap perempuan yang akan selalu disalahkan!”
            Ah, pedihnya nada suaramu. Mungkin karena itulah, malam itu kamu begitu murka. Selepas acara pembacaan puisi dan cerpen yang kita ikuti setiap minggu, acara kumpul bersama berakhir bencana.
            Aku menyesal. Entah kenapa aku tiba-tiba ingin menciummu saat kita berdua sedang di dapur. Sentimental ala film Hollywood. Kamu langsung sadar dan mendorongku.
            “Mundur.” Astaga, suaramu sedingin es. Tanpa menunggu responku yang sedang shock, kamu langsung kabur. Meninggalkan acara begitu saja, tak peduli panggilan dari teman-temanmu:
            “Lho, Bri?? Kok pergi??”
--- *** ---
            Kamu benar-benar marah. Tidak satu pun telepon dariku yang kamu jawab. Pesan WA dariku juga tidak kamu balas.
            Kamu juga menolak duduk dekat denganku setiap acara mingguan itu. Kamu enggan menatapku. Bila terpaksa, kamu seperti menatap mahluk paling hina di matamu. Jujur, aku tidak tahan dianggap begitu. Sama tidak tahannya dengan mendengarmu berdebat dengan teman-temanmu sendiri soal aku. Suaramu meninggi, sarat oleh emosi:
            “Okay, fine! Gue yang parno dan lebay kalo gitu, ya?”
            Aku harus tahu dari teman-temanmu mengenai yang pernah terjadi. Dari mereka, kutahu soal laki-laki itu. Sosok di masa lalu yang pernah menyakitimu.
            Meski berhasil menciummu, setidaknya kamu takkan sudi membiarkannya memaksamu untuk melakukan yang lebih dari itu. Ini bukan masalah moral bagimu. Dia meminta terlalu banyak. Kamu sudah menetapkan pilihan dan laki-laki itu sama sekali tidak menghargaimu.
            Rasa kagum sekaligus sedihku bertambah untukmu. Kagum, karena dengan tegas dan berani kamu menampik laki-laki sialan itu. Kamu bahkan tidak takut ditinggal pergi.
            Sedih, karena kamu jadi takut bahwa laki-laki hanya mengincar tubuhmu. Aku tidak begitu...
--- *** ---
            Kamu menerima buket mawar putih dan boneka beruang besar berwarna cokelat muda di depan pintu rumahmu. Ada amplop tersemat di antara tangan boneka. Kamu duduk di beranda depan dan membukanya. Suratku kamu baca.
            Lalu, kamu hanya memeluk boneka itu. Ada tetes-tetes air dari matamu.
            Diam-diam kuamati dirimu dari salah satu mobil yang diparkir di depan rumahmu. Kulirik kotak kecil dari beludru biru di tanganku.
            Cincin ini bisa menunggu. Saat ini, aku hanya butuh kamu menerima maaf dariku. Aku akan sabar menunggu, hingga saat kamu bisa melihatku seperti ini di matamu:
            Briana, aku bukan laki-laki itu. Aku bukan sosok yang mau menyakitimu...

            R.


            (Untuk tantangan menulis mingguan “Monday Flash Fiction” dengan prompt #124: “Di Matamu”.)


Minggu, 31 Juli 2016

"KUTU-KUTU HENDAK MENJADI KUPU-KUPU"

Aku tahu yang kau pikirkan saat melihatku. Ada kilatan dingin di mata itu. Aku cukup membacanya dari ekspresi gelimu.
Kamu merendahkanku. Bagimu, aku hanyalah satu dari kutu-kutu. Kamu yang kupu-kupu. Aku sedang mencoba menjadi sepertimu: satu dari kutu-kutu yang ingin menjadi kupu-kupu.
“Elo ke sini sama siapa?” tanyamu siang itu, yang rasanya seperti basa-basi palsu. Senyummu juga begitu. Aku sudah tahu.
“Sendirian,” jawabku jujur. Rasanya, aku tidak perlu membuktikan apa-apa pada siapa pun, bahkan kamu yang siang itu tampak ramping dan gaya dengan gaun rancangan desainer terkenal. Aku hanya datang untuk memenuhi undangan seorang teman. Makan siang di restoran favoritnya bersama teman-teman kami…dan pasangan mereka bila ada yang punya.
“Oh.” Wajahmu tampak kaget. Perhatianmu terarah pada sekumpulan lelaki bule yang semeja dengan kita. “Kirain kamu datang dengan salah satu dari mereka.”
Kamu menganggukkan kepala ke arah Ant dan Paddy, kedua temanku. Ant sudah beruban, sementara Paddy gondrong dan brewokan dengan rambut coklat. Selain aku, keduanya juga datang tanpa pasangan.
Aku menggeleng. Natalia, teman baru di sampingku yang siang itu datang dengan Cole, pacarnya, tampak jengah. Kuduga perasaannya sama denganku akan hadirmu di hadapan kami. Apalagi begitu kamu kembali menatap kami berdua, kali ini dengan pandangan menilai yang sudah kentara sekali. Entah kenapa.
“Kamu sekantor juga sama mereka, kayak Vanya sama suaminya?” tanyamu lagi, meski entah hanya padaku atau juga Natalia. Begitu aku kembali mengangguk sambil tersenyum sopan, kamu melanjutkan: “Jadi sekretaris juga, kayak Vanya? Atau staf admin?”
Sekarang aku ingin tertawa. Bukannya mau merendahkan profesi tersebut, seperti yang sayangnya masih dilakukan banyak orang. Nada bicaramu juga menyiratkan demikian. Ibuku pensiunan sekretaris korporat dan beliau sosok luar biasa.
“Bukan, Maura.” Sekali lagi aku menggeleng, masih dengan kesopanan yang sama. “Aku pengajar juga. Natalia juga, cuma dia beda sekolah.”
“Kamu ngajar juga??” Aduh, wajahnya nggak usah kaget banget gitu deh, Mbak!pikirku, tambah geli sekaligus sedikit keki. Kamu bahkan juga bingung saat menatap Natalia. “Kamu juga?”
“Iya,” jawab Natalia halus. Akhirnya, kamu mati gaya juga. Sempat kamu bercerita cukup banyak – dengan mata berbinar-binar bangga – bahwa kamu baru datang dari New York ke Jakarta dengan suami bulemu, Sal. Kamu ingin berbisnisfranchise tempat kursus dan sedang berusaha mencari tahu. Pertanyaan terakhirmu adalah:
“Kamu tahu nggak, gimana caranya?”
Lagi-lagi, aku dan Natalia sama-sama menggeleng. Akhirnya kamu menyerah. Kamu meninggalkan kami dan bergabung dengan para lelaki bule yang merokok, termasuk Sal, suamimu. Kulihat kamu hanya menggelendot manja pada lelaki bule bermata sayu dan berhidung mancung. Kamu juga ikut merokok.
Natalia dan aku saling berpandangan dengan geli, sebelum kembali mengobrol. Sesekali kuperhatikan pantulan diriku sendiri di cermin.
Hanya seorang gadis gemuk dengan wajah tanpa make-up dan pakaian semi-casual: jeans dan kaos. Tidak seperti perempuan lainnya siang itu di meja yang sama, tapi aku bukan kepompong…apalagi kutu.
Kupu-kupu? Ah, tak perlu. Bukan aku yang putus-asa ingin menjadi kupu-kupu. Aku tahu, aku lebih baik dari itu…
R.
(Prompt#121: “Kutu-kutu yang Hendak Menjadi Kupu-kupu” – Monday Flash-fiction)

Sabtu, 28 Mei 2016

"WILLA"

Aku terbangun di sebuah gubuk tua yang samar-samar kuingat sebagai rumahku, namun sendirian pagi itu. Tidak ada siapa-siapa. Aku tidak ingat atau pun tahu siapa keluargaku. Aku hanya ingat nama dan usiaku: Willa Smith, 14 tahun.
            Ah, gubuk tua ini kotor dan tak terurus. Sarang laba-laba dan debu dimana-mana. Anehnya, aku tidak sampai bersin. Nyaris tidak ada perabotan apa pun, kecuali ranjang lapuk di kamar tidur yang sepertinya juga milikku.
            Benarkah? Ah, entahlah. Aku bingung. Jangan-jangan semalam kepalaku habis terbentur sesuatu.
            Kuperiksa kepalaku sendiri dengan cara menyentuhnya. Tidak ada bekas luka, benjolan, atau pun rasa nyeri. Aku hanya tahu rambutku panjang, ikal, dan tebal.
            Aku menunduk dan melihat dua helai ikal gelapku yang melewati bahu. Ah, ternyata aku memakai gaun putih kusam selutut. Pakaian tidur? Ingin kucari pakaian lain untuk berganti, namun lemari pakaian pun tidak ada di situ. Aneh sekali.
            Merasa penasaran, akhirnya kubuka pintu kamar dan melangkah keluar.
            Tidak ada siapa-siapa. Ruang makan kosong dan jendela terbuka. Matahari bersinar cerah. Angin sepoi-sepoi berhembus masuk.
            Oke, ini benar-benar aneh sekali.
            “Halo?” panggilku. Tentu saja, tidak ada yang menjawab. Aku mendekati pintu keluar dan membukanya.
            Ternyata, gubuk ini berada di tengah-tengah hutan. Aku menunduk dan mencari-cari alas kaki yang kira-kira bisa kupakai. Tidak ada. Ah, sudahlah. Lagipula, sepertinya aku sudah terbiasa bertelanjang kaki, meski di hutan.
            Oh!
            Ada kilasan ingatan di benakku. Aku berlari-lari di hutan ini, memakai gaun namun bertelanjang kaki. Seorang anak laki-laki seumurku yang berambut ikal gelap dan pendek mengejarku. Kami sama-sama tertawa.
            Sepertinya aku kenal dia...
            Aku tertegun. Karena berjalan sambil melamun, tanpa sadar aku sampai di depan sebuah sumur tua yang dikelilingi pepohonan.
            Namun, entah mengapa, mendadak muncul perasaan tidak enak. Aku tidak berani mendekat, namun yakin bahwa sumur itu pasti dalam.
            Angin dingin berhembus lebih kencang dari sebelumnya, hingga mengibarkan helai rambutku. Aku bergidik, membayangkan lubang yang dalam, gelap, dan nyaris seperti terowongan tanpa akhir...
            Aku berbalik, lalu berlari dan terus berlari...hingga akhirnya tiba di pemukiman penduduk terdekat. Aku berhenti di sebuah toko. Poster di jendela membuatku terperangah.
            TELAH HILANG: WILHELMINA ‘WILLA’ SMITH, 14
            Oh, tidak!
            Pemukiman itu masih sepi, namun aku tidak lagi peduli. Tanggal yang tertera pada poster itu menyatakan bahwa aku sudah menghilang selama setahun.
            Tidak mungkin.
            Namun, kilasan ingatanku berikutnya kembali menyadarkanku.
            Aku berhasil lari dari bocah itu. Siapa namanya? Andy. Kami sedang bermain-main. Aku tidak melihat dinding sumur itu yang sudah rontok sebagian...
            “Tidak. Tidak, tidak, tidak...”
            Aku terduduk dan sesenggukan. Kupejamkan mata rapat-rapat, sambil berkali-kali meyakinkan diri:
            Ini cuma mimpi. Cuma mimpi...Cuma mimpi...mimpi...
****

            Aku terbangun di sebuah gubuk tua yang samar-samar kuingat sebagai rumahku, namun sendirian pagi itu. Tidak ada siapa-siapa. Aku tidak ingat atau pun tahu siapa keluargaku. Aku hanya ingat nama dan usiaku: Willa Smith, 14 tahun...


Sabtu, 21 Mei 2016

"RAMBUT PENDEK JANE"

“Kenapa sih, kamu nggak mau panjangin rambutmu aja? Biar lebih kayak perempuan, gitu!”
            Jane sudah muak mendengar komentar semacam itu jutaan kali. Dari kerabat setiap acara keluarga, teman-teman SMA, teman-teman kuliah...hingga sekarang, teman-teman kantor. Alasan mereka beragam, meski intinya sama saja.
            “Rambutmu pasti lebih keren kalo panjang. Kamu juga bakalan kelihatan lebih cantik.”
            Jujur, Jane benci sekali. Kenapa banyak orang harus begitu usil? Suka-suka dia dong, mau berambut pendek atau panjang. Mau Jane mengecat rambutnya pirang atau merah, mereka mau apa?
            Bisa nggak sih, seorang perempuan bernapas lega sehari saja, tanpa harus berurusan dengan mereka yang merasa lebih berhak mengatur-atur keseluruhan hidupnya?
            Bisa nggak sih, seorang perempuan hidup tanpa harus merasa takut atau terancam karena pilihan hidupnya?
            Ah, mereka tidak akan pernah mengerti. Biarlah mereka menilainya sesuka hati. Jane sudah lelah setengah-mati. Mereka merasa sudah tahu segalanya. Jane tidak berutang penjelasan apa-apa pada mereka.
*****
            Malam itu, ruangan yang luas di sebuah rumah itu terisi oleh sekumpulan orang. Mayoritas perempuan. Seorang perempuan berkaca mata tersenyum lembut dan penuh pengertian pada mereka.
            “Untuk sesi kali ini, ada yang mau berbagi cerita?” Satu tangan terangkat. “Silakan, Jane.”
            “Hai, nama saya Jane.”
            “Hai, Jane.”
            “Waktu itu, saya masih SMP.” Perempuan berambut pendek itu tersenyum getir, membayangkan dirinya dulu: ceria, berseragam, dan berambut panjang. “Saya pulang terlambat sore itu karena les matematika. Saya tidak sempat melihat mereka. Hanya, tiba-tiba saja...ada yang menjambak rambut saya dari belakang...”
            Jane berhenti. Meski pandangannya kini mengabur, dia masih bisa mendengarnya: isak tangis beberapa hadirin. Tangis yang mirip tangisan ibunya malam itu di ICU.

            “Jane?” tanya perempuan berkaca mata itu dengan prihatin. Namun, Jane masih diam. Di benaknya, masih ada versi mudanya dulu yang naas sore itu: terkapar di pinggir jalan sepi, berlumuran darah. Seragamnya robek dan wajahnya penuh lebam. Ada nyeri yang teramat sangat di antara tungkainya...


Sabtu, 14 Mei 2016

"SAYAP PATAH BIDADARI CILIK"

Aku merindukan-Nya. Sejak hari itu, hidupku tak lagi sama.
            Aku hanyalah siswi sekolah biasa. Pagi belajar, sore pulang. Kemana-mana lebih sering berjalan kaki. Biasa sendiri. Tidak pernah ada masalah. Selama ini, aku baik-baik saja.
            Hingga hari itu...
            Seperti biasa, aku pulang lewat jalan yang sama. Entah kenapa, kali ini ada mereka. Berkumpul bersama, mengobrol dan tertawa keras-keras. Bau arak dan tuak yang begitu kuat membuatku pusing dan mual. Mata-mata mereka merah dan berair.
            Haruskah aku berbalik arah? Ah, ini ‘kan, rute biasaku. Masa aku yang harus mengalah hanya gara-gara ada mereka? Kata Ayah, aku mesti berani, meski perempuan. Hanya boleh takut pada-Nya. Bunda yang selalu was-was dan rajin mengingatkan diriku agar selalu waspada dan menjaga diri. Gara-gara itulah mereka berdua sering bertengkar.
            Tak kupedulikan bisik-bisik, cekikikan, hingga suit-suitan nyaring mereka yang memang mencari perhatianku dengan sengaja. Norak dan menjijikan. Kata Ayah dan Bunda, mereka pengangguran. Tidak ada kerjaan, terlalu banyak waktu luang. Terus malah mengganggu orang.
            Kukira pakaian seragamku sudah cukup panjang. Namun, ternyata dunia bohong saat bilang bahwa aku takkan pernah diganggu karenanya. Aman?
            Tidak, orang-orang mabuk itu tiba-tiba menyergap dan menarikku dari belakang! Tolong...
*****
            Kata Ayah dan Bunda, aku akan selalu menjadi bidadari mereka. Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah bidadari harusnya suci? Seharusnya bidadari punya sayap, hanya agar bisa terbang tinggi dan jauh sekali – jauh dari tangan-tangan yang ingin merusak semua keindahan yang ada. Kadang alasan mereka hanya karena mau dan bisa melakukannya. Itu saja.
            Bagaimana ini? Kini sayapku telah patah. Aku tak lagi sama. Rusak semua.
            Gara-gara mereka!
            Sekarang aku hanya ingin bersama-Nya. Salahkah? Kasihan juga Ayah dan Bunda. Mungkin hanya Dia yang mau menerimaku apa adanya. Apa jangan-jangan Dia menyalahkanku juga, seperti kata mereka yang merasa sudah tahu segalanya?
            Ah, sudahlah. Entah...
*****
            “Bip...bip...bip...biiiip...!”
            “PUTRIII!”

            Siang itu, di salah satu kamar di sebuah rumah sakit, seorang ibu menangis histeris, sambil menatap pilu pada wajah bidadari ciliknya yang kini beku, sebelum mereka menutupinya dengan selembar kain putih...

Sabtu, 16 April 2016

"CATATAN TERAKHIR"

Aku adalah manusia terakhir di kota ini. Saat ini, aku tengah bersembunyi dalam sebuah bunker di bawah lantai rumahku. Persediaan makanan menipis. Entah berapa lama lagi aku dapat bertahan sendirian begini. Bantuan belum juga datang. Peralatan komunikasi sudah dirusak semua dengan brutal.
            Ini mungkin akan menjadi catatan terakhirku. Di luar sana, anarki tengah merajalela. Lucunya, kali ini bukan gara-gara manusia.
            Maaf, tidak lucu sebenarnya. Mengerikan malah.
            Ada yang bilang, pemanasan global yang semakin parah memicu perubahan perilaku dan anomali fisik para binatang di luar sana. Sebuah lompatan evolusi yang ekstrim. Namun, ada juga yang berteori begini:
            Ini gara-gara program rahasia pemerintah berupa percobaan ilegal pada semua jenis binatang yang dapat mereka temukan di seluruh dunia. Entah bagaimana caranya, mereka telah menyuntikkan sel-sel yang dapat mengembangkan ‘kecerdasan buatan’ atau AI (Artificial Intelligence) ke dalam otak para binatang. Jika memang benar adanya, maka mereka telah berani menentang takdir dengan mengubah ciptaan Tuhan.
            Ya, aku berada di zaman semua binatang dapat berbicara, layaknya manusia. Besar, kecil, liar, jinak, berbisa, bercakar, berbulu, bersisik...semuanya. Seorang lelaki sampai mati terkena serangan jantung gara-gara anjing peliharaannya mendadak mengajaknya bicara.
            Lalu, serangkaian kekacauan pun tercipta. Rupanya, terlalu lama mereka menyimpan dendam, berabad-abad pula – dengan kisah-kisah penindasan manusia terhadap manusia yang diceritakan tiap generasi. Tahu-tahu banyak yang mogok, enggan menjadi binatang peliharaan. Berikutnya mereka menuntut hak pendidikan dan kesetaraan. Bahkan sampai ada partai khusus binatang di kancah politik segala.
            Ketika Singa akhirnya terpilih menjadi gubernur, keadaan benar-benar berubah – terbalik 180 derajat! Mereka ingin menghancurkan semua bangunan beton dan kembali membangun hutan belantara. Para napi di penjara dijadikan santapan singa, macan, dan para karnivora lainnya. Lumayan, tingkat kriminalitas akibat manusia langsung menurun tajam. Tapi...
            Manusia yang masih hidup adalah manusia yang ‘tunduk’. Menjadi budak, peliharaan, atau...

            “AAARRRGGGHHH!!!”

            Atap bunker jebol. Terdengar dengusan bercampur geraman. Buku tulis dan pena itu terjatuh di lantai, terciprat darah. Tak lama, terdengar debuman keras saat delapan pasang kaki besar meloncat kembali ke atas, meninggalkan bunker yang kini sunyi total...


Sabtu, 12 Maret 2016

"SURAT ADAM UNTUK MAMA"

Hai, Ma. Maaf aku baru bisa mengabari Mama sekarang. Butuh waktu lama untukku agar merasa cukup aman mengirim surat ini. Aku masih harus berhati-hati.
            Aku tidak bisa memberitahu lokasiku sekarang. Mereka pasti masih mengawasi Mama. Jangan-jangan mereka malah sudah membaca surat ini duluan. Aku tidak mau Mama lagi-lagi jadi susah gara-gara aku. Sudah terlalu sering aku menyusahkan Mama, meski tidak sengaja. Aku sayang Mama.
            Aku baik-baik saja, meski masih bertanya-tanya. Mama tahu maksudku. Selama ini, banyak sekali yang sepertinya Mama sembunyikan. Mama tidak pernah mau cerita.
            Siapa Papa? Mama selalu menangis setiap kali kutanya. Awalnya aku tidak tega, namun lama-lama aku lelah. Aku berhak tahu, Mama. Aku muak dengan bisik-bisik tetangga dan cemoohan mereka.
            Di sekolah, aku juga sering banget diganggu. Billy Carter dan gengnya rajin sekali memukuliku dan mengataiku anak buangan, bahkan menyebut Mama murahan. Tidak ada yang pernah mau membelaku. Semua hanya diam dan menonton, entah karena takut pada Billy atau malah juga membenciku. Entah apa salahku. Aku tidak pernah mau mengganggu siapa-siapa. Tak ada yang perlu jadi temanku bila memang tidak mau.
            Mama, tidak bosankah harus mengobati semua lukaku sepulang sekolah, entah itu bibirku yang robek, hidungku yang mimisan, hingga mata lebam? Aku bosan. Aku muak jadi korban.
            Pagi itu, aku sudah melewati puncak kemuakanku. Mendadak aku hanya ingin berteriak sekencang-kencangnya, tak peduli apa pun lagi. Mungkin karena itulah benda-benda di sekitarku terbang dan terlempar ke luar. Banyak yang hancur, kaca-kaca pecah.
            Aku tahu, Mama takut. Mata Mama tidak bisa bohong. Makanya, aku buru-buru kabur ke sekolah, entah kenapa. Mungkin aku kalut. Namun, begitu ingat bahwa di sanalah Billy dan gengnya selalu menunggu untuk menghajarku, aku semakin marah dan kembali berteriak. Semakin banyak barang yang hancur dan pecah. Ada yang menelepon polisi. Tim SWAT datang.
            Aku pun lari ke hutan. Mereka mengejarku. Aku takut.
            Sumpah, Mama. Aku tidak bermaksud untuk membunuh mereka. Maafkan aku...
            Bakarlah surat ini setelah selesai membacanya, Mama. Aku belum bisa pulang. Aku mau cari Papa dulu.
            Aku mau tahu apa Papa juga manusia...
            Love,
            Adam