Senin, 02 Mei 2016

"BERSULANG TERAKHIR"

Tidak biasanya kamu mengumpulkan kita semua di ruang makan malam itu. Empat gelas anggur tersedia di atas meja bundar. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.
"Dalam rangka apa ini?" Bill, salah satu dari tiga lelaki dalam rombongan ini bertanya. Sama sepertinya, aku dan Carl penasaran.
"Hanya ingin merayakan keberhasilan kita semua," katamu. Kita semua mengangkat gelas anggur masing-masing. "Tanpa kalian, mungkin aku akan masih berada di dalam penjara-"
"-dan kita masih akan tinggal di flat bobrok," sambung Carl.
Dan aku masih menjajakan diri di pinggir jalan, pikirku dengan masam. Ah...sudahlah, Ella, tegurku pada diri sendiri. Itu masa lalu sekarang.
"IMPIAN KITA TERKABUL!" serumu, sebelum kita berempat saling membenturkan gelas anggur. Cling! Bersulang.
Selesai menyesap anggur masing-masing, mendadak Bill dan Carl sama-sama mengeluarkan suara tercekik. Gelas anggur mereka terlepas dan pecah berhamburan di lantai, sebelum mereka pun ambruk seketika.
Kita berdua hanya mengamati dua lelaki bodoh itu menggelepar-gelepar di lantai seperti ikan-ikan tanpa air. Tak lama kemudian, mereka pun berhenti.
Mati...
"Mimpi yang indah," bisikmu dengan senyum keji. Lalu kamu berpaling padaku dan mendekat. Kurasakan lengan kekarmu di pinggangku. Mataku terpejam saat kamu menciumku.
"Sekarang hanya tinggal kau dan aku, Ella," gumammu puas. "Bagian kita lebih banyak sekarang."
"Ya." Jleb! Mendadak matamu terbelalak. Kamu mundur perlahan, terkejut melihat pisau itu menancap di dadamu. Cairan merah gelap menggenang dan melebar di bagian depan kemeja putihmu.
Mata hijaumu menatapku tak percaya. Giliran aku yang tersenyum.
"Kamu juga, Andrew," ucapku. "Mimpi yang indah."
R.
(Jakarta, 11 Maret 2016 - untuk Tantangan Menulis Jakarta's Couchsurfing Writers' Club di Black Canyon Coffee, Cikini. Tema: "Bersulang Terakhir".)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar