Rabu, 09 Maret 2016

"HANYA GERHANA"

Tidak ada naga raksasa di angkasa
yang akan memakan sang surya
Ini sudah zaman yang berbeda

Tak ada yang perlu ditakutkan
Lupakan takhyul menyesatkan
Percuma bila sudah mengenal agama dan ilmu pengetahuan

Naga itu hanya dongeng rakyat belaka
Tak ada teror di balik sebuah peristiwa alam yang luar biasa
Hanya gerhana, seizin Yang Maha Kuasa...

R.
(Jakarta, 9 Maret 2016 - 10:45)

Selasa, 08 Maret 2016

"PERDEBATAN KITA TENTANG MALAM"

Untuk apa kita perdebatkan langit malam itu
dan siapa yang berhak berada di bawahnya
bernapas bebas di tempat terbuka
sementara ada yang (dianggap) wajib mendekam
senantiasa mengurung diri dalam hunian
atas nama 'keamanan'?

Bukankah kita penduduk planet yang sama?
Mengapa kau harus mendapatkan segalanya,
bebas melangkah kemana-mana,
sementara aku harus diam dan menurut saja,
cukup puas dengan yang sudah ada
bahkan tanpa debat maupun tanya?

Aku ingin dianggap manusia
juga dan seutuhnya
bukan objek belaka
dan bukan pemuas napsumu saja

Aku ingin senantiasa merasa aman
bahkan saat sendirian
atau di bawah langit malam
Permintaanku sederhana, bukan?

Entah kenapa, kamu malah menganggapnya sebagai gangguan
bahkan ancaman...

R.

Senin, 07 Maret 2016

Minggu, 06 Maret 2016

"TIGA (3) JENIS MANUSIA DI TENGAH PESTA"

Satu malam di sebuah pesta, saya mengobrol dengan seorang kenalan baru. Berawal dari topik yang ringan-ringan saja, hingga berlanjut ke yang agak 'berat' dan sedikit filosofis. (Jiahh!)
Singkat cerita, si kawan baru tampak terkesan dengan saya yang malam itu tampak lumayan PD (percaya diri). Bukan, bukan dari cara berpakaian.
Saya termasuk tamu yang cukup 'lincah' malam itu, berpindah-pindah dari satu kerumunan ke kerumunan lainnya. Mengajak kenalan wajah-wajah baru atau mengenalkan diri sebelum mengobrol. Tidak statis di satu grup saja.
Begitu saya cerita bahwa saya seorang blogger dan selalu tertarik mendengar cerita-cerita orang lain (tanpa bermaksud 'kepo' tentunya), kawan baru saja bertanya:
"Terus, apa yang bisa kamu dapat dari pengamatan kilat malam ini?" Lalu, kami sepakat bahwa ada tiga (3) jenis manusia di tengah pesta:
1. Tipe yang cocok atau/dan berusaha mencocokkan diri.
Jangan salah, tipe ini tidak selalu berarti 'jaim' atau enggan menjadi diri sendiri. Mereka yang masuk kategori ini adalah yang tahu benar cara menempatkan diri dalam situasi saat itu. Mulai dari cara berpakaian, berbicara, makan dan minum, hingga interaksi lainnya dengan sekitar mereka. Lebih bagus lagi bila mereka bisa melakukan semua hal tersebut tanpa harus kehilangan jati diri mereka. Ibaratnya, mereka sudah senyaman di rumah sendiri.
Kekurangannya: eits, jangan salah. Tipe ini juga tidak sempurna. Karena sudah merasa cocok dengan sekitar, mereka cenderung dominan dan (selalu) ingin jadi pusat perhatian. Akibatnya, mereka kurang berempati dan bersimpati dengan tamu pesta yang cenderung pendiam, pemalu, atau canggung secara sosial. Boro-boro mengajak ngobrol, mungkin mereka malah lebih sibuk sama yang sudah bikin mereka merasa jauh lebih nyaman. Apalagi bila itu sahabat lama atau se-geng.
Saran: PD boleh, tapi ingatlah bahwa Anda bukan satu-satunya yang berhak didengar di pesta tersebut. Cobalah untuk keluar dari 'zona nyaman' Anda dengan tidak terlalu asyik dengan geng sendiri, terutama bila Anda yang punya acara. Pastikan semua tamu yang datang merasa disambut, meski misalnya teman/pasangan dari undangan Anda - mungkin - kurang berkelas alias cupu di mata Anda. Nggak perlu bersikap palsu, sopan saja sudah cukup.
2.Tipe yang canggung dan (cenderung) berusaha terlalu keras.
Kemungkinannya bisa dua: diam sekali hingga 'mojok' (hingga terkesan nggak sopan, karena diam saja saat ditegur) atau jadi berisik setengah mati hanya karena ingin kelihatan 'cool' dan 'dianggap'. Keduanya merupakan reaksi khas mereka yang punya masalah dengan kepercayaan diri.
Kadang saking gugupnya, mereka yang masuk kategori ini cenderung melakukan hal-hal yang memalukan tanpa sengaja, mulai dari menumpahkan minuman, salah sebut nama, hingga mengucapkan hal-hal konyol - termasuk yang bisa juga disebut "TMI" (too much information). Aduh!
Kelebihannya: tadi 'kan, sudah menyebut kekurangan mereka. Bagi yang canggung dan cenderung pendiam, biasanya mereka pengamat dan pendengar yang baik. Mereka lebih berhati-hati dalam berbicara, meski kadang terkesan kaku dan cenderung paranoid bagi yang tidak memahami.
Bagi yang sebaliknya, mereka bisa langsung tahu - mana orang yang bisa langsung berempati dengan mereka dan mana yang tidak. Selain itu, biasanya mereka juga cukup tangkas memperbaiki kesalahan mereka dan segera belajar dari pengalaman.
Saran: TENANG. Tarik napas dalam-dalam. Belum nyaman ngobrol? Tidak perlu memaksakan diri. Cukup senyum ramah dan jadi pendengar yang baik dulu saja. Sesekali menjawab pertanyaan mereka juga bisa. Tak perlu berusaha mengesankan orang dengan mengarang cerita yang hebat-hebat tentang diri sendiri. Berbohong sama saja dengan memberi kesan palsu dan - percayalah - tidak semua tamu sebodoh itu. Cukup tunjukkan diri Anda apa adanya.
Bagi yang sudah kepalang 'malu-maluin' di depan umum, cukuplah minta maaf sambil tersenyum. Paling aman sih, Anda jujur dengan yang punya acara bahwa Anda merasa agak gugup. Siapa tahu ada tamu yang berbaik hati dan berusaha membantu mengurangi kecanggungan Anda.
Jika ada yang Anda kenal dekat di pesta (atau mungkin yang punya acara sahabat Anda), bolehlah meminta tolong mereka untuk sementara menjadi mediator Anda dengan tamu-tamu lain, hingga akhirnya Anda merasa cukup 'aman dan nyaman' untuk maju sendiri.
3. Tipe cuek.
Oke, Anda termasuk orang yang sangat percaya diri dan tidak begitu memikirkan pendapat orang lain. 'Jaim' tidak ada dalam prinsip Anda. Anda benar-benar menjadi diri sendiri dan merasa tidak perlu membuang-buang waktu dan tenaga untuk berusaha mengesankan/menyenangkan orang lain, apalagi sampai berpura-pura. Mereka suka Anda, syukur. Kalau enggak, Anda juga tidak akan menderita atau mati karenanya.
Intinya, Anda bukan tipe yang mudah di-bully. Kalau ada tamu pesta yang melirik Anda dengan ekspresi mengejek atau merendahkan, mungkin Anda malah balas memandang mereka tanpa ekspresi atau dengan perasaan geli...atau malah lewat saja, menganggap mereka tidak ada. Rutinitas a la "Mean Girls" bagi Anda tidak berguna.
Kekurangannya: baguslah bila Anda cukup percaya diri menghadapi segalanya. Namun, jangan sampai bablas - cenderung tidak sopan, kasar, dan tidak tahu aturan. Kebiasaan Anda untuk ngomong blak-blakan membuat Anda terkesan tidak peduli dengan perasaan orang lain. Jujur boleh, tapi yakin mau sampai mengajak orang lain bermusuhan? Jangan sampai kemudian Anda di-blacklist untuk undangan-undangan pesta berikutnya. Itu kalau Anda peduli lho, ya.
Saran: tetap PD tanpa melupakan aturan dan tata cara yang berlaku saat datang ke pesta. (Ini tidak disamakan dengan munafik atau bersikap palsu, ya.) Cobalah untuk lebih mengenal tamu-tamu yang ada dan mengingat nama dan wajah mereka. Selain itu, jangan lupa dengan membiarkan mereka gantian bercerita, karena bukan Anda saja yang berhak didengar.
Ada yang tidak nyaman atau bahkan tidak suka dengan kehadiran Anda di sana? Selama Anda yakin Anda tidak pernah menyakiti mereka, kenapa harus kepikiran? Toh, kita tidak bisa menyenangkan semua orang.
"Jadi, kamu termasuk yang mana?"
Saya tersenyum pada kawan baru saya.
"Tergantung mood dan suasana."
R.
(Jakarta, 28 Januari 2016 - 7:00)

Sabtu, 05 Maret 2016

"TITAHMU"

Apa pun yang kau inginkan
wajib kami kabulkan
tanpa banyak pertanyaan
apalagi ekspresi keberatan

Kami bisa saja meminta
namun kau akan acuh seperti biasa
Kau selalu punya cara
agar kami lengah saat kau semena-mena

Kau ingin kami diam
meski harus menyimpan dendam
Kau takkan peduli dengan racun yang terpendam,
hingga suatu saat kau terhantam!

R.
(Jakarta, 5 Maret 2016 - 14:35)

Kamis, 03 Maret 2016

"29 FEBRUARI UNTUK SINEAD DAN CILLIAN"

Aku ingin melamarmu tepat pada hari ulang tahunku. Aku tahu, aku terdengar begitu konyol dan kuno, karena masih saja mengikuti tradisi. Apalagi, bila harus mengikuti tanggal di kalender, ulang tahunku harusnya hanya bisa dirayakan empat tahun sekali.
            Dan jujur, aku sudah kenyang dengan ragam ledekan soal hari lahirku. Untunglah, kamu orang ketiga setelah Mum dan Dad yang menganggapku unik. Kita bahkan punya ritual bila tanggal ulang tahun asliku tidak sedang muncul di kalender:
            Kita akan bergadang menjelang 1 Maret. Tengah malam kalian akan membanjiriku – entah dengan hadiah atau masakan kesukaanku. Sebenarnya, ada kalian saja aku sudah senang.
            Kali ini, aku ingin merayakannya dengan cara berbeda. Di depan Mum dan Dad, aku berlutut di hadapanmu dengan cincin, sama seperti yang kalian para lelaki lakukan. Sudah gilakah aku?
            “Cillian, will you marry me?”
            Kupejamkan mataku dengan jantung berdebar-debar keras. Di luar dugaan, kamu ikut berlutut dan memegang kedua tanganku. Saat kubuka mataku, di tanganmu ternyata juga ada cincin. Kamu tersenyum geli padaku.
            “I guess we’re thinking of the same thing,” katamu. “Besides, you needn’t follow that tradition, Sinead. This is 2016, the era of feminism, remember?”

            Kita berdua tertawa, begitu pula Mum dan Dad. Ah, memang kami orang Irlandia...



"KAMU YANG MASIH KUTUNGGU MESKI KALI INI TANPA SIKSA RINDU..."

Ada cerita lama tentangmu
terucap dari mulut itu
kembali membangkitkan rasa rindu
meski tak lagi mengundang pilu

Mungkin aku sedang mati rasa
atau malah baik-baik saja
Yang pasti, aku tidak sedang memikirkan cinta
Apakah kamu juga sama?

Sampai bertemu,
wahai teman lamaku
Dengan sabar akan kutunggu,
sebelum kembali bersitatap dengan matamu yang biru...

R.