Rabu, 01 Juli 2015

"BERMALAM DI TEMPAT SERAM"

“Gue udah daftar. Tinggal tunggu panggilan.”
            “Hah, becanda lo?!”
            “Gue kepepet, Nes. Udah dua bulan nunggak tagihan kos.”
            Kedua mahasiswi tahun pertama itu bertukar pandang malam itu. Kebetulan kafe kampus lagi sepi, jadi keduanya bisa mengobrol dengan leluasa.
            Nessa menatap Rere yang tampak galau. Agak kesal, gadis mungil berwajah manis itu berkacak-pinggang. Ekspresinya sekarang tampak galak.
            “Berapa?”
            Rere memandangnya dengan tatapan kosong. Sahabatnya pun makin galak.
            “Rere!”
            “Hampir satu setengah juta...untuk dua bulan.”
            Nessa melongo karena kaget. “Elo ‘kan bisa pinjem duit gue dulu!”
            Rere menggeleng sambil tersenyum tipis. Nessa berasal dari keluarga lebih berada, tidak seperti dirinya. Memang, gadis itu baik sekali. Namun, almarhum Papa sudah mengajarkannya agar jangan terlalu bergantung pada (belas kasihan) orang lain. Sebisa mungkin juga jangan sampai berhutang.
            TV di kafe itu menayangkan iklan sebuah program acara realita salah satu stasiun lokal. Dengan latar suram dan muram sebuah rumah besar yang lebih cocok jadi kastil berisi hantu, seorang gadis menghadap kamera. Rambut hitamnya yang sebahu tergerai. Dia berpakaian serba hitam, dengan eyeliner yang membuat penampilannya makin mirip putri goth.
            “Berani terima tantangan kami?” tanyanya dengan nada sendu. “Daftarkan diri Anda ke alamat di bawah ini.”
            Tampak deretan caption berupa nama studio, alamat, nomor telepon (dan ponsel), situs, e-mail, hingga media sosial acara yang bersangkutan terpampang di layar. (Banyak, ya?) Sementara itu, host bergaya goth tadi masih menatap kamera dengan mata nyalang.
            “Saya Yuni Marinka, untuk acara ‘Bermalam di Tempat Seram’...”
            Wajah Nessa memucat. Entah kenapa, perasaannya makin tidak enak. Ditatapnya gadis tinggi besar di hadapannya.
            “Re, lu beneran mau ikutan acara kayak gitu? Serius??”
--- // ---
            “Mbak Reda siap-siap, ya. Kru BTS akan menjemput Mbak siang ini. –Dadang- “
            Rere melirik SMS itu sekilas, sebelum membalasnya singkat: “Oke.” Lalu dia mengintip keluar kamarnya. Bu Anna sudah pergi. Bagus. Berarti situasi aman baginya untuk keluar dan pergi ke kampus.
            Sebenarnya tidak enak bagi Rere untuk menghindari Bu Anna seperti ini. Bu Anna sebenarnya juga baik, bukan tipikal ibu kos yang galak dan cerewet menagih. Namun karena kalem, banyak yang malah jadi segan sama beliau. Di balik kalemnya, Bu Anna pernah melaporkan salah satu mahasiswi, yang pernah ketahuan ‘menyelundupkan’ lelaki ke dalam kamar kosnya, kepada orang tuanya. Sejak peristiwa itu, penghuni lain tidak berani berbuat yang ‘aneh-aneh’ – sesuai larangan yang tercantum pada papan peringatan di samping kulkas Bu Anna. Mereka ngeri.
            Ah, andai saja Mama tidak jatuh sakit, hingga kiriman uang sempat terhambat. Andai saja gaji di kafe kampus mencukupi. Andai saja semua cerpen kirimannya ke majalah-majalah remaja selalu menghasilkan uang banyak...
            Dan beragam ‘andai-andai’ lainnya...
            Saat menonton “Bermalam di Tempat Seram”, Rere langsung terinspirasi untuk mendaftar. Maklum, hadiahnya cukup menggiurkan. Dua setengah juta rupiah, hanya untuk bergadang semalaman di tempat angker pilihan produser TV acara yang bersangkutan.
            Kurang dari seminggu setelah pendaftaran, akhirnya Rere dinyatakan diterima sebagai peserta acara tersebut. Tentunya setelah Rere mengirimkan surat pernyataan kondisi kesehatannya dari dokter di kampus. Nggak mau ‘kan, di tengah-tengah acara Rere mendadak kena serangan asma atau jantung karena ketakutan? Hiih!
            Kru TV acara ‘BTS’ akan menjemput Rere Sabtu ini, segera setelah jam kuliah terakhir di siang hari. Karena itulah, malam sebelumnya, gadis tomboy berambut pendek dan ikal itu sibuk packing. Tak perlu terlalu banyak membawa baju dan barang-barang yang dirasa tidak perlu. (Hanya akan memberatkan isi ranselnya!) Paling yang penting pakaian nyaman, jaket (karena takut akan masuk angin saat harus bergadang semalam suntuk nanti), dan perlengkapan ibadah. (Memang, di lokasi sudah ada paranormal yang berjaga-jaga kalau tiba-tiba – idih, amit-amit! – Rere kesurupan. Moga-moga sih, enggak. Jangan sampai aja!)
            Fiuh, akhirnya selesai juga. Rere menatap bayangannya sendiri di cermin dengan perasaan galau.
            Jujur, sebenarnya dia deg-degan...
--- // ---
            Saat yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba juga.
            Kru ‘BTS’ yang berpakaian serba hitam menjemput Rere di kampus. Tanpa pikir panjang lagi, Rere langsung naik ke dalam van mereka. Gadis itu melambai ceria pada Nessa yang masih tampak was-was. Setelah itu, Rere menghabiskan sepanjang perjalanan ke lokasi syuting dengan berkenalan serta mengobrol dengan para kru. (Yuni Marinka ternyata tidak seseram di TV. Baik, ramah, dan gak sok seleb.)
            Rere sempat jatuh tertidur. Entah berapa lama, karena tahu-tahu dia dibangunkan. Rupanya mereka sudah sampai di tujuan. Hari sudah malam.
            Melalui jendela van, Rere bisa melihat sebuat vila di daerah Puncak. Vila itu tampak seperti vila tua dan berlantai dua. Kata Mas Dadang, produser acara, vila itu akan dirobohkan dalam dua minggu ini oleh pemerintah daerah setempat. Beragam rumor sempat terdengar. Ada yang bilang, pemiliknya menghilang entah kemana. Kata penduduk setempat, pernah terjadi pembunuhan di dalam sana. Ada juga yang mengaku pernah – dan sering – menyaksikan ‘penunggu vila gentayangan’.
            Dan sekian banyak ‘katanya’ yang lain...
            Entahlah. Rere enggan memikirkannya. Yang dia tahu, dia hanya butuh uang.
            Rere menanti di van yang pintunya terbuka, sementara para kru menyiapkan setting lokasi. Tampak Yuni tengah berbicara di depan kamera, menceritakan lokasi dan sejarahnya kepada pemirsa di rumah.
            Brr...Rere menggigil. Entah kenapa, tiba-tiba angin malam berhembus cukup kencang. Dingin sekali. Gadis itu menunduk dan menaikkan retsleting jaketnya...
            “Permisi...”
            “AAAH!” Rere mendongak dan langsung menjerit kaget. Pemuda kurus dan pucat di depannya juga begitu. Bahkan, secangkir teh di tangannya sampai memercik sedikit ke seragam hitamnya.
            “Maaf, maaf,” katanya panik. “Saya hanya mau kasih teh dari kru untuk Mbak.”
            Jantung Rere masih berdebar-debar tak karuan. Pelan-pelan dia kembali mengatur napasnya, sebelum menerima teh yang masih lumayan mengepul-ngepul uapnya.
            “Nggak apa-apa, Mas,” katanya. Sambil sesekali meniup-niup teh, Rere juga mengendusnya, hmm, harumnya teh melati. “Makasih, ya.”
            “Sama-sama, Mbak.”
            “Ah, panggil saja Rere.” Entah kenapa, sosok di depan mata Rere menarik juga. Mukanya imut-imut, seperti versi mudanya Boy William. “Mas kru BTS juga? Kok tadi gak semobil sama saya?”
            “Saya sudah duluan di sini sebelum kalian datang,” katanya. “Nama saya Edo, gak perlu pakai ‘Mas’.”
            “Oke.” Rere menyeruput tehnya dengan nikmat. Tiba-tiba Mas Dadang memanggil dari arah vila:
            “Mbak Rere!”
            Sosok lelaki paruh baya berkaca mata itu menghampiri Rere yang masih duduk di ambang pintu van. Mas Dadang memakai jaket hijau di atas seragam hitamnya.
            “Sudah siap?”
            Rere mengangguk. Saat menoleh ke tempat Edo berdiri tadi, pemuda itu sudah lenyap entah kemana. Tanpa permisi dan cepat sekali. Tak terdengar langkahnya sama sekali.
            Ah, mungkin dia sudah harus kembali bertugas, batin Rere. Pasti sibuk sekali...
--- // ---
            Ternyata menjadi peserta ‘BTS’ tidak seseram yang selama ini dibayangkan oleh Rere. Membosankan malah, alias bikin ngantuk.
            Pertama, para kru memasangkan rompi bermikrofon mini dan topi berkamera pada Rere. Cukup berat. Tugas Rere hanya masuk seorang diri ke dalam vila tersebut dan melaporkan semua yang mungkin dia lihat, dengar, dan rasakan.
            Jika Rere merasa ketakutan dan ingin menyerah, dia bisa lari keluar vila atau sekedar melambai pada kamera yang telah dipasang di dalam vila oleh para kru.
            Hal itu tak pernah terjadi. Rere hanya melaporkan suara-suara biasa yang terdengar ‘normal’, alias tidak mistis. Bunyi kresek-kresek di balik lemari tua. (Mungkin tikus.) Angin dingin yang kerap berhembus, seperti dari segala arah.
            Itu saja. Tidak ada ‘penampakan’ atau semacamnya. Aman.
            Setelah pagi menjelang, Rere dipersilakan keluar dari vila oleh para kru. Saat matahari mulai menerangi langit, Rere dinyatakan sebagai pemenang dan berhak menerima dua juta rupiah – tunai dalam amplop! Senangnya.
            Para kru kembali mengantar Rere ke tempat kosnya. Di tengah jalan, tiba-tiba Rere teringat akan Edo. Dia berpaling pada Mas Dadang yang tampak amat mengantuk.
            “Mas Dadang, kru yang namanya Edo tadi udah pulang duluan, ya?”
            “Edo?” Kening Mas Dadang berkerut. “Malam tadi gak ada yang namanya Edo. Dia dari divisi lain.”
            “Dan dia lagi cuti,” kata Yuni, yang tampak sama bingungnya. “Kecuali kalo dia iseng ngintilin kita. Bukan kebiasaan dia, sih.”
            “Oh.” Rere kecewa. Tapi, tak lama kemudian dia jatuh tertidur. Ngantuk berat!
--- // ---
            “Ternyata nggak seseram yang dikira.”
            Nessa mendengarkan cerita Rere dengan takjub. Seminggu berlalu sejak Rere ikut ‘BTS’. Akhirnya, hutang kepada Bu Anna lunas. Mama di luar kota juga sudah sehat walafiat. Rere senang sekali!
            “Iih, gue sih, gak bakalan berani.” Nessa bergidik ngeri. Kedua gadis itu berhenti di depan kos Nessa. “Tapi gue tetep penasaran gimana elo ngadepinnya. Makanya malem ini gue mau nonton.”
            Rere tertawa. “Silakan,” katanya. “Gue mah, mending tidur.”
            Mereka berpisah dan Nessa memasuki kosnya. Di ruang tengah, dua temannya – Agni dan Lita – tengah menonton ‘BTS’. Keduanya memanggil Nessa begitu melihat gadis mungil itu.
            “Nes, temen lo, nih!”
            Ketiganya langsung nonton dengan serius. Tampak Rere sedang menghadap kamera, melaporkan bahwa dia tidak melihat keanehan apa pun di sekitarnya. Wajahnya tampak tenang...dan nyaris bosan malah.
            “Nes...Lit...itu...” Agni tak melanjutkan komentarnya. Ketiga gadis itu tercekam ngeri saat melihat sosok lain di belakang Rere.
            “Itu...itu bohongan, kan?”
--- // ---
            Malam itu Rere sempat tertidur. Dalam mimpinya, Rere kembali berada dalam vila itu. Para kru sudah menyuruhnya keluar, tapi entah kenapa pintunya tidak ketemu...
            Rere terbangun – dan nyaris menjerit kaget melihat sosok kurus dan pucat itu berdiri di hadapannya di dalam kamar.
            “Edo?!” Astaga, bagaimana dia bisa masuk?
            “Hai, Rere.” Edo tersenyum. Entah kenapa, ada yang janggal. Dalam temaram cahaya lampu meja Rere, pemuda itu tampak begitu pucat. Luar biasa pucat, disertai lingkaran gelap di sekitar matanya.
            “K-kok k-kamu – “
            “Aku mengikutimu sampai sini,” Edo mengakui. Senyumnya makin lama tampak mengerikan. “Aku suka kamu, Rere.”
            Rere menggigil, tak hanya karena ketakutan. Rasanya seperti ada angin dingin yang berhembus lagi, kali ini di kamarnya. Persis seperti waktu di vila dulu. Tatapan Rere jatuh ke lantai dan dirinya makin dicekam teror.
            Kaki Edo tidak menapak lantai. Dia melayang...
            “AAARRRGGGHHH!!!”
-SELESAI-


(Jakarta, 28/1/2014 – 11:00 pm sampai 27/2/2014 – 1:00 pm)

"TIDAK SEMUA HARUS DICERITAKAN PADA SEMUA..."

Saya ingat "Harriet The Spy", novel sekaligus film yang pernah saya baca dan tonton waktu kecil dulu. Singkat cerita, Harriet kecil punya cita-cita yang tidak biasa, yaitu menjadi seorang mata-mata. (Sesuai judulnya, 'kan?) Maka dia pun mulai berlatih dengan buku catatannya. (Zaman itu belum ada smartphone, I-Pad, atau Galaxy Tab.) Kemana pun, Harriet akan selalu memperhatikan sekelilingnya dan menulis semuanya dalam buku catatannya ibarat buku harian. Tingkah teman-temannya, tetangganya, orang tuanya, semuanya.
Sebenarnya ini cara paling seru dan sederhana untuk mulai belajar menulis, karena dulu saya pernah melakukannya waktu seumur Harriet (bahkan sebelum buku dan filmnya sampai di Indonesia.) Yang jadi masalah? Saat buku itu tanpa sengaja terbaca oleh teman-temannya, sehingga Harriet pun dimusuhi satu sekolah. (Biar nggak spoiler, silakan cari buku atau filmnya sendiri, ya.)
Saya pernah menghadiri ijab kabul pernikahan sepupu saya. Sang ustadz memberi wejangan kepada kedua mempelai mengenai pentingnya saling menutupi aib masing-masing. ("Istri adalah pakaian bagi suami dan begitu pula sebaliknya.") Dengan nada sedikit menggoda, sang ustadz berujar: "Jangan malah di-share di Facebook, ya."
Hadirin tertawa. Saya tidak. Sang ustadz serius, karena masalahnya memang serius.
Trending topics nggak akan jadi trending topics bila tidak jadi bahan perbincangan sedunia. Semakin panas isunya, semakin banyak yang angkat bicara - baik dari sosok yang beneran ahli hingga yang sekedar "meramaikan suasana".
Yang sering dilupakan orang? Mereka tak perlu selalu ikutan. Diam tak selalu berarti setuju/tidak, kalah, bodoh, lemah, pengecut, atau tidak tahu apa-apa. Lain cerita bila mereka memang doyan tampil dan selalu ingin "sumbang suara", meski kadang ibarat tong kosong yang nyaring bunyinya.
Namanya juga hak asasi manusia. Sampai ribut dengan teman, keluarga, atau bahkan orang yang tidak kenal pun ada. Semua demi mempertahankan pendapat, baik di dunia nyata hingga maya.
Karena itulah, saya juga punya hak asasi sendiri. Ada hal-hal yang sepertinya takkan pernah saya mau tulis di sini, se-trendy apa pun topiknya. Toh, yang namanya trending topics juga tidak selalu penting - setidaknya bagi saya. Tidak semua harus diceritakan pada semua. Kejujuran memang bisa sangat menyakitkan, tapi apakah itu lantas bisa kita pakai sebagai alasan untuk selalu melukai perasaan orang lain - terutama atas memenangkan argumen belaka? Sesekali menjaga perasaan orang lain (terutama yang sudah berbuat baik pada kita) nggak salah, kok. Kadang yang bisa kita lakukan hanyalah saling mendoakan agar Tuhan menunjukkan jalan terbaik bagi kita semua. Bukan berarti kita munafik atau tidak punya sikap. Semua tergantung masalahnya juga.
Beda pendapat itu biasa. Meski kadang tidak perlu, potensi drama akan selalu ada.
Bagi saya, jalan damai tidak selalu hanya untuk yang pengecut dan hanya mau cari aman. Seperti kata beberapa teman bijak: "Pick your battles wisely." Tak semua bisa dan harus selalu kita menangkan, apalagi pakai acara ngotot-ngototan atau sampai mengajak musuhan. Tak semua harus selalu diumbar, apalagi dengan niat saling 'menjatuhkan'. Ngapain juga? Apa untungnya? Kalau sampai Anda merasa senang karena telah berhasil menghujat lawan debat di depan umum sampai kalah (terserah perkara siapa yang benar dan salah), justru Anda malah sedang berada di posisi yang amat mengkhawatirkan. Dunia nyata tidak sama dengan sinetron Korea, dimana drama king and queen selalu berkuasa dan aman-aman saja.
Dengan ini, saya memutuskan untuk mulai lebih fokus pada yang relevan dan (langsung) bisa saya tangani. Jika sampai ada yang menanyakan opini saya mengenai trending topic terkini dan saya memutuskan untuk enggan menjawabnya, maka itu termasuk yang enggan (dan takkan mau) saya bahas. Saya berhak menolak dan memutuskan untuk diam, menyimpan opini pribadi saya dalam-dalam. Salam damai dan sekian.
R.
(Jakarta, 29 Juni 2015 - 13:00)

"SAAT LELAH BERBICARA..."

Jika lelah dapat berbicara,
mungkin kau takkan suka
Tak selalu kata-kata
saat mulut tak lagi bertenaga
bahkan untuk sekedar bisikan belaka

Jika lelah dapat berbicara,
sudikah kau mendengarnya?
Mungkin bukan berupa suara
Hanya desahan napas panjang adanya
dan wajah yang kehilangan cahaya

Biarkan lelah berbicara
meski hanya lewat air mata
Mungkin memang ini saatnya
dan kau tak perlu selalu suka
Kadang sebaiknya kau diam saja,
berusaha mengerti dan menerima...

R.
(Jakarta, 29 Juni 2015 - 10:45)

Minggu, 28 Juni 2015

Maher Zain - Baraka Allahu Lakuma | Official Lyric Video

“PENGALAMAN BURUK MENGGUNAKAN JASA OJEK (NON - GO-JEK)”

Tulisan ini tidak dibuat dengan tujuan menaikkan pamor Go-jek dan menyudutkan para tukang ojek lainnya. Saya tahu, tidak semua tukang ojek seperti ini. Kebetulan juga saya sudah punya beberapa tukang ojek langganan.
            Namun, seperti biasa, setitik nila dapat merusak susu sebelanga. Hanya gara-gara segelintir yang bersikap ‘enggak banget’, reputasi tukang ojek lainnya jadi ikutan rusak – bahkan meski tidak sengaja.
            Bagi penumpang ojek biasa, hal-hal ini mungkin biasa terjadi. Mulai dari tidak diberi helm dengan alasan “Ah, jarak dekat ini” atau “Tenang, lagi nggak ada polisi patroli”, mematok harga seenaknya (hingga kita berpikir: “Apa bedanya dengan naik taksi?”), sok-sok mengambil ‘jalan pintas’ yang sebenarnya malah ribet dan lebih jauh (taktik yang biasa digunakan supir taksi demi menaikkan angka di argo mereka, namun yang ini demi memakai alasan jauh agar penumpang – mau tidak mau – membayar lebih dari nego semula!), hingga suka ngebut nggak kira-kira dan nekat melanggar peraturan lalu-lintas seperti melawan arus, melanggar lampu merah, dan melewati rel kereta api meski kendaraan lain berhenti dengan resiko ditabrak kereta api yang mau lewat. Kadang suka tidak peduli bila penumpang sudah teriak-teriak marah dan ketakutan di belakang mereka. Halo, pelanggan kok, disepelekan?
            Masih belum cukup? Ada juga tukang ojek yang mudah terpancing emosi saat tidak sengaja ‘bersenggolan’ atau ‘disalip’ pengguna jalan lain, terutama sama taksi atau mobil. Boro-boro sampai turun dari motor dan mengajak mereka berantem, kalimat-kalimat ‘sakti namun rawan sensor’ yang sukses bikin sakit telinga pun bermuntahan dari mulut mereka. Bagi penumpang yang kebetulan sedang terburu-buru atau memang sekedar ingin cari selamat, saya tidak bisa menyalahkan mereka bila ingin segera hengkang cari tumpangan lain saat itu juga!
            Masih ada lagi: tukang ojek yang mendadak menerima telepon dari HP mereka atau membalas SMS – sembari berkendara! Sudah begitu, ngeyel pula saat diperingatkan penumpang: “Ah, saya juga pelan-pelan kok, Bu. Tenang aja. Takut amat, sih?”
            Iiihhh!!!
            Mas, kalau memang niat mau ditabrak, penumpang tidak perlu diajak-ajak! Jangan-jangan kalau sampai beneran terjadi kecelakaan dan penumpang terluka, Anda malah kabur lagi.
            Yang paling rawan dan menyebalkan (sekaligus menakutkan) adalah yang biasanya dialami penumpang perempuan muda, terutama di malam hari dan saat jalanan sekitar kebetulan sedang sepi.
            Bagi yang skeptis, tolong jangan main berspekulasi jelek dulu dengan beranggapan bahwa “itu pasti salah pakaian yang dikenakan si perempuan”, “ceweknya juga ganjen, kali”, hingga “salah sendiri, perempuan kok, keluar malam-malam sendirian?”. Please, deh! Pikiran seksis macam itu sudah saatnya masuk tong sampah. Ini bisa terjadi pada perempuan mana pun dan kapan pun.
            Pernah mengalami ini? Anda perempuan pekerja yang kebetulan harus pulang larut malam. Mau naik angkot atau taksi seram, terutama gara-gara berita kasus perampokan dan pemerkosaan. Anda tidak punya kendaraan pribadi dan tidak selalu ada yang bisa mengantar-jemput Anda.
            Mungkin si tukang ojek hanya berniat ramah-tamah alias basa-basi dengan mengajak Anda mengobrol. Namun, bayangkan saat mengobrol, kebetulan lewat jalan sepi dan si tukang ojek mendadak bertanya begini:
            “Mbak masih ‘gadis’?”
            Mungkin maksudnya yang ditanya status Anda, apakah sudah menikah atau belum. Kalau pun niatnya begitu, tetap saja namanya ikut campur urusan pribadi orang lain. Memang apa pentingnya bagi si tukang ojek untuk bertanya mengenai status si penumpang perempuan?
            Pertanyaan itu juga berarti: “Mbak masih perawan?” Nah, lho! Itu lebih kurang ajar lagi, bahkan termasuk pelecehan seksual. Selain mengusik privasi penumpang, pertanyaan itu juga membuat mereka merasa tidak aman dan nyaman. Kalau masih kenapa, kalau enggak juga kenapa coba?
            Ada lagi pengalaman pribadi saya yang cukup bikin ngeri, saat naik ojek siang bolong. Tukang ojeknya, seorang lelaki paruh-baya bertampang lesu, mendadak nyeletuk: “Neng lagi sendiri?”
            Saya bingung. “Maksudnya?”
            “Maksud saya, Neng masih sendiri atau sudah ada yang punya?”
            Hah? Masih bingung plus mulai merasa terganggu dengan pertanyaan semacam itu, saya mencoba mengulur waktu.
            “Memangnya kenapa?” tanya saya, meski sebenarnya enggan tahu. Habis memang bukan urusan saya, sih!
            “Saya lagi sangat butuh pendamping.” Glek! Apa-apaan ini? Astaga, saya jadi ngeri. Lalu si tukang ojek mulai nyerocos tentang betapa malang hidupnya: diselingkuhi sampai tiga kali. Anehnya, masih sempat-sempatnya dia mencoba sell out. Mengaku sudah punya rumah, usaha sampingan selain ngojek, hingga sudah pernah naik haji.
            Dengan kata lain, orang ini... desperate. Saya sendiri juga desperately ingin loncat dari bangku penumpang motor dan kabur sejauh-jauhnya. Hiiih...!!!
            Lalu apa yang saya lakukan? Saya pura-pura mengecek HP, lalu berujar pada si tukang ojek:
            “Maaf, ternyata saya sudah ditunggu tunangan saya dan orang tuanya di tempat lain.” Saya bohong. Terpaksa, sih. Buru-buru saya menyebutkan mall terdekat dan memintanya menurunkan saya di sana. Reaksi si tukang ojek? Tentu saja bete, sampai-sampai tega menaikkan tarif dari tujuan semula – kali ini dengan alasan basi: jauh. Ceritanya balas dendam karena lamaran ditolak. (Lagipula siapa juga dia? Kenal saja tidak!)
            Berhubung ingin segera menyingkirkan si tukang ojek desperate dari hadapan saya, terpaksalah saya membayar sesuai tuntutannya. Eehh, masih juga dia usaha!
            “Terima kasih, sayang.”
            Apa? Hueekk! Larilah saya ke dalam mall, berhubung ingat bahwa kakak saya dan keluarganya kebetulan juga sedang di sana siang itu. Lumayan dapat tumpangan pulang gratis...
            Saya rasa saya bisa mengerti alasan penumpang – terutama perempuan – memilih layanan Go-jek. Namanya juga pelanggan. Mereka berhak dong, memilih yang menurut mereka lebih baik, lebih aman dan nyaman. Penumpang selalu diberi helm. Selain itu, mereka bisa mengadu ke manajemen Go-jek bila ada masalah dengan ojek mereka.
            Lha, kalau ojek biasa ngadunya ke mana dan ke siapa? Yang bisa saya lakukan hanya mengingat-ingat wajah mereka dan mem-‘blacklist’ mereka.
            Karena itulah, menurut saya percuma juga dengan aksi bullying – termasuk pemukulan – dari tukang ojek kepada ojek dari Go-jek. Yang ada malah memperburuk citra tukang ojek biasa itu sendiri. Penumpang mana sih, yang mau pakai jasa tukang ojek yang kasar?
            Lagipula, kalau memang percaya bahwa Tuhan sudah menetapkan rezeki bagi masing-masing orang, ngapain juga iri sama rezeki orang lain? Jadikanlah kompetitor sebagai inspirasi dan motivasi untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas diri, bukannya ancaman atau musuh. Tidak perlu sentimen kelas sosial segala. Semua orang bisa maju kok, kalau mau berusaha dan tidak cepat puas dengan yang sudah ada. Sirik sama rezeki orang lain tidak ada gunanya, apalagi bila tidak ada niat memperbaiki diri sendiri!


            R.

Jumat, 26 Juni 2015

"SOSOK GADIS KESEPIAN DALAM TUBUH PEREMPUAN ITU..."

Aku melihatnya
sosok gadis kesepian
dalam tubuh perempuan dewasa
yang telah begitu banyak kehilangan

Gadis kesepian itu menatapku
dengan sorot mata sendu
Ada cerita-cerita kelabu
tentang diri dan keluarganya dahulu

"Kamu sangat beruntung,"
ucapnya sedikit pilu.
"Dulu mereka membuatku sangat tergantung.
Aku tumbuh tanpa banyak tahu dan sifat malu,
hingga dunia nyata berulangkali membuatku tertipu.
Akulah gadis bodoh dan lugu."

Aku termangu
Lidahku kelu
Tiba-tiba teringat orang tuaku
dan keberanian mereka melepasku dulu
dengan bekal pengetahuan,
suntikan dukungan,
hingga keyakinan tanpa putusnya
bahwa aku akan baik-baik saja

Dia benar
Aku amat beruntung
Pedihnya membuatku gentar
Ngerinya perasaan tergantung!

Sosok gadis kesepian itu masih ada
terjebak dalam tubuhnya
sementara waktu tak bisa diulang
untuk mengembalikan haknya
yang telah lama hilang...

R.
(Jakarta, 24 Juni 2015 - 21:30)

Selasa, 23 Juni 2015

"UJIAN: SEBOTOL AIR MINUM DALAM KAMAR"

Selama bulan puasa ini, saya punya kebiasaan tak lazim. Saya sengaja menyimpan sebotol air minum di dalam kamar.
            Mengapa? Mungkin ada yang akan menganggap cara saya aneh atau menyebut saya kurang kerjaan. (Silakan.) Bagi saya, ada sedikit humor gelap dalam hal ini:
            Saya tengah menguji diri sendiri dengan sebotol air minum di dalam kamar. Apakah lantas saya akan tergoda dengan kehadiran si botol? Apakah saya lantas akan langsung meminumnya sebelum waktunya?
            Alhamdulillah, sejauh ini sih, tidak. Moga-moga juga akan selalu lancar, ya. Tapi, mengapa?
            Sederhana saja: saya hanya berusaha mengontrol diri sendiri. Jika mindset saya bersikeras bahwa air itu memang belum waktunya diminum, maka saya tidak boleh menyentuhnya. Saya baru boleh menghabiskan isinya bila waktunya tepat. (Baca: saat berbuka puasa.)
            Apa yang terjadi jika saya minum sebelum waktunya? Puasa saya batal. Saya gagal. Salah siapa? Ya, bukan siapa-siapa melainkan saya sendiri. Sesederhana itu.
            Bagaimana dengan dunia nyata di luar kamar saya? Tentu saja, tantangan dan cobaannya lebih banyak, lebih berat, dan lebih beragam. Tidak semua bisa saya kendalikan kecuali diri sendiri.
            Contohnya: kuliah dan kerja dengan orang-orang dari beragam latar belakang suku, ras, agama, dan antar-golongan. Atau saat kita harus berpuasa di daerah atau negeri yang mayoritasnya non-Muslim. (Hmm, untuk yang terakhir, saya belum pernah mencobanya – alias baru dengar cerita teman-teman yang sudah.)
            Bagaimana dengan perempuan yang harus membayar puasa mereka yang batal saat Ramadan akibat haid dan nifas? Tentu saja, mereka harus melakukannya di bulan-bulan lain, dimana lebih banyak orang-orang yang tidak berpuasa. Hal ini juga berlaku bagi mereka yang menjalankan puasa sunnah, seperti puasa Senin-Kamis atau puasa Nabi Daud.
            Pertanyaan saya berikutnya retoris, jadi tidak perlu dijawab – alias mari renungkan masing-masing:
            Apakah saat itu mereka semua mengeluh akan warung / warteg / restoran / kafe / tempat makan lainnya yang buka siang hari (tidak pakai tirai jendela lagi)? Apakah mereka lantas meminta orang lain untuk menghormati mereka (karena sedang berpuasa) agar tidak makan dan minum di hadapan mereka? Apakah mereka lantas harus ‘absen’ dari menggunakan social media dan blogwalking, karena bisa saja foto-foto makanan dan minuman di Instagram atau karya food blogger lainnya begitu ‘menggugah selera’, sehingga berpotensi membatalkan puasa mereka? (Padahal konten blog dan social media selain kuliner banyak!)
            Bagaimana bila yang berpuasa kebetulan berprofesi di bidang kuliner, seperti: koki hotel, manajer restoran, atau pelayan warung? Apa iya mereka harus cuti sebulan atau kerja setengah hari (alias malam saja) dengan resiko berkurangnya penghasilan? Kalau hanya dilarang buka usaha tersebut di siang hari, lalu apa solusi buat mereka? Apakah ada bantuan lain agar mereka tidak sampai kekurangan atau bahkan kehilangan mata pencaharian, daripada hanya sekedar dilarang?
            Terus, yang non-Muslim dan perempuan Muslim yang sedang ‘berhalangan’ puasa bagaimana? Harus di rumah terus, agar tidak kelihatan lagi makan dan minum di siang bolong?
            Jujur, saya sangat sedih dengan berita yang tengah santer akhir-akhir ini. Mengapa kita harus meributkan hal-hal yang sebenarnya sepele, sampai berlarut-larut pula? Mengapa kita begitu mudah terhasut dan menyerang sesama anak bangsa, padahal masih banyak masalah lain yang jauh lebih pelik untuk segera dicari solusinya, seperti orang yang tetap kelaparan dan kehausan meski bukan di bulan Ramadan? Atau kasus penculikan dan pembunuhan anak, serta pernikahan paksa untuk anak di bawah umur?
            “Tidak semua orang kuat imannya.” (Makanya, ‘jalan tengah’ yang dipakai selama ini adalah memasang tirai pada jendela restoran, kafe, warung, dan lain-lain.) Bisa dimengerti, namun pada akhirnya kita tetap harus berusaha, bukan? Seperti anak kecil yang mengeluh “Tidak bisa”, namun terus diberi semangat orang tuanya agar terus berlatih dan tidak mudah menyerah. Bukankah kita semua ingin ‘lulus ujian’ dan ‘naik kelas’?
            Kita selalu punya pilihan. Kita bisa memilih kemana mata kita memandang dan kemana kaki kita melangkah. Kendali diri harusnya ada pada masing-masing (terutama bagi yang sudah termasuk ‘dewasa’, ya), sehingga kita tidak perlu menuntut orang untuk selalu mengikuti maunya kita.
            Perkara saling menghormati? Kita bisa mulai dari diri sendiri dulu, yaitu berusaha menjadi sosok yang menjadi inspirasi untuk dihormati. Lagipula, bukankah ada pepatah bahwa ‘respect is earned’?
            Tulisan ini tidak dibuat untuk memancing perdebatan atau bahkan keributan. Saya juga enggan dituduh menghina kualitas keimanan seseorang, karena sebenarnya saya ini juga bukan siapa-siapa dan apa-apa. Ini hanya pendapat saya, boleh suka boleh tidak. Bila sampai ada yang mengajak berdebat atau bahkan ribut, dengan senang hati saya akan diam saja dan menghapus semua komentar yang saya anggap bernada menyinggung atau menyindir agama tertentu. Saya tidak ingin ibadah puasa saya jadi terganggu hanya gara-gara perbedaan yang seharusnya sudah tidak perlu didebat lagi, apalagi sampai diributkan. Semoga kita semua dapat bersikap bijak dan tidak mudah terpancing isu-isu berbau SARA.
            Salam damai. Wallahu alam dan wassalam. Bagi yang berpuasa, semoga ibadah dan permohonan ampun kita diterima oleh-Nya. Aamin ya rabbal ‘aalamiin...


            R.