Rabu, 08 April 2015

"SISI LAIN 'SI MUKA DUA'..."

Siapa sih, yang nggak sebal sama orang yang bermuka dua? Di depan kita mereka diam saja atau tersenyum manis, bahkan kadang mengiyakan semua ucapan kita. Giliran di belakang, mereka ‘menikam’ kita dengan menyebar kabar keburukan kita pada orang lain. Mengerikan sekali, bukan? Apalagi bila kita sudah sangat percaya sama mereka.
            Tapi, bagaimana dari sisi ‘si muka dua’ itu sendiri? Benarkah mereka selalu sejahat itu?
            Saya tidak sedang membela atau memaklumi orang yang hobi bermuka dua. Saya hanya sedang berusaha melihat sisi lain dalam sebuah situasi dan / atau kondisi. Dengan kata lain, ini hanyalah fakta yang jarang – atau mungkin nyaris tidak pernah – dibahas atau dianggap ada.
            Oke, memang ada orang yang bermuka dua gara-gara niat mereka yang kurang baik. Entah oportunis atau sengaja ingin menjebak atau menjatuhkan seseorang yang mereka anggap saingan atau benci. Namun, tak perlulah lagi kita bertanya-tanya siapa saja yang berpotensi menjadi manusia bermuka dua. Suka tidak suka, Anda pun bisa. (Seperti biasa, namanya juga manusia.) Never say never. Jangan sok yakin bahwa Anda tidak akan pernah begitu. (Semoga Anda juga tidak akan pernah kepikiran untuk berbuat demikian.) Manusia tidak pernah ada yang sempurna. Kita takkan pernah tahu kapan kita tiba-tiba ‘khilaf’.
            Pernahkah Anda meragukan senyum tulus teman yang berada di depan Anda? Mungkin Anda hanya berprasangka (dan diam-diam - biasanya itu membuat Anda merasa bersalah.) Mungkin juga insting Anda tengah berbicara, meski belum ada bukti nyata.
            Atau, pernahkah Anda tersenyum setengah hati pada seseorang di depan Anda? Mungkin Anda tidak sepakat dengan mereka, namun malas berdebat. Mungkin sebenarnya mereka begitu menjengkelkan bagi Anda, namun sayangnya Anda merasa tetap harus berbaik-baik dengan mereka. Alasannya bisa macam-macam, mulai dari: atas nama sopan-santun, takut, hingga malas ribut – terutama bila mereka tipe yang sulit atau enggan didebat, alias selalu merasa paling benar sendiri. (Baca: egois!) Sayangnya, tipe macam ini di Indonesia sangat lazim pada mereka yang lebih tua, berjabatan lebih tinggi, hingga punya uang banyak. (Nggak usah heran!) Biasanya mereka hanya akan menganggap ‘sepi’  pendapat Anda, terutama bila di mata mereka – Anda dianggap tidak selevel.
            Kalau sudah begitu, wajar saja bila Anda kesal. Namun, berhubung malas buang-buang waktu dan tenaga Anda yang sangat berharga hanya untuk berdebat dengan mereka, Anda memilih diam saja – memendam dongkol dalam hati. Kalau sudah tidak tahan lagi, biasanya yang Anda lakukan adalah membicarakan orang itu dengan orang lain. Yang lebih taktis mungkin yang memilih teman bicara yang tidak kenal dengan si objek gosip, dengan harapan bahwa mereka berdua takkan pernah bertemu – apalagi sampai berteman. Hiiih!
            Kalau enggan terlibat dalam drama yang tidak perlu, diam itu selalu emas. (Lain cerita kalau orang itu sudah mengancam posisi, kredibilitas, dan keselamatan nyawa Anda secara serius!) Tak ada gunanya juga Anda cerita-cerita ke semua orang, kecuali bila Anda punya bukti cukup sebagai peringatan agar mereka lebih waspada. Kalau sudah begitu, Anda justru akan makin tersiksa lahir-batin dan sulit sekali untuk benar-benar berbahagia dengan hidup Anda, apalagi bila masih perlu berpura-pura baik pada sosok yang bersangkutan. Meski Anda korban dan tak bersalah, tetap saja ‘jatuh’-nya sama: Anda juga bermuka dua.
            Dalam hidup, memang tak semua selalu menyenangkan, begitu pula sesama manusia. Menyebalkan memang saat Anda terpaksa harus menerima kenyataan pahit itu. Akan selalu ada orang yang selalu merasa paling benar sendiri dan menganggap Anda sama dengan anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Biar saja. Toh, setidaknya mereka sudah mengajarkan satu hal pada Anda:
            Mereka adalah contoh yang tidak perlu Anda ikuti bila tidak ingin. Gampang, ‘kan?
            Lalu, bagaimana bila situasinya dibalik? Anda sedih dan sakit hati saat tahu banyak yang diam-diam membicarakan keburukan Anda di belakang Anda. Benarkah niat mereka selalu hanya ingin ‘menjatuhkan’ Anda, entah karena iri atau benci? Bagaimana bila – ternyata – selama ini mereka telah berusaha jujur dan terbuka dengan Anda, namun Anda-nya yang tidak mau dengar, bersikap defensif, atau marah-marah? Lantas Anda menuduh mereka lancang, ikut campur urusan Anda, menghakimi Anda, atau enggan menerima Anda apa adanya. Benarkah selalu demikian?
            Bisa jadi, selama ini Anda yang tidak sadar dan tidak peka bahwa Anda sendiri penyebab ketimpangan relasi antara Anda dengan mereka. Anda mungkin terbiasa ceplas-ceplos, bermulut tajam atas nama ‘kejujuran’ dan selalu meminta mereka agar ‘harap maklum’. (Bahkan, bisa jadi Anda malah tengah berbangga hati harena bisa berlaku demikian dan merasa Anda jagoan yang berani.) Bolehlah bahwa Anda menganggap tata-krama dan sopan-santun (atau bertutur baik) hanyalah untuk mereka yang munafik, alias baik kalau lagi ada maunya saja. Harus ya, selalu seekstrim itu?
            Anda mungkin tidak peduli orang lain akan sakit hati dengan ucapan kasar Anda yang asalkan jujur itu. Nggak masalah, selama Anda siap bila suatu saat orang akan berbuat sama terhadap Anda. Ingat, karma selalu berbicara.
            Kalau tidak? Ya, Anda memang berhak suka-suka – seperti mereka pun berhak suka-suka. Jangan salahkan mereka yang pada akhirnya memilih diam, pura-pura setuju dengan Anda, atau malah menjauh sekalian. Habis bagaimana? Tidak ada dialog seimbang sih, antara Anda dengan mereka, apalagi bila yang Anda butuhkan hanyalah pendengar pasif dan pengikut buta – bukan mereka yang berpotensi membantu Anda berkembang menjadi manusia yang lebih baik. Kita memang tidak selalu harus dan bisa sepaham, tapi bisa kan, kita sama-sama berusaha menjaga perdamaian?
            Sekali lagi, hidup ini bukan melulu soal Anda atau mereka. Tak ada yang bisa menjadi pusat semesta. Saatnya kita semua bersikap lebih dewasa.
            Jadi, benarkah si ‘muka dua’ selalu salah, licik, dan jahat? Selamat mencari tahu bila ingin. Selamat berusaha berdamai dengan kenyataan. Semoga setelahnya, kita semua dapat bertambah dewasa dan lebih bijak dalam menyikapi setiap persoalan.
            Selamat meraih hidup yang lebih damai dan bebas drama!

            R.

            (Jakarta, 5 April 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar