Senin, 08 Februari 2016

"BARONGSAI DUA GENERASI"

1997:
            Mataku melebar malam itu, saat Henry mengajakku ke rumah keluarganya di salah satu daerah di Jakarta Barat. Duduk di bangku panjang di sanggar pelatihan wushu dan barongsai milik keluarga Henry, aku menatap kagum saat Henry dan kedua abangnya yang masih kuliah – Hans dan Harry – tengah giat berlatih. Masih awal tahun, namun kata mereka tidak baik menyia-nyiakan waktu. Mereka ingin saat tampil sebagai barongsai nanti, mereka takkan memalukan.
            Sayang, andai saja mereka bisa tampil di mall. Aku sudah pernah melihat penampilan barongsai – baik lewat film-film kungfu yang VCD-nya pernah dipinjamkan Henry maupun yang kutonton di TV. Aku suka dengan warna-warni naganya yang indah, meski tidak mengerti makna di balik warna-warna dan bentuk singa tersebut...

            Mei 1998:
            Aku sedih. Aku tidak bisa lagi melihat penampilan Henry dan kedua abangnya, meski hanya dalam kalangan tertentu. Aku bahkan tidak bisa lagi bertemu dengan Henry. Keluarganya terpaksa mengungsi gara-gara kerusuhan ini. Aku bahkan tidak bisa pergi ke sekolah selama sebulan ini. Guru-guru mengirim kami semua pulang dengan setumpuk PR, terutama karena sekolah kami letaknya di tengah kota. Rupanya mereka enggan mengambil risiko kami semua terluka, bila kerusuhan sampai melebar kemana-mana. Lebih baik di rumah saja...
            Ah, Henry. Semoga kamu sekeluarga baik-baik saja, ya...

            2007:
            Malam itu, aku baru saja pulang kantor dan mengecek Facebook-ku. Ada add friend request dari seseorang bernama Henry Surya. Henry? Henry yang itu?? Buru-buru kuterima setelah mengenali foto profilnya. Astaga, dia sudah cukup banyak berubah! Semakin jangkung dan kekar, meski kulitnya masih sepucat dulu. Mata sipitnya kini terhalang oleh kaca matanya.
            Aku sekarang di Amerika, begitu tulisnya dalam pesan saat aku menerima friend request darinya. Bagaimana Indonesia?
            Kuceritakan padanya tentang Gus Dur, yang salah satu jasa beliau adalah membuat kita semua dapat liburan tambahan saat perayaan Imlek. Bahkan, kini barongsai sudah menjadi tradisi baru – tampil di banyak mall setiap hari itu.
            Apakah kamu akan pulang? tanyaku pada Henry, masih lewat pesan. Kutunggu jawabannya dengan jantung berdebar-debar keras...

            Masa kini:
            “Papa, bagaimana nanti kalau aku jatuh dari tiang?”
            Aku dan Henry menatap remaja tanggung yang tinggi dan kurus itu. Meski tekadnya kuat, tak ayal ada juga ragu dalam matanya yang sipit. Hanya satu hal yang didapatnya dariku, yaitu kulit legamnya.
            “Ahh, kamu ‘kan sudah latihan berbulan-bulan sama Oom Hans,” ucap Henry sambil tersenyum menenangkan. “Papa yakin kamu bisa.”
            Dan begitulah, Handra siang itu tampil memukau bersama sepupu-sepupunya. Bocah-bocah yang kompak, karena sudah tumbuh bersama dan akur dari kecil. Barongsai warna-warni itu tampil memukau dan mendapatkan tepuk tangan meriah dari penonton mall yang siang itu membludak.
            Henry dan aku menatap kesayangan kami sambil tersenyum. Ada haru menyesakkan dada kami. Henry merekam semuanya dengan kamera video, sementara satu tangannya menggenggam tanganku. Sempat kami beradu pandang dan bertukar senyum.

            Siang itu, kami bersyukur telah berhasil melalui mimpi buruk itu. Mei 1998 sudah lama berlalu. Barongsai telah memberi warna baru bagi negeriku...


H9: "SELAMAT TAHUN BARU IMLEK DARI NONA SEPARUH SKEPTIS"

Dear "Kamu",

Hai, Selamat Tahun Baru Imlek, wahai Pangeran dalam Mimpiku yang akhir-akhir ini mulai kembali jarang apel. Apa kabarmu di sana? Semoga belum lenyap selamanya, kecuali bila kamu akhirnya memutuskan untuk muncul di hadapanku di dalam dunia nyata ini. Kapankah itu? Akankah saat itu tiba? Siapkah aku bila memang begitu adanya?

Ah, lagi-lagi gilaku kumat. Tapi tidak apa-apa. Hari ini aku memutuskan untuk tidak kemana-mana. Mall pasti penuh sesak oleh mereka yang ingin nonton pertunjukan barongsai, sama seperti tiap tahun di sini. Dua tahun berturut-turut aku begitu dengan teman-temanku. Tahun ini aku ingin menyepi dulu. Untuk apa? Selain banyak kerjaan, aku juga sedang berusaha meraih kembali kemampuanku menggali inspirasi. Aku tidak mau tulisanku sampai kering.

Kamu keberatan tidak, bila menjalin hubungan dengan penulis? Siapa pun kamu nanti, jangan sampai kamu cemburu dengan hobiku yang satu ini. Cukup ingatkan saja aku bila menurutmu aku sudah kelewatan. Tapi yang baik-baik, ya. Jangan pakai acara ngambek, nyinyir, apalagi dengan kata-kata kasar. Tidak semua perempuan suka drama dan seintuitif itu. Aku butuh lelaki yang dewasa. Nyinyir atau merajuk malah bikin aku ilfil.

Kata-kata kasar apalagi. Kadang kekerasan tidak selalu bersifat fisik, lho.

Hari Kasih-Sayang sudah tinggal seminggu lagi, tapi aku tidak pernah merayakannya. Kenapa harus butuh satu hari khusus hanya untuk cinta? Kenapa tidak setiap hari saja?

Sudah dulu ya, sayang. Aku harus kembali bekerja. Mungkin besok aku bisa cerita lebih banyak lagi.

Yang masih setia menantimu,
Nona Separuh Skeptis

Minggu, 07 Februari 2016

H8 : "TO SEXY ZACK" (UNTUK EDISI KHUSUS "PACARKU SUPERSTAR")

(Zachary Quinto adalah aktor, sutradara, sekaligus produser film. Sudah pernah wara-wiri sebagai aktor pendukung dalam beberapa serial TV Amerika Serikat seperti "CSI" dan "24", sebelum namanya mulai makin dikenal lewat perannya sebagai pembunuh berdarah dingin dan berkekuatan super bernama Gabriel 'Sylar' Gray dalam serial TV "Heroes". Lalu Zack menjadi Mr.Spock dalam film "Star Trek" versi terbaru. Saya mengagumi sosoknya yang sederhana, rendah hati, namun pekerja keras dan berbakat.)


I fell in love with you when I first saw you on TV. I didn’t even care you were playing the villain. I was always waiting for you every episode. It had somehow crushed me when you didn’t turn up.

            It had always made me feel happiest when I finally saw you. I didn’t even care if you had to kill other players, kiss your female co-stars, and so on.

            I know, I know. It sounds like an unhealthy obsession, right? Well, no worries. First of all, I’m no longer a ga-ga school girl or a star-struck teenager. I know you only do your job – and man, you’re doing it well.

            Still, I follow your Twitter account and FB page. I try to catch up with your latest work, even when we come from two different countries. I loved when you played the young Spock twice. (Speaking of which, are you guys going to film the third instalment? What will it be like?)

            There’s something so special about you, even when we don’t know each other. I only know you from your work – and also some news, although I choose not to pay attention to rumours about you. I just care about your work because you do. I know you want the world to pay more attention to what you do, not just...YOU.

            “I don’t care who you love; you’re great at what you do.” I hope you’ve read what I’d sent you. I suppose I love you like my mama loved Rock Hudson when she was much younger. You didn’t have to reply to me; just keep on working – whether it’s acting or directing. No need to worry about bigots, just do what you love and listen to those who genuinely support you.

            Whatever happens, I still refer to you as “Sexy Zack”, because that’s how you are...ZQ. It’s your talent, dedication, and devotion to what you do that makes you...amazingly sexy.

            What would I do if I were your partner? Probably just like what yours is already doing, I hope - supporting you in every way.

            From the girl who loves you for you and your work too,
            R.


Sabtu, 06 Februari 2016

"PENGAKUAN RATU ES"

Maafkan aku
Mungkin aku ibarat Ratu Es bagimu
Dingin, tak tersentuh hangat semua niat baik itu
Ah, andai saja aku selalu tahu

Masih ada senyum ini
meski tak ada yang lain lagi
Mungkin kau ragu apakah benar aku punya hati
Masih, meski kini rapat terkunci

Entah kenapa, semua rayuan manismu terlewat begitu saja
Jangan-jangan aku sudah lama mati rasa
Hei, aku masih manusia
Hanya saja, aku muak dengan cinta yang ibarat ucapan dan kulit luar belaka

Aku sinis?
Mungkin, mungkin juga aku sadis
Jangan sampai jadi iblis
Enggan aku berakhir miris

Sekali lagi, maafkan aku
Bukannya enggan menghargai niat baikmu
Tunggulah hingga semua luka ini tertutup oleh beku
Saat ini, menjadi Ratu Es adalah peran teramanku

R.

H7: "SELAMAT BERAKHIR PEKAN, PANGERAN DALAM MIMPIKU"

Dear "Kamu",

Selamat berakhir pekan, pangeran dalam mimpiku - dimana pun kamu berada. Maaf, saat ini aku sedang tidak dapat bercerita banyak. Aku sedang berada dalam sebuah diskusi sebuah novel tentang banyak pertanyaan abadi dalam benakku yang kian gelisah:

Apa itu cinta? Siapakah jodohku? Seperti apakah dia?

Akankah kamu menjadi jawaban atas semuanya?

Yang masih bingung,

Nona Separuh Skeptis

Jumat, 05 Februari 2016

H6 : "INGIN KUKENALKAN DIRIMU PADA MALAIKAT PELINDUNGKU, ANDAI BISA..."

Dear “Kamu”,

                Entah kenapa, semalam tiba-tiba aku memimpikan salah seorang temanku yang sudah meninggal. Dia salah satu lelaki terbaik yang pernah kukenal, terlepas dari semua kekurangan yang dimiliki yang sayangnya membuatnya merasa minder. Dia adalah kekasih salah seorang temanku. Sebut saja namanya Cliff.

                Lelaki malang itu berpulang dua bulan lalu. Aku kasihan dengan temanku yang hingga kini – dan sepertinya akan selalu – merindukannya. Aku tidak bisa membayangkan rasanya kehilangan seseorang yang begitu mencintaimu dan juga kamu cintai karena maut, bukan karena putus. Pasti rasanya jauh lebih berat. Aku tidak akan pernah benar-benar bisa membayangkannya.

                Mengapa aku tiba-tiba memimpikan Cliff? Entahlah. Mungkin karena dia selama itu selalu baik padaku. Cliff bilang aku lebih seperti adik kecilnya, meski pertemanan kami begitu singkat. Cliff juga yang pernah sangat mengkhawatirkanku saat lelaki kurus slengean itu mendekatiku dulu. Katanya, dia punya firasat buruk. Cliff tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padaku hanya gara-gara lelaki yang ingin memanfaatkanku itu.

                Jujur, aku senang dengan sikapnya yang agak protektif, meski deg-degan setengah-mati. Bukan apa-apa, Cliff pernah mengancam akan membuat lelaki itu babak-belur bila sampai menyakitiku. Mungkin kalau aku beneran punya abang, rasanya akan seperti itu. Setiap lelaki yang ingin bersamaku harus melalui ‘seleksi ketat’-nya dulu.

                Mungkin bila sosokmu beneran ada di dunia nyata, kamu akan harus menghadapi dia dulu...bila saja dia masih hidup. Apakah kamu takut? Jangan. Dia baik, kok. Dia hanya terlalu mengkhawatirkanku.

                Banyak yang bilang aku masih sangat beruntung. Oke, mungkin saat ini aku masih jomblo, tapi itu bukan aib. Sekali lagi, aku baik-baik saja. Aku masih punya banyak sosok teman lelaki yang mengingatkanku bahwa ya, masih banyak sekali lelaki yang sangat baik di luar sana. Banyak sekali. Beberapa dari mereka bisa sangat protektif padaku, meski percaya bahwa sebenarnya aku masih bisa melindungi diri sendiri. Tapi, aku tidak hanya butuh itu.

                Aku membutuhkan sosok lelaki yang kuat, namun juga tidak merasa terancam atas kemandirianku. Aku terbiasa mandiri bukan karena sama sekali tidak membutuhkan lelaki. Aku mandiri karena sebisa mungkin berusaha untuk tidak merepotkan siapa-siapa. Sebisa mungkin, hidup itu harus berguna buat orang lain, bukannya hanya sebagai beban bagi orang lain. Begitulah ajaran almarhum Papa.

                Jadi, mengapa aku sampai tiba-tiba memimpikan Cliff, kekasih temanku, yang sudah meninggal dua setengah bulan lalu? Aku lupa waktu itu kami berdua dimana. Yang kuingat hanya wajah pucatnya yang terbingkai rambut coklat kemerahan, tampak agak kecewa padaku. Kurasa dia tahu bahwa kemarin-kemarin aku masih saja membiarkan lelaki kurus slengean itu mendekatiku.

                “I’ve warned you to be careful,” katanya, lebih terdengar sedih daripada marah. “Sudah kubilang, ada yang tidak beres dengan laki-laki itu.”

                “I know,” balasku. Waktu itu aku menangis, antara malu dan sedih, karena merasa telah membuatnya kecewa dan merasa tidak dihargai. “I’m sorry.”

                “Why, kid?” tanyanya prihatin. “Kamu itu cantik. Kamu harus percaya bahwa kamu itu benar-benar cantik dan pasti ada lelaki baik yang benar-benar mencintaimu, menghargaimu, dan ingin menghabiskan sisa hidupnya hanya denganmu. You don’t need guys like him.”

                Aku terdiam sesaat untuk mengatur napasku. Lalu, teringat saat kami bertiga berkumpul bersama dulu. Aku, Cliff, dan kekasihnya Sue. Aku sempat memandang mereka berdua cukup lama, sebelum tiba-tiba berucap:

                “I want a guy who will look at me the way you look at her.”

                Itulah yang juga kukatakan lagi pada Cliff dalam mimpiku semalam. Dia tersenyum dan membalas: “Pasti ada, kok.”

                “Cliff, dia kangen kamu.”

                “I know. I miss her too, always.”

                Dan aku terbangun dengan berurai air mata. Aneh sekali, ya? Entah apa harus kuceritakan ini pada Sue tanpa membuatnya sedih. Aku takut.

                Kurasa, aku harus berhenti dulu dengan surat ini. Maaf, aku terlalu emosi. Semoga kamu tidak menganggapku gila, karena aku khawatir tidak semua orang akan mengerti.

                Semoga, lagi-lagi, kita bisa kembali bertemu di alam mimpi. Semoga aku bisa melihatmu juga di alam nyata ini...
               
                Yang terinspirasi dari malaikat pelindung,


                Nona Separuh Skeptis

Kamis, 04 Februari 2016

H5: "DARI YANG INGIN MOVE ON DENGANMU..."

Dear “Kamu”,

                Maaf, sepertinya hari ini aku tidak bisa terlalu banyak bercerita. Aku sibuk. Pagi-pagi sekali saja aku sudah harus pergi bekerja hari ini. Siang ini juga cukup lowong sebelum malam nanti. Aku harus keluar lagi.

                Maaf kemarin aku terdengar begitu putus-asa dan depresi dalam suratku. Aku hanya tidak ingin memimpikannya lagi. Aku hanya ingin memimpikanmu hingga suatu saat nanti, bila kita memang benar-benar ditakdirkan untuk bertemu. Semoga benar-benar terjadi, ya.

                Bagaimana bila tidak? Bagaimana bila pada akhirnya, kamu hanya akan tetap menjadi lelaki impianku, khayalan semu? Entah siapa sosok berikutnya yang akan bertemu denganku di masa depan nanti. Apakah kamu? Apakah sosok lain? Apakah kau akan otomatis menghilang begitu saja bila yang muncul di depanku nanti benar-benar sosok lain? Mungkin itu memang kamu, tapi jangan-jangan aku yang tidak menyadarinya. Wah, bukan pertanda bagus itu!

                Hmm, mungkin tak hanya separuh sinis, seharusnya aku juga sadar bahwa sebenarnya aku sangat, sangat sinis. Ya, Nona Separuh Skeptis yang Nyaris Sinis. Cocok sekali, bukan? Lalu, bagaimana denganmu? Ini sudah hari kelima aku menantang diriku sendiri menulis surat cinta. Lihat, aku bahkan sudah kehilangan sisi romantisku. Aku berubah menjadi kaku, terlalu penuh perhitungan, dan curiga berlebihan yang berujung pada paranoid. Ah, jangan-jangan dia benar. Aku selalu curiga dan takut akan terluka.

                Dua malam lalu ada yang membuatku kesal. Aku sedang makan sendirian di depan gerobak dekat rumah sakit. Salah satu tukang jualan yang ada – mungkin tukang soto, karena sering sekali mangkal dekat gerobak soto dan melayani pembeli soto – mengajakku basa-basi. Seperti khasnya orang Indonesia, basa-basi pertama mereka seperti ini:

                “Sendirian aja?”

                “Iya.” Aku sedang malas. Aku hanya tidak ingin diganggu. Dia sudah bisa lihat sendiri, ‘kan?

                “Suaminya mana?”

                Nah, ini dia yang selalu bikin kesal. Kenapa mereka selalu hobi berasumsi, seakan perempuan sepertiku selalu harusnya sudah bersuami? Menjengkelkan.

                “Darimana Bapak tahu sudah bersuami?”

                “Lha, yang tinggi, kurus, dan gondrong itu?”

                “Bukan. Itu cuma teman.”

                “Oh.” Dan dia pun menyerah begitu aku tak lagi menanggapinya. Jujur, aku malas sekali dengan basa-basi, apalagi basa-basi dengan orang sok tahu. (Kamu mau sabar ‘kan, dengan sifatku yang mudah marah?) Seakan-akan mereka sudah mengetahui benar perempuan macam apa aku dan pasti mereka selalu benar.

                Aku hanya ingin berhenti mengingat-ingatnya. Aku sudah tidak ingin lagi melihatnya, bahkan dalam mimpi terburukku sekali pun. Aku hanya ingin move on. Kamu mengerti, ‘kan?

                Aku hanya ingin memulai dari awal lagi. Belajar percaya dengan lelaki, bahwa mereka tidak semuanya jahat dan hanya menginginkan ‘hal itu’ dariku. Aku hanya ingin belajar mencintai dan menerima bahwa cinta tidak pernah mudah. Cinta tidak selalu seindah cerita dongeng. Aku sudah lama tahu hal itu.

                Aku hanya ingin move on, namun tidak ingin mulai menjalin hubungan lagi dengan alasan yang salah. Aku tidak ingin memperlakukan lelaki berikutnya sebagai ‘pelarian’ / rebound belaka. Tidak adil rasanya.

                Aku ingin move on, kalau bisa denganmu. Tidak apa-apa, ‘kan?

                Yang sedang kesal dan bingung,


                Nona Separuh Skeptis yang Nyaris Sinis