Selasa, 10 September 2013

"SANG PENGGEMAR RAHASIA"

Aku tahu...
Aku takkan pernah bisa bersamamu.
Kau takkan mungkin jadi milikku.
Hatimu telah terikat padanya;
sosok yang beruntung luar biasa.

Kau tak perlu tahu.
Angan-anganku hanya semu.
Kita terlambat bertemu.
Ah, haruskah rasa ini membiru?
Untuk apa tenggelam dalam sendu?

Semoga perasaan ini lenyap.
Kuharap sekejap.
Untuk saat ini, semuanya masih tersimpan dalam kalbu,
karena aku hanya butuh melihat senyummu...

R.
(Jakarta, 9/9/2013 – 5:55 pm)

"SAAT KEPERAWANAN (LAGI-LAGI!) JADI AJANG PENGHAKIMAN MASSAL"

Oke, saya sedang berusaha membahas masalah (yang sepertinya sengaja dicari-cari) ini tanpa perlu marah-marah. Mudahkah? Tentu saja susah. Bukan karena saya (sesama) perempuan. Saya juga seorang guru yang prihatin dengan fakta bahwa – meski kita semua sadar bahwa manusia tak pernah luput dari salah – kita masih saja hobi menghakimi orang lain ramai-ramai, layaknya rombongan pengecut.
Geger tes keperawanan sebagai syarat masuk SMA di Prabumulih yang diperuntukkan HANYA bagi para siswi membuat saya berang. Bagaimana tidak? Kalau alasannya untuk memerangi maraknya pelacuran remaja di sana, bukankah harusnya germo dan gembongnya duluan yang ditangkap? Bagaimana dengan lelaki hidung belang, terutama yang masih berstatus pelajar? Masa mereka tetap boleh sekolah hingga kuliah juga?
Saya takkan membahas soal keperawanan itu sendiri hingga tesnya (yang menurut pengamatan saya, justru malah berpotensi membuat perempuan jadi tidak ‘perawan’ lagi – bila HANYA selaput dara yang jadi ukuran.) Saya yakin, pasti sudah banyak artikel lain yang mengulasnya.
Waktu remaja, saya pernah nonton film di TV berjudul “Fifteen and Pregnant”. (Bukan, bukan serial dokumenter tayangan MTV dengan judul nyaris sama.) Karena waktu itu merasa sudah ‘pintar’ (padahal sebenarnya saya hanya ‘beruntung’), saya pun enteng berkomentar:
“Harusnya judulnya diganti jadi ‘Fifteen, Pregnant, and Stupid’.”
Singkat cerita, film itu berfokus pada perjuangan berat seorang siswi. Tergoda oleh pacarnya yang tipe populer, dia hamil di luar nikah, hingga akhirnya terpaksa putus sekolah untuk membesarkan anaknya seorang diri. Tak hanya dibuang keluarganya, sang pacar tentu saja memilih enggan bertanggung-jawab setelah ikut ‘berbuat’ – seperti kebanyakan lelaki hidung belang lainnya. Bahkan kalau bisa, banyak yang cukup jahat dengan memojokkan perempuan yang sudah mereka ‘taklukkan’ di ranjang dengan menyebar cerita ke semua orang: “Eh, dia ‘kan ‘bekas’ gue. Kalo mau juga gampang, kok.”
Tujuannya? Tentu saja pembunuhan karakter si perempuan, sekaligus ‘cuci tangan’ si lelaki. Seolah-olah si bayi terlahir tanpa andil si lelaki – dan hanya si perempuan yang salah dan pantas dilaknat. Seperti biasa, selalu ada pihak yang memilih jalan keluar termudah dari masalah: membiarkan pihak lain menanggung semuanya. Membiarkan si perempuan menelan pil pahit berlabel ‘stigma sosial’ seorang diri. Pengecut memang, tapi namanya juga standar ganda.
Mendengar komentar saya saat menonton film itu, di luar dugaan ibu saya berang bukan kepalang.
“Kamu jangan ngomong gitu,” tegur beliau seketika. “Itu namanya sombong. Kita nggak akan pernah tahu kalau tiba-tiba kita tergoda setan dan ‘khilaf’.”
Ucapan ibu saya seketika menyadarkan saya. Benar juga, ya. Entah apa rasanya berada di posisi mereka – gadis-gadis yang kehilangan keperawanan ‘sebelum waktunya’ (baca: menikah.) Sudah begitu, semakin dihakimi oleh mayoritas publik lagi. (Jujur, saya miris membaca komentar-komentar miring – kebanyakan dari pembaca lelaki – saat isu tes keperawanan diangkat dalam berbagai artikel online. Memangnya mereka pernah merasakan berada di posisi gadis-gadis itu?) Sementara, laki-lakinya sama sekali tidak ‘disorot’  atau mendapat ganjaran sosial setimpal. Paling-paling konsekuensi sosial mereka hanya dicap ‘hidung belang’ atau ‘playboy’ (hingga dijauhi perempuan-perempuan yang takut jadi korban berikutnya). Bahkan, celakanya, mereka malah masih dianggap jagoan – terutama oleh sesamanya – CUMA karena punya banyak pacar dan meniduri banyak perempuan. (Nah, kalau sudah begitu, sebenarnya siapa yang ‘murahan’?)
Lagi-lagi, saya tidak membenci laki-laki atau menstigma mereka semua sebagai mahluk brengsek penumbal perempuan. Saya juga bukan pendukung seks bebas/di luar nikah. (Kalau saya kenal pelakunya, saya juga tidak akan mengusik-usik urusan pribadi mereka. Toh, dosa juga ditanggung sendiri-sendiri – tidak mungkin dibagi-bagi!) Banyak dari kita yang suka lupa kalau hal semacam ini bisa terjadi pada siapa pun – mau sebermoral apa pun manusianya. Ibu saya benar. Never say never. (Maaf, saya sedang tidak membahas lagu lamanya Justin Bieber!)
Baru-baru ini salah seorang rekan ekspat saya meminjamkan saya buku karangan Kathy Acker berjudul “Blood and Guts In High School”. (Sepertinya akan sangat sulit ditemukan di Indonesia, karena temanya sangat ekstrim dan keras.) Novel ini bercerita tentang Janey Smith, seorang korban perkosaan ayahnya sendiri sejak kecil. Kematian ibunya entah kenapa membuat sang ayah melampiaskan hasrat bejadnya kepada putri tunggalnya. Tumbuh di lingkungan miskin dan minim pendidikan membuat Janey jadi tergantung secara mental, emosional, hingga finansial pada ayahnya. Lama-lama dia menganggap hubungan mereka “wajar”, hingga kerap kali Janey cemburu saat ayahnya berpacaran dengan wanita lain – yang lebih dewasa tentunya.
Tak hanya itu, selama SMA Janey jadi makin tidak terkendali secara emosional. Dia terlibat dengan geng pelaku vandalisme (kekerasan berupa pengrusakan properti publik secara massal), pacaran dengan banyak lelaki, hingga hamil dan aborsi beberapa kali.
Setelah puas “merusak” putrinya sendiri, sang ayah akhirnya bosan dan menjual Janey pada seorang germo dari Persia. Sisanya, silakan baca bukunya sendiri kalau berhasil menemukannya.
Jika ada Janey-Janey lainnya di dunia nyata (terutama di Indonesia, dimana masih banyak penduduk di bawah garis kemiskinan, kemunafikan ciptaan para koruptor yang terus menyebar bagai penyakit dan racun, hingga relasi antar-gender yang makin sangat ‘timpang’), akankah kita langsung menuduhnya ‘amoral’ – seperti yang biasa kita lakukan? Akankah kita lantas melaknatnya, tanpa peduli latar belakang penyebab mereka menjadi sedemikian rusaknya? Jika mereka ingin ‘membenahi’  hidup mereka lewat jalur pendidikan, mengapa kita tidak memberikan kesempatan – alias bahkan melarang? Bukankah Tuhan Maha Pengampun?
Memang, hidup ini pilihan. Setiap orang bertanggung-jawab atas pilihan masing-masing. Jika kita enggan disuruh menanggung dosa-dosa orang lain, mengapa kita masih juga ikut campur urusan pribadi orang lain? Saling mengingatkan memang perlu, tapi haruskah dengan kata makian yang menyakitkan hati? Memangnya kita siapa, sih? Toh, kita sendiri juga belum tentu lebih baik.
Bagaimana dengan siswa yang sudah tidak perjaka? Hanya mereka yang boleh sekolah dan kuliah? Bagaimana kalau siswa itu diam-diam pemerkosa, sementara para korbannya terpaksa putus sekolah akibat stigma sosial yang membuat mereka makin terjepit – sulit mengadu, karena lingkungan sendiri yang tidak mendukung dan malah kerap menyalahkan korban yang membuat si pelaku ‘tergoda’?
Manusia bukan barang buatan pabrik, yang bisa diseleksi hanya lewat stempel ‘rusak’ atau tidak. Jika semua gadis yang (dianggap) sudah tidak perawan dilarang sekolah, bukankah itu hanya menunjukkan ketidakmampuan lembaga pendidikan untuk menyelesaikan masalah – alias hanya peduli citra semata?

R.

(Jakarta, 6 September 2013)


Rabu, 04 September 2013

"INTERNET, ARTIS, DAN SAYA"

Dengar-dengar Harrison Ford lagi syuting di Jakarta. Untuk film apa?

Ah, entahlah, pikir saya saat membaca twit seseorang yang saya follow beberapa hari lalu. Nanti tunggu saja filmnya keluar. Habis itu bisa saling cerita-cerita sama penduduk Jakarta atau kabar-kabaran dengan teman-teman manca negara: "Harrison Ford made a film in my city!" Hehe, biarin aja dibilang norak.

Bisa dibilang, internet telah mengubah hidup masyarakat seluruh dunia - termasuk saya. Banjir informasi gratis terjadi tiap detik, bukan lagi dalam hitungan bulan, minggu, apalagi hari. Kadang, saking banjirnya kita sampai kewalahan - sulit mengolah mana yang masuk kategori penting, mana yang sebaiknya kita cuekin. Sampai stres dan sakit kepala? Jangan sampai. Tapi kalau sudah terjadi, mungkin ada baiknya Anda matikan dulu komputer dan ponsel pintar Anda dan beristirahat dulu untuk beberapa saat.

Tak hanya artis, kalangan yang 'sok artis' (atau 'celeb-wannabe') juga tak lupa unjuk diri di dunia maya. Kalau lagi nggak ada yang bisa 'dijual' (alias dipromosikan atau dipamerkan), biasanya mereka hobi mengunggah foto-foto barang-barang mewah milik mereka (atau bisa saja yang diakui sebagai milik mereka, alias masih berstatus 'barang impian', hehe) atau pasang status yang rada-rada kontroversial. (Namanya juga usaha cari perhatian. Sah-sah saja, kan?) Perkara orang yang lihat bereaksi positif, negatif, atau bahkan - tidak peduli - urusan belakangan. Sama bebasnya dengan si penulis/pengunggah/pemilik akun.

Jujur, kadang saya tergoda untuk menjadi salah satunya. Haha, harap maklum. Kadang kita bosan terkurung dalam ruangan, sementara di luar jendela - macet di Jakarta makin merajalela. Lupakan hang-out akhir-akhir ini. Kecuali nggak penting-penting banget (atau kepengen banget), lebih baik tidak kemana-mana.

Balik lagi ke soal artis. Berkat internet, fans artis tertentu bisa berinteraksi dengan sang idola kapan saja. Cukup jadi member di fansite atau situs resmi mereka - atau add mereka di Facebook dan follow mereka di Twitter. Tinggal kirim pertanyaan, salam sayang, kritik dan saran, hingga omelan (akibat rasa tidak puas penggemar akan kelakuan sang artis dan semacamnya) ke salah satu jalur yang disebut barusan. Perkara dibalas atau tidak, lagi-lagi urusan belakangan.

Entah bagaimana dengan Anda, ini menyenangkan buat saya. Tiba-tiba mereka tidak lagi terasa 'jauh' dan lebih bisa 'dijangkau' (yah, meski tidak secara fisik juga, sih.) Saya juga mulai bisa memandang mereka sebagai manusia biasa, yang hanya berkarya untuk menghibur dunia. Mereka juga punya hari-hari biasa, dimana mereka senang dekat keluarga saat libur kerja hingga kangen istri-anak saat tur keliling dunia. Mereka juga bukan selalu tipe yang doyan pesta.

Saya ingat saat grup rock favorit saya, Hoobastank, konser akustik di Hard Rock Cafe beberapa tahun silam. (Memang tidak begitu ramai diliput media, tapi saya tidak peduli. Namanya sudah cinta.) Setelah pentas, sebagian anggota sudah cabut ke belakang panggung, kecuali Dan Estrin, sang gitaris yang masih foto-foto sama kasih tanda-tangan ke penggemar. Dengan cueknya, saya hanya menghampiri dia dan bertanya:

"Are you guys coming back?"

"I don't know," jawabnya. (Asli, kita dekat banget - cuma berjarak sekitar lima senti!) Akhirnya, saya cuma mengucap terima kasih dan pulang. Lalu saya menulis liputan konser mereka beserta ucapan terima kasih karena telah sudi datang untuk ketiga kalinya ke Jakarta di FB.(Tak lupa, saya tag note itu untuk anggota band yang punya akun FB dan sudah meng-add saya.)

Sang basis baru mereka, Jesse Charland , yang membaca note saya dan menulis ucapan terima kasih di bagian komen. Senang sekali? Pastinya.

Tak hanya itu, saya juga rajin memberitahu mereka saat saya membeli album baru mereka - atau mengomentari video klip mereka yang baru rilis. Bahkan saya juga pernah iseng bertanya pada vokalisnya, Douglas Robb, lewat Twitter. Dia termasuk yang rajin menjawab pertanyaan para fans di situ.

Saat ada kabar Julia Roberts syuting di Bali untuk film "Eat, Pray, Love" , saya hanya menunggu filmnya keluar. Tak ada niat untuk terbang ke Bali dan melihat prosesnya di sana. Ngapain?

Entah semua ini beneran karena internet, atau hanya saya yang sudah dewasa. Atau mungkin keduanya. Entahlah...

R.

Rabu, 07 Agustus 2013

"LIBURAN MINIM STRES DAN BUDGET"

“Aah, liburan tiba juga akhirnya!”

Itulah ekspresi sangat lega saya sejak terakhir kali bekerja minggu kemarin. Cuma seminggu, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali. Liburan ini ibarat surga dunia bagi para workaholic, terutama yang akut macam saya. (Bayangkan, enam hari seminggu bekerja tetap – dan sisanya proyek lepasan kalau lagi ada.) Tak ada stres, lelah, hingga serangan migraine yang berpotensi melumpuhkan kemampuan berpikir saya untuk sesaat. (Curcol? Biarin.) Ibarat gadget yang keseringan dipakai online, ada saatnya di-recharge. Begitu pun tubuh manusia. Mustahil Anda mengharap – bahkan memaksa – seseorang untuk terus bekerja tanpa lelah, kecuali bila manusia super memang hidup beneran di dunia nyata. (Selamat berharap.)

Apakah saya lantas ikutan ‘mudik’, seperti tradisi tahunan warga Jakarta (atau/dan mereka yang hari-hari biasa mencari penghasilan di ibukota)?

Tidak. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, kami sekeluarga tetap di Jakarta Lebaran ini. Alasannya:

1.Ayah saya masih belum bisa diajak jalan-jalan terlalu jauh (baca: luar kota) karena stroke yang sudah diderita beliau selama empat tahun terakhir.

2.Banyak kerabat bermukim di ibukota. Kenapa tidak berkumpul di sini saja?

3.Minim budget. (Bukannya pelit, tapi realistis. Kalau memang dana belum ada, untuk apa memaksa?)

4.Ngeri lihat berita. (Hmm, mungkin yang ini sebenarnya alasan saya pribadi.) Jumlah pemudik naik tiap tahun, terutama yang lewat jalan darat pakai motor. Jumlah korban kecelakaan ikut meningkat, terutama akibat sesama pengguna jalan yang ugal-ugalan – serasa lupa kemarin-kemarin mereka belajar bersabar lewat puasa.

Singkat kata: tidak. Terima kasih. Kalau yang masih sanggup dan bersedia menjalankannya, silakan. Itu masalah pilihan.

Kangen jalan-jalan? Tentu saja. Jenuh sama Jakarta? Pastinya.

Setelah pernah tahu rasanya berlibur saat ‘off-season’, pandangan saya berubah. Apalagi jam kerja saya tidak selazim orang kantor kebanyakan yang model 9 to 5 – entah lima atau enam hari seminggu. Saya jadi terbiasa libur saat orang lain kerja – dan juga sebaliknya. (Meski kadang ‘sesak’ juga rasanya saat mau bikin janji dengan teman-teman yang jam kerjanya lebih umum. Selain susah, ada kalanya saya merasa tak enak hati saat mereka menunggui saya selesai kerja. Kadang malah akhirnya saya tidak bisa ikut serta, serasa terlempar dari ‘orbit’ bernama pergaulan sosial. Memang sudah resiko, tapi tetap saja...)

Seperti sekarang ini. Saya bersyukur bisa menikmati Jakarta yang lebih sunyi dari biasanya. (Kapan lagi?) Istirahat dari macet, bising, kebanyakan polusi yang bikin paru-paru kita terlihat sama dengan perokok berat saat dicek dokter – meski kita sudah mencoba hidup sehat. Tidak perlu takut ditabrak pengendara motor saat melenggang santai di trotoar yang memang sudah haknya pejalan kaki. (Yang punya motor tidak perlu merasa tersinggung, ya. Selama Anda bukan pelakunya, santai saja.)

Memang benar pepatah orang bijak:

Sering kita terlalu tenggelam dalam hal-hal besar hingga lupa menghargai yang kecil dan sederhana, tapi tak kalah penting dan bermakna. Seperti menikmati hari-hari pendek bebas stres, yang sepi dan damai di ibukota. Tanpa drama, otak dan batin bisa beristirahat dengan lebih lega.

Kapan ya, Jakarta bisa seperti ini lagi?

Ah, sudahlah. Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon maaf lahir dan batin.

R.

(Jakarta, 7 Agustus 2013)

Rabu, 31 Juli 2013

"RUBY? RUBI?? RUBBY???"

Bukan bermaksud narsis, tapi memang banyak cerita di balik nama saya. Banyak ejaan dan panggilan berbeda, mulai dari karena salah dengar, salah asumsi, hingga ‘cuma’ tidak peduli.

Orang tua memberi nama saya Ruby Astari. ibu menyukai batu mulia berwarna merah yang dinilai sangat mahal itu. Beliau juga penggemar Astari Rashid. Tampaknya beliau berharap saya tumbuh menjadi pencinta seni sekaligus perempuan anggun dan feminin.

Setidaknya yang pertama terwujud.

Sejak kecil, mayoritas tetangga sekitar rumah memanggil saya Robi. Entah mengapa demikian. Berkali-kali Ibu dan saya membetulkan, “Ruby, bukan Robi.” Masih saja ada yang salah panggil. Lama-lama saya curiga, jangan-jangan mereka tidak peduli. Yang penting saya masih menengok dan menyahut saat dipanggil. (Padahal, saya hanya capek mengoreksi.) Gara-gara itulah saya sempat berspekulasi bahwa itu sindiran. Maklum, saya bukan perempuan feminin sejak kecil.

Kasus salah panggil kerap terjadi saat pertemuan keluarga besar. Memang, kami jarang sekali bertemu. Entah mengapa ada yang memanggil saya ‘Ribby’. Setiap dibetulkan, hasilnya sama saja. Lama-lama saya pun lelah. Sudahlah.

Selain salah panggil, yang juga sering terjadi adalah salah asumsi. Sepengetahuan saya, ‘Ruby’ hanyalah nama untuk perempuan - terutama di dunia barat dan internasional. Anehnya, hanya di Indonesia nama itu diberikan juga untuk laki-laki. Malah lebih banyak yang mengira nama itu ‘hanya’ untuk laki-laki. Beberapa kali saya memperkenalkan diri, ada saja yang berkomentar: “Ruby? Kayak nama cowok!”

Gara-gara itu pula, nama saya sempat ‘nyasar’ ke dalam daftar penduduk laki-laki saat pilkada gubernur. Panitia penyelenggara langsung memindahkannya ke daftar yang benar saat saya muncul dengan KTP saya. Memalukan.

Masih ada lagi, yaitu soal salah eja. Ibu pernah marah besar waktu menerima kartu pasien untuk saya dari salah satu rumah sakit di Jakarta. Di kartu itu tercetak nama ‘RUBBY ASTARI’. Sayangnya, saat beliau menuntut penggantian nama (berikut kartunya), tidak ada tindakan apa-apa. Dari SD hingga kuliah, nama saya di kartu pasien RS tersebut masih sama.

Hingga saat dompet saya kecopetan. Berhubung malas meminta penggantian kartu dari RS yang sama, saya mendaftar ke rumah sakit lain dan untungnya kali ini nama saya dicetak dengan benar.

Ada juga yang berulang-kali menulis nama saya dengan: ‘RUBI ASTARI’. Boleh saja berdebat dengan alasan bunyinya tetap sama atau orang Indonesia tidak terbiasa melafalkan akhiran ‘y’ sebagai ‘i’. Argumen saya tetap sama: bukan itu nama yang tercantum dalam akte kelahiran, KTP, maupun CV saya.

Bahkan, ratu talkshow dari Amerika Serikat pun mengalami nasib yang membuatnya terpaksa mengganti nama. Bayangkan, hanya karena kesalahan pencatatan sipil, nama Orpah Winfrey bisa menjadi Oprah Winfrey. Untung nama itu membawa hoki.

Seorang rekan melihat bahwa masih banyak orang tua di Indonesia yang memberi nama anak tanpa riset lebih lanjut. Selain nama saya yang ‘kata mereka’ seperti nama laki-laki, rekan saya mengenal seorang laki-laki bernama Eva. (Eva / Hawa adalah istri Nabi Adam AS.) Padahal, asal terdengar keren tanpa benar-benar mengetahui arti dan asal nama tersebut, sang anak bisa menghadapi kesulitan nantinya. Contoh: apabila laki-laki yang bernama Eva tersebut pergi ke luar negeri dan berinteraksi dengan orang-orang yang mengetahui arti dan asal namanya, bukan tidak mungkin nanti dia akan ditertawakan. Belum lagi masalah asumsi petugas catatan administrasi di bagian imigrasi. Bagaimana kalau nasibnya seperti saya saat pilkada gubernur, meski kali ini dengan alasan valid bahwa Eva sebenarnya memang nama untuk hanya perempuan?

Mungkin banyak yang akan menuduh saya terlalu sensitif perihal nama. Yang gemar menggampangkan masalah juga pasti berdalih dengan alasan: “Ah, cuma beda satu huruf. Ribut amat!”

Entah apa mereka masih berargumen demikian, jika suatu saat mereka batal ke Eropa - ‘cuma’ gara-gara nama yang tercantum di tiket selisih satu huruf dengan yang ada di paspor. Atau seperti yang dialami seorang mahasiswa dari Florida. Zachary Garcia sempat panik setengah mati saat iseng meng-google namanya sendiri dan menemukan fotonya sebagai tersangka pembunuhan. Usut punya usut, ternyata kepolisian Folk County Office keliru memasukkan biodata dan foto Zachary dengan pelaku sebenarnya dengan nama ZACHERY GARCIA.

Dalam hal ini, hanya satu yang perlu diingat: komputer hanya menyimpan data yang disimpan manusia. Masih mau meremehkan nama yang salah dieja?

R.

( 04 August 2011 | 17:42)  

Minggu, 21 Juli 2013

"SAAT CERDAS TAK SEKEDAR 'GELAR'..."

"Hahaha, bego lu! Masa gitu aja gak bisa / ngerti?"

"Logika lo dimana, sih? Otak lo ketinggalan?"

"Dasar goblok! Idiot!!"

Sering dengar ucapan-ucapan bernada kasar di atas? Dari orang-orang tersayang, mungkin? (Sayang sekali.)

Jika Anda merasa nggak nyaman membaca makian-makian di atas, bersyukurlah. Berarti Anda masih manusia yang punya hati (terlepas dari sosok-sosok 'sok jagoan' di luar sana yang mungkin akan menganggap Anda terlalu cengeng, lembek seperti tempe, dan kelewat sensi. "Payah, baru gitu aja udah tersinggung!" Halooo, siapa sih, yang senang dihina-hina - apalagi di muka umum pula?!)

Saya sadar, dulu saya bukan murid langganan ranking tinggi. Prestasi saya ibarat berat badan saya - sama-sama senang main yo-yo. (Hehe.) Kadang naik, kadang turun. (Andai saja tidak kebalik - yang prestasi naik terus, berat badan kalo bisa turun terus.) Belum lagi harus minta bantuan tutor sepulang sekolah. Jujur, saat itu saya sempat merasa 'bodoh'. Apalagi banyak ucapan bernada kecewa ditujukan pada saya, seperti: "Kalo orang lain bisa, kenapa kamu enggak?"

Hal itu diperparah sistem pendidikan di Indonesia. Kayak sistem pembagian IPA dan IPS, serta 'pendewaan'  jurusan IPA oleh sejuta umat. Ortu lebih bangga bila anak mereka lulusan IPA. (Kayaknya, hingga kini masih banyak juga ortu yang bercita-cita punya anak dokter.)

Nggak hanya itu. Seseorang baru dianggap cerdas kalo tahu banyak hal, alias mampu mengingat banyak fakta. (Baca = menghapal.) Selain itu, pasti langsung dituduh kurang atau nggak pernah baca...atau dianggap kurang atau nggak cerdas. Sesederhana itu. Yang berpikir kritis malah masih dianggap pembangkang yang nggak tahu aturan atau sopan-santun.

Saking 'silau'-nya sama gelar dan IQ ("Wah, dia punya dua gelar S1!" atau "IQ-nya ada 180!"), banyak yang suka lupa bahwa - sama seperti rezeki dan jodoh - kecerdasan pun berkah dari Allah. Bukannya nakutin, tapi berhak lagi-lagi bisa diambil kembali bila yang diberi menjadi sombong dan lupa daratan. (Apalagi bila disumpahi sama yang sakit hati.) Apa gunanya bila cerdas tapi nggak bisa jaga perasaan orang? Apa gunanya gelar bila hanya dipamerkan? Bukankah pada dasarnya manusia saling membutuhkan? Ngapain malah saling merendahkan?

Mungkin orang-orang yang hobi memaki-maki Anda merasa lebih cerdas dan berhak mencari pembenaran atas perbuatan mereka yang menyakiti hati Anda. Entah karena kehabisan kesabaran, kurang bijak, lelah, hingga ego belaka. Apa pun alasannya, mereka suka lupa bahwa ucapan mereka hanya akan mengundang rasa benci, bukan simpati. Selain itu, sebenarnya mereka juga pencinta standar ganda: mereka sendiri juga nggak suka dimaki-maki.

Terlepas dari siapa yang benar dan salah, mengapa harus berdialog dengan makian? Bukankah masih banyak cara lain yang lebih elegan? Hayo, ngakunya cerdas??

Lagi-lagi, kita rajin diingatkan (agar bisa saling mengingatkan) untuk belajar merendah - terutama di bulan puasa ini. Tundukkan ego, agar tidak menyesal di kemudian hari. Semoga setelah Ramadan kali ini, kita menjadi pribadi yang lebih cerdas luar-dalam - bukan sekedar gelar. Amin ya rabbal áalamiin...

Seperti biasa, semoga tulisan sederhana ini bermanfaat.

R.

(Jakarta, 14 Juli 2013)

Senin, 08 Juli 2013

"PUASA ANTI GARING"

Puasa sebentar lagi. Hayo, udah pada siap, belum?
Mungkin topik ini udah berulangkali dibahas hingga bosan. Yah, manusia juga cenderung pelupa, jadi nggak ada salahnya saling mengingatkan lagi – bahkan untuk hal yang sama.
Banyak cara produktif untuk menjalani bulan puasa. Insya Allah, semoga beberapa cara di bawah ini termasuk anti garing. Amin!

1.Banyak beribadah.
Kalo bisa lebih banyak dari bulan-bulan lainnya, hehe. Nasihat klise, memang, terutama buat saya yang asli ‘hancur’. Kapan lagikah kita akan beruntung dipertemukan dengan Ramadan? Semoga lagi, lagi, dan lagi – hingga akhir hayat. Amin!
2.Lebih giat berdoa.
Lemes sih, tapi masih lebih baik daripada bengong. Selain bikin tambah lemes, bengong pun berpotensi membatalkan puasa – terutama bila berujung memikirkan yang ‘aneh-aneh’. Hiih!
3.’Melahap’ bacaan.
Buat kamu yang doyan baca tapi akhir-akhir ini tidak sempat (atau mungkin lebih memilih melakukan yang lain), ini saatnya ‘melahap’ bacaan lebih banyak dari biasanya. Daripada bengong mikirin lapar dan haus, lebih baik menambah ilmu.
4.Ajang kreatifitas.
Buat para penulis atau yang hobi gambar dan desain, ini saatnya berkarya. Kalo ada waktu luang, daftarkan dirimu ke workshop kreatif sesuai minatmu – atau cek lomba-lomba yang ada di dunia maya. Siapa tahu, setelah bulan puasa kali ini, makin banyak penulis, desainer, dan seniman canggih Indonesia bermunculan!
5.Jaga kesehatan.
Mau olah raga di bulan puasa? Boleh. Justru malah disarankan (selain menjaga pola makan dengan baik dan benar agar puasa lancar!) Seorang teman yang sudah terbiasa menyarankan agar kita berolah raga sekitar satu jam sebelum waktu berbuka. (Biar habis itu langsung minum.)
Mau olah raga pagi? Boleh. Kecuali kita terbiasa seperti Zine Zidane, tidak disarankan untuk berolah raga kelewat ‘heboh’. (Terutama yang sedang kelebihan berat badan seperti saya, hahaha!)
6.Jaga jarak dengan orang-orang bermulut dan berkelakuan ‘garing’.
Nggak perlu memusuhi, apalagi sampai menyumpahi. Doakan mereka agar segera sadar dan berubah ke arah yang lebih baik. (Kalo belum, itu urusan pribadi mereka sama Yang Di Atas – dan maksud saya bukan pilot yang lagi lewat di angkasa dengan pesawatnya!) Mereka yang bermulut dan berkelakuan ‘garing’ mungkin hanya cari perhatian, butuh pengakuan, hingga lupa atau malah tidak pernah diajari tata-krama dan sopan-santun sama orang tua. Kasihanilah mereka yang pikirannya belum – atau sulit – terbuka, terutama karena mereka menolak untuk mencoba.

Mungkin ada tambahan lain? Selamat menjalankan ibadah puasa.

R.

(Jakarta, 5 Juli 2013)