Sabtu, 05 September 2015

TENTANG BLOGGER INI:

TENTANG BLOGGER INI:
Ada yang bilang, perempuan yang suka menulis (ya, iyalah!), membaca, menyanyi, mendengarkan musik, menonton film, konser, hingga pagelaran teater ini terlalu sibuk. Selain mengajar Bahasa Inggris, perempuan ini juga penulis dan penerjemah. Novel perdananya - "Reva's Tale" - telah diterbitkan oleh Ice Cube Publisher, Gramedia.
Terus, sekarang dia lagi ngapain?
Masih sama: mengajar, menerjemahkan, dan menulis. Selain itu, sebisa mungkin berusaha mengurangi kegelisahannya dengan banyak-banyak berdoa, belajar ikhlas, mencoba tidur dan olah raga teratur, mengatur pola makan, hingga mengurangi minum kopi!
R.

"SELAMAT TIDUR, AYLAN KURDI..."

Dunia ini terlalu kejam untukmu, nak
Banyak yang gemar berpura-pura
Mereka hindari kabar buruk bak wabah
Terlalu ngeri kenyataan ini mereka hadapi

Ya, dunia ini terlalu kejam, nak
terutama untuk jiwamu yang murni tanpa dosa
Apakah kemanusiaan telah lama terkutuk?
Seakan tiada yang sudi merangkulmu

Kau tampak lelap dalam diam
terdampar jauh dari lautan dalam
Kau lebih dari gumpalan kecil merah dan biru
Andai banyak yang dapat kami lakukan untukmu

Akankah banyak lagi yang sepertimu?
Kutahu kau bukan satu-satunya
Ya, Tuhan! Kata mereka usiamu baru tiga
Ayah-bundamu telah berusaha menjagamu dan kakakmu
apa pun agar kalian aman selalu

Mungkin kau benar-benar telah tertidur
Tiada yang dapat melipur lara yang enggan terkubur
Kau tampak damai, namun kami selamanya dihantui rasa ngeri
melihat jenazahmu tersapu hingga ke pantai

Kuyakin kau aman dalam pelukan-Nya
Kini jiwamu tak lagi terpenjara
Semoga kau akan berkumpul kembali dengan keluarga
dalam Surga Abadi bernama "Al-Jannah" untuk selamanya...

R.
(Jakarta, 5 September 2015 - 20:42)

Rabu, 02 September 2015

"TERSESAT DI DUNIA MAYA"

Sebuah pesan singkat singgah di ponselku: “Mak, nyalakan internetnya, dong! Mau pulang, nih.”
            Awalnya tak kugubris. Namun, pas tengah malam kedua, pesan itu muncul lagi. Selalu dari nomor yang sama: 865-664-258.
            Lama-lama aku kesal. Kubalas pesan aneh itu: “Ini siapa, sih?”
            Anehnya, pesan balasanku tidak terkirim. Kucoba menelepon nomor itu. Yang kudengar hanya nada sambung tiga kali sebelum akhirnya terputus.
            Esoknya, aku bercerita pada sahabatku, Bintang. Bintang yang sangat suka misteri langsung tertarik.
            “Mana?” Ketika kutunjukkan pesan itu berikut penjelasan mengenai yang sudah pernah kulakukan untuk mencari tahu niat si pengirim, tiba-tiba Bintang punya ide: “Coba forward ke aku, deh.”
            “Oke.”
            Buru-buru Bintang mengecek ponselnya. Keningnya berkerut. “Hmm, aneh.”
            “Kenapa?” tanyaku penasaran. “Nggak kekirim?”
            “Kekirim, sih,” jawab sahabatku. “Cuma, nomornya bukan dari nomor kamu.”
            “Hah?” Oke, sekarang ini beneran aneh. Masa pesan yang ku-forward ke ponsel Bintang keluarnya bukan dari nomorku, tapi dari 865-664-258? Nggak mungkin banget. “Mungkin kamu juga dapet kali, sementara pesanku belum keterima.”
            “Kok bisa, ya?” Giliran Bintang yang mencoba menelepon nomor itu. Sama seperti kasusku, tidak bisa. Lagi-lagi yang terdengar hanya nada sambung tiga kali sebelum terputus secara otomatis.
            Kami bertukar pandang. Sayangnya, bel keburu berbunyi. Kami pun batal melanjutkan obrolan dan mulai belajar hari itu.
            Sesaat aku melupakan soal pesan aneh itu di ponselku...dan sekarang juga ponsel Bintang tentunya. Namun begitu malam tiba, saat aku tengah menyalakan internet, tiba-tiba Bintang menyapaku lewat chatroom messenger di Facebook:
            “Lan, aku takut.”
            “Kenapa?”
            “Ada yang terus berusaha add aku, tapi anehnya punya akun yang persis sama denganku. Plek-plek seisinya. Udah aku reject terus dan bahkan sampai blokir, tapi entah kenapa dia berhasil masuk dalam daftar temen-temenku.”
            “Hacker kali.”
            “Nih, sekarang udah kucoba remove dia berkali-kali, masih aja ada. Balik lagi terus, Lan. Kublokir lagi juga nggak bisa.”
            “Sebentar, aku cek dulu.” Aku beralih ke profil Bintang dan daftar teman-temannya. Tidak ada apa-apa. Semua tampak normal.
            “Nggak keliatan, Tang,” ketikku membalas pesan terakhirnya. “Di situ masih ada?”
            Tak ada respon. Hening. Kuketik lagi: “Bintang?”
            Sama saja. Kutelepon, tidak diangkat. Ah, sudahlah. Mungkin Bintang ketiduran. Besok saja aku tanya.
            Tak pernah kusangka, itulah malam terakhir aku mengobrol dengannya. Keesokan harinya, orang tua Bintang melaporkan kehilangan putri tunggal mereka. Anehnya, dia seperti raib tanpa jejak. Yang ditemukan di kamarnya hanya baju tidurnya di atas kursi, depan komputer yang masih menyala.
            Pesan misterius itu juga mendadak lenyap dari ponselku, meski aku masih sempat iseng-iseng menebak kode dari nomor telepon itu:
            865-664-258 à TOL-ONG-AKU
            Mengapa hanya Bintang yang hilang? Teori hororku, mungkin gara-gara malam itu dia online duluan di internet sebelum sempat mem-forward itu ke nomor lain. Setidaknya itu pengakuan yang kudengar dari beberapa orang lain yang juga pernah menerima pesan serupa dan selamat berkat mem-forward pesan itu ke orang lain.

            “Mak, nyalakan internetnya, dong! Mau pulang, nih.” Jika kebetulan menerima pesan seperti itu dari ponselmu, jangan turuti. Segera forward ke nomor lain, demi keselamatanmu. Lebih bagus lagi kalau setelahnya, kamu bisa memperingatkan penerima pesan berikutnya. Mungkin kamu akan dianggap gila karena terdengar sangat aneh, tapi lebih baik begitu daripada tidak sama sekali.


"PUISI UNTUK PEMALAS"

Bangunlah, wahai pemalas!
Mau sampai kapan berleha-leha?
Ucapan favoritmu adalah: "Nanti saja."
Tak sadar suatu saat kau yang habis terlibas.

Katamu sudah cukup puas
dengan semua yang ada
Untuk apa lagi susah-payah berusaha?
Yang ada malah lelah akibat bekerja terlalu keras.

Jika demikian,
tak perlulah menebar iri, dengki, dan semua kebencian
kepada mereka yang tak henti bergerak
sementara kalian memilih diam jadi kerak.

Bukan salah mereka kalian merana.
Katanya suka leha-leha?
Biarkan mereka terus berusaha,
sementara kalian sendiri enggan kemana-mana.

Berhentilah merengek, wahai para pemalas!
Jangan buat mereka gerah
dengan kalian yang bisanya hanya berkeluh-kesah
terus-menerus mencari siapa yang salah!

R.
(Jakarta, 29 Agustus 2015 - 11:15 )

Sabtu, 29 Agustus 2015

#CSW-CLUB DIARIES 6: "TEMPAT FAVORIT"

Apa tempat favorit Anda? Seperti biasa, jawaban tiap orang pasti berbeda. Ada yang bisa menyebut satu, beberapa, hingga: “Banyak!” Untuk jawaban terakhir, biasanya karena kesulitan memilih. Begitulah bila Anda kebetulan sangat suka jalan-jalan dan sudah pernah mengunjungi banyak tempat yang indah-indah.
            Apa alasan Anda memilih suatu tempat sebagai tempat favorit? Sama seperti pertanyaan sebelumnya, jawaban bisa beragam. Namun, alasan emosional menempati urutan pertama. Kebanyakan mengaitkan tempat favorit mereka dengan kehadiran sosok-sosok tercinta atau orang-orang terpenting dalam hidup mereka, seperti: keluarga, sahabat, hingga pasangan. Lagipula, bukankah kita sudah sering mendengar ungkapan “Home is where the heart is”? Dimana pun mereka berada, semua akan tampak indah bila hati merasa sungguh-sungguh bahagia. Meski tinggal di istana emas paling besar pun, tak ada gunanya bila hati merasa tidak bahagia alias terpenjara. (Jiahh!)
            Tapi ya, lagi-lagi bahagia itu masalah pilihan. Seperti kata seorang kawan: “Sebenarnya, kalau mau lebih jeli melihat, tidak ada pilihan yang benar-benar baik atau pun buruk. Semua hanyalah masalah persepsi.” Pemikiran yang positif dan brilian, meski mungkin bagi sebagian orang lainnya akan terdengar begitu utopis – alias tidak objektif maupun realistis. Dengan kata lain: in denial (dalam penyangkalan). Mungkin akan ada yang membantah begini: “Kalau kenyataannya emang lagi jelek, ya jelek aja. Nggak usah berlagak nggak ada apa-apa alias semuanya baik-baik aja!”
            Kalau seseorang sudah merasa cukup berbahagia berada di tempat paling sederhana yang mungkin bagi yang lain termasuk ‘enggak banget’, lalu siapa kita yang (merasa) berhak menghakimi pilihan hidup mereka? Begitu pula sebaliknya. Ngakunya sih, sudah merasa cukup puas dengan standar hidup sendiri yang sudah ada, alias nggak mau berusaha meningkatkan kualitas atau ‘naik kelas’. Tapi, diam-diam – atau mungkin malah terang-terangan – malah nyinyir sama mereka yang (dianggap) hidup ‘berlebihan’ serta doyan banget jalan-jalan kemana-mana. Kok malah jadi ngatur-ngatur dan memaksakan selera? Kalau pun tidak suka atau sepaham, ya cuekin saja selama nggak ada yang saling mengganggu! Yakin, situ sudah beneran ‘ikhlas’ dengan realita yang ada?

            R.

            (Jakarta, 29/8/2015 – 19:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 27 Agustus 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee – Setiabudi One, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tema: “Tempat Favorit”.)

"TIDURLAH, TIDUR..."

Selamat malam, sayangku.
Tidurlah yang lelap,
meski banyak yang menggayuti benakmu.
Berusahalah untuk nyenyak.

Esok 'kan datang.
Hari lain 'kan kita jelang.
Untuk saat ini, biarkan jiwamu bebas mengembara
ke dunia mimpimu yang seluas alam raya...

R.
(Jakarta, 29 Agustus 2015 - 11:15)

Rabu, 26 Agustus 2015

#CSW-CLUB DIARIES 5: "PERMAINAN"

Siapa yang suka main? Pasti banyak yang tunjuk tangan. Tak hanya anaka-anak, sepertinya semua kalangan suka. Entah bagaimana ceritanya bila sampai ada yang tidak suka atau belum pernah bermain apa pun seumur hidupnya.
Main apa? Setiap orang pasti punya permainan favorit masing-masing. Mau main sendiri, sama orang lain, atau per grup? Terserah dan pasti ada saja macamnya. Mulai dari permainan-permainan angkatan 'lama' macam petak umpet, benteng, hingga board games macam catur, halma, ular-tangga, monopoli, dan sebagainya. (Kalau sekarang mungkin lebih banyak yang main online games.)
Ada juga yang memilih olah raga sebagai permainan, tidak sekedar menyehatkan badan. Apa saja jenisnya, selama yang melakoni senang.
Bagaimana dengan yang lainnya?
Ada yang bilang, hidup ini ibarat permainan. Ada yang memilih ikut aturan (layaknya anak baik-baik) agar menghindari kesulitan dan pelanggaran. Ada juga yang memilih mencari-cari 'celah' untuk dilanggar, terutama dengan alasan klise: hanya ingin bersenang-senang. Sekedar cari tantangan. Ah, mumpung masih muda. Hidup cuma sekali. Kapan lagi?
Ada yang cepat ketahuan dan langsung dapat ganjaran. Ada yang lama sebelum akhirnya menerima hukuman.
Ada yang lolos? Ah, tidak juga. Kata siapa? Bukankah Tuhan Maha Kuasa? Justru lebih ngeri lagi, kalau bayarnya di akhirat sana...
Seorang kawan pernah menyayangkan fakta menyedihkan ini: kadang orang hobi mempermainkan orang lain. Mulai dari sekedar bercanda yang konsekuensinya ringan (seperti bikin bingung dan kesal si objek penderita) hingga yang paling merugikan, bahkan mencelakakan diri sendiri maupun orang lain. Yang sering terlupa hanya satu fakta di bawah ini:
Karma berbicara.
Bisa jadi, suatu saat giliran kita yang dipermainkan orang lain. Jangan sampai nanti ada yang berkomentar begini sama kita:
"Are you playing the game or is the game playing you?" (dari film "Romeo Must Die")
R.
(Jakarta, 23/8/2015 – 14:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 20 Agustus 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee – Setiabudi One, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tema: “Permainan”.)