Sabtu, 17 Oktober 2015

"DEMI HATI, AKUI ILUSI"

Setengah-mati kucoba yakinkan diri
bahwa kau hanyalah ilusi
Bila nyata, kau hanya akan melukai
terutama saat kau pergi

Ah, penyangkalan memang bisa indah
Tak perlu bertarung sampai lelah
hingga kemudian tenggelam dalam gundah
meski sumpah, kadang rasanya muak saat kalah

Maaf, aku harus percaya ini tidaklah nyata
Sudah terlalu sering kecewa
Kadang lebih baik memang berpura-pura
bahwa kita selalu baik-baik saja
hanya agar tiada yang (terlalu) kecewa maupun terluka...

R.
(Jakarta, 17 Oktober 2015 - 12:35)

M

Rabu, 14 Oktober 2015

#CSW-CLUB DIARIES: "KARAOKE"

Siapa yang suka nyanyi di karaoke? Silakan tunjuk tangan. Tidak masalah bila Anda beneran bisa nyanyi atau sekedar cuap-cuap atau bahkan teriak-teriak. Yang penting buat senang-senang.
Dalam bahasa Jepang (lewat riset seorang teman), 'karaoke'  berarti 'opera kosong' (empty opera). Mungkin kurang lebih sama seperti istilah 'minus one', dimana ada rekaman instrumen musik sebuah lagu, namun bagian vokal aslinya bisa dihilangkan dengan mesin dan bisa diganti dengan suara siapa saja.
Kalau tidak hapa lirik lagunya? Tinggal lihat teks di layar.
Tak hanya di Jepang, karaoke termasuk kegiatan komunal yang populer di Indonesia. Mulai dari karaoke rumahan (sejak zaman LD, CD, hingga mesin karaoke yang entah berapa harganya) hingga tempat-tempat khusus karaoke. Yang paling sering terjadi adalah rombongan manusia yang lelah selepas overtime kerjaan di kantor (seperti Anda dan teman-teman, mungkin?) langsung cabut ke tempat karaoke dan menyanyi sepuas hati.
Ada juga yang memanfaatkan tempat karaoke untuk tempat latihan sebelum ikutan audisi atau lomba menyanyi. Bahkan, ada juga yang anti karaoke, yang berpendapat begini:
"Ngapain bayar mahal-mahal, hanya untuk duduk-duduk dalam ruangan sempit lalu teriak-teriak di mikrofon?"
Seperti biasa, lagi-lagi semua hanya masalah selera...
R.
(Jakarta, 9/10/2015 – 18:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 8 Oktober 2015, pukul 20:00 di Taman Suropati - Menteng. Tema: “Karaoke”.) 

Selasa, 13 Oktober 2015

“12 CARA SEMBUHKAN PATAH HATI A LA PENULIS ‘GILA KERJA’ “

1.    Berlawanan dengan cara beberapa orang yang mungkin akan dengan senang hati pamer pada Anda bahwa mereka (sok) kuat karena bisa cepat move on, langkah pertama yang harus Anda ambil adalah: akui masalah. Jujurlah pada diri sendiri bahwa ya, Anda patah hati. Sakit itu benar-benar ada ‘di sini’ (*sambil menunjuk dada – dan mungkin juga kepala, bila sampai pakai acara pusing segala!*)

Sayangnya, tidak semua orang di dunia ini akan (selalu) mengerti masalah Anda, jadi tidak perlulah ‘diumbar’ kepada sejuta umat, meski ada social media segala. Walaupun ada beberapa teman dekat yang bisa jadi tempat curhat, tetap jangan sering-sering juga membanjiri telinga mereka dengan cerita sedih yang sama. Bukan apa-apa, Anda pasti juga eneg ‘kan, bila selalu disuguhi cerita yang sama? Kecuali bila Anda terapis handal.

2.    Banyak-banyak berdoa. Ya, maaf. Ini harusnya memang di urutan pertama. Caranya? Terserah agama dan kepercayaan masing-masing.

3.    Puas-puasin deh, melampiaskan emosi – selama masih dalam takaran wajar dan cara yang sehat. Mau menangis pas lagi sendirian di kamar? Silakan. Sambil dengerin lagu-lagu mellow atau yang heavy metal sekalian? (‘Kan tergantung selera masing-masing.) Tidak ada yang melarang. Kalau sampai ada, cuekin saja. Memangnya siapa mereka? Suka-suka Anda, dong!

Mau pakai acara banting-banting barang atau “pecahkan saja gelasnya, biar ramai...biar gaduh sampai mengaduh” kayak puisinya Rangga yang dibacakan Cinta? Jangan. Selain berisik dan asli bisa ganggu orang sekitar, ada kemungkinan besar Anda akan menyesal saat menyadari bahwa ternyata Anda masih membutuhkan barang-barang tersebut, namun sayangnya sudah terlanjur Anda pecahkan semua. Nah, lho.

4.    Lakukan selective hearing dan sharing. Meski sedang sangat haus akan perhatian, pengertian, dan dukungan – ada baiknya Anda tidak bercerita kepada sembarang orang. (Darimana Anda bisa tahu? Maaf, saya sendiri juga bukan ahli nujum. Selamat berburu.) Selain tidak / belum tentu semua orang akan mengerti masalah Anda, kemungkinan terburuk adalah Anda yang malah akan disalahkan. “Cewek/cowok kayak gitu kok, diharapin.” Atau: “Sudahlah, masih banyak ikan di laut ini.” (Padahal, jelas-jelas Anda maunya sama orang, bukan ikan!)

Meski dalam hal ini kebetulan memang Anda yang salah, yakin Anda mau mendengar omelan mereka? Apa gunanya coba? Sudah kejadian. (Dengan catatan: Anda cukup dewasa dan berbesar hati untuk mengakui bahwa Anda manusia biasa yang banyak salah, bukan selalu bertingkah seperti korban tak berdaya.)

5.    Saatnya libur jadi ‘orang dewasa dengan segudang problema/drama’. Sediakan sehari dimana Anda bisa (pura-pura) jadi anak-anak lagi. Mau nonton film kartun, baca buku cerita anak, main sama keponakan yang masih kecil, menggambar, terserah. Percaya atau tidak, cara ini cukup ampuh mengusir stres dan bikin rileks, dengan catatan: tidak keterusan dan tidak dilakukan saat jam kerja, kecuali ingin atasan mengirim Anda ke ahli jiwa atau meminta Anda berhenti bekerja – atau malah keduanya!

6.    Sibukkan diri Anda dengan berbagai kegiatan yang lebih berguna. Kalau bisa, sampai Anda tidak punya waktu lagi untuk memikirkan si penyebab patah hati. Kerja kek, nongkrong dengan teman-teman (semoga nggak ada yang menyinggung-nyinggung ‘sosok itu’), berkumpul dengan keluarga (semoga nggak ada yang ribut bertanya kapan Anda akan berhenti melajang dan segera menikah sesuai harapan mereka), dan mengerjakan hobi. (Ya, terutama menulis.)

7.    Mungkin Anda bukan tipe yang banyak bicara atau tukang curhat, tapi biarkanlah karya Anda yang ‘berbicara’. Mau melukis, menari, menyanyi, menulis puisi, cerpen, novel, atau artikel semacam ini? Terserah. Mau ada yang mengejek Anda sebagai sosok cengeng atau kayak Taylor Swift yang hobi menyindir mantan lewat lagu-lagu ciptaannya? Aminkan saja untuk ejekan terakhir, siapa tahu Anda beneran bisa jadi ngetop dan tajir kayak Taylor Swift. Bayangkan, siapa sih, yang tidak ingin karyanya laku keras di pasaran dan diingat banyak orang?

8.    “Kapan lo liburan?” Ini yang sering banget ditanyakan pada penulis gila kerja. Saran ini boleh dicoba. Tidak hanya sukses mengusir rasa jenuh dan (semoga) menyembuhkan patah hati, Anda juga bisa kembali dengan ide-ide baru dan segar untuk calon-calon tulisan berikutnya.

9.    Saatnya lebih berprestasi, baik di tempat kerja maupun dalam berkarya. Jangan lupa jaga kesehatan. Rugi banget kalau Anda sampai jatuh sakit hanya gara-gara memikirkan mereka yang belum tentu peduli perasaan Anda. Mau ikut lomba menulis? Tinggal cari lewat Google atau subscribe situs tulis-menulis pilihan Anda. Selain bisa dapat penghasilan tambahan, Anda juga bisa terkenal dan – siapa tahu – dapat menginspirasi sesama.

10. Relakan, bersyukur, dan berbahagialah. Tiada yang abadi. Coba ingat-ingat lagi, sebelum ketemu sosok itu, Anda masih bernapas, ‘kan? Sesudahnya juga sama saja, ‘kan? Cukup ingat-ingat saat-saat terindah bersama mereka. Kalau tidak kuat, tidak usah dipaksa.

Mungkin Anda merasa masih (dan akan selalu) mencintai mereka, tapi belum tentu mau/bisa bersama...atau enggan kembali bersama. Cukup kirim doa agar mereka selalu baik-baik saja. Tidak perlu menyimpan marah, sakit hati, maupun dendam. Rugi bandar, apalagi kalau sampai kelamaan. Salah-salah gagal deh, usaha Anda untuk terlihat seawet muda mungkin, hehe.

11. Terlepas dari ‘apa kata banyak orang’, tidak perlu langsung menerima sosok baru dalam hidup Anda bila ternyata Anda memang belum siap. Yang tahu kapan butuh hanya Anda, bukan mereka. Jangan sampai Anda menumbalkan sosok itu jadi rebound, alias pelampiasan belaka. ‘Kan kasihan kalau ternyata mereka beneran mau serius dengan Anda.

12. Masih susah move on? Silakan kunjungi terapis terdekat. (Maaf, saya tidak sedang mengejek Anda, karena ini bisa terjadi pada siapa saja – terutama mereka yang merasa kuat, padahal sebenarnya tidak juga.)

Bagaimana bila cara-cara di atas tidak berhasil juga? Maaf, saya hanya penulis ‘gila kerja’, bukan terapis berlisensi!

R.

(Jakarta, 30 September 2015 – 11:00)


"GARA-GARA KAMU!"

Ada banyak tanya menggantung di benaknya
Siapa kamu?
Dia terperangkap dalam hening alam raya
susah-payah mencoba mengeluarkanmu dari dalam kepala

Ah, sama saja
Kamu masih kokoh bercokol di dalam sana
Takutnya, lama-lama dia bisa gila
terutama bila kamu tidak pergi-pergi juga

Sayangnya, dia juga ingin kamu tinggal
meski sadar tiada yang kekal
kecuali Yang Maha Kuasa
yang sayangnya enggak kamu percaya
Kalau sudah begini, dia harus bagaimana?

Mungkin doa hanya satu-satunya
Sementara itu, dia belum memutuskan juga
apakah kamu racun penyebar pilu
atau obat penawar rindu...

Aduh, kenapa pula harus ada kamu?
Sebelumnya, dia tidak sebegini sendu...

R.
(Jakarta, 14 Oktober 2015 - 1:15)

Jumat, 09 Oktober 2015

"KAMU (DAN AKU YANG MEMBEKU DALAM RAGU)"

Kamu datang tanpa kupinta,
mengacaukan semua yang ada
membuatku bertanya-tanya:

Apa artinya ini?
Ada takut merasuki hati
antara ingin kau tinggal dan usahaku untuk tidak peduli
bila suatu saat kau akan pergi.

Apa-apaan ini?
Kini, duniaku tak sama lagi,
meski ragu masih menghantui
setiap kau di sini.

Mungkin caramu bisa kucoba
Cukup rasio dan logika
Simpan emosi dan rasa
agar tiada yang harus terluka.

Ah, aku enggan menyebutnya
Anggap saja kata itu tak ada
Bagimu, semua ilusi belaka
Mungkin ini hanya sementara
Mungkin aku akan baik-baik saja,
meski suatu saat kamu akan entah dimana...

R.
(Jakarta, 9 Oktober 2015 - 16:30)

Senin, 05 Oktober 2015

"SEMALAM SAJA"

Ada yang kosong dari matamu,
meski dengan senyum itu
sejak kita bertemu.

Kata mereka, aku harus waspada.
Kau tak seperti yang kukira.
Tak seharusnya kuacuhkan tanda bahaya.

Ah, ternyata...
Kita hidup dalam dua dunia, dua dimensi alam raya
Benak kita terlalu berbeda.

Kurasa cukup sampai di sini.
Tak perlu lebih dari sekali.
Toh, suatu saat kamu juga akan pergi.

Semoga Tuhan bersedia mengisi hatimu
yang segelap dan sepekat langit malam itu,
atau mungkin...dasar sial, aku yang terlalu lugu
diam-diam jatuh kasihan padamu
hingga nyaris saja lupa menjaga diriku...

R.
(Jakarta, 5 Oktober 2015 - 9:30)

Kamis, 01 Oktober 2015

"CELAKA, AKU MASIH MENCINTAIMU!"

Celaka, sepertinya aku masih mencintaimu! Darimana kutahu? Dari sejak kamu memberitahuku mengenai kedatanganmu ke pernikahan teman kita di sini...dan ajakanmu agar aku pergi denganmu. Waktu itu, tentu saja aku mau. Tak hanya itu, aku bahkan praktis menghabiskan sepanjang akhir pekan itu denganmu.
            Lalu, bagaimana denganmu? Apakah kamu tahu juga perasaanku?
            Ya, tahun lalu. Sebelum kamu pindah ke luar kota di lain pulau, aku sempat memberikan sesuatu. Tiga lembar, lima halaman surat itu kuselipkan di antara halaman buku yang pernah kupinjam darimu. Kutinggalkan buku itu di meja kerjamu malam itu, sebelum kabur seperti pengecut.
            Tentu saja kamu membacanya. Kukira kamu akan marah padaku. Syukurlah, kamu hanya menolakku baik-baik, dengan alasan kamu tidak sedang memikirkan hal itu. Meski sedih, aku mengerti. Kamu baru saja putus dengan pacar terakhirmu. Kamu butuh waktu.
            Lagipula, kita berdua sudah dewasa, sama-sama harus realistis. Entah bagaimana denganmu, tapi aku enggan dengan hubungan jarak jauh. Kamu sudah muak dengan sesaknya kota ini, sementara aku tidak yakin mau pindah hanya demi mengikutimu belaka.
            Kamu memang lelaki yang baik. Kamu tetap memperlakukanku seperti biasa. (Ada temanku yang tidak seberuntung aku, langsung dijauhi lelaki pujaannya begitu tahu temanku mencintainya. Benar-benar kekanak-kanakan!)
            Mungkin, karena itulah aku merasa benar-benar kehilangan saat akhirnya kamu berpamitan padaku...
-***-
            Celaka, sepertinya aku masih mencintaimu! Tahukah kamu? Haruskah aku memberitahumu?
            Kata mereka begitu. Percuma bila aku tetap membisu. Namun, lidahku seringkali kelu. Hatiku berat oleh ragu. Rasa takut membuat keberanianku membeku. Untunglah, dari tampak luar aku masih berusaha keras agar tidak jadi bersikap kaku di hadapanmu.
            Seperti sebelumnya, kata mereka aku tidak punya banyak waktu. Kali ini, tidak setiap hari kita bisa bertemu. (Astaga, kemana saja aku dulu, sewaktu kamu masih dekat denganku?)
            Entahlah. Yang kutahu, aku sangan senang saat kamu mengajak bertemu. Sabtu sore itu, kita berdua duduk dan minum kopi sambil mengobrol, seperti dulu. Padahal, setahun lebih sudah berlalu. Lihat, kamu bahkan masih mengantarku pulang setelahnya, layaknya seorang gentleman sejati. Kamu juga masih ingat tempat tinggalku.
            Aku sangat terkesan. Tak hanya itu, aku sangat bahagia.
            “Kujemput jam sembilan nanti malam, ya?” janjimu sambil mengecup pipiku. Kamu baru mau beranjak pergi saat aku sudah di balik gerbang dengan aman.
            Bagi orang Indonesia, mungkin yang kamu lakukan barusan seperti memberi ‘harapan’. Namun, aku tahu bahwa itu hal biasa bagi lelaki Barat. Meski demikian, aku percaya bahwa kamu masih memperlakukanku dengan hormat. Kamu bukan lelaki yang akan memaksa.
            Malam itu, kita nongkrong bareng teman-teman lama kita setelah makan malam. Kukira mereka sedikit bertanya-tanya mengenai kemunculan kita berdua. Bahkan, sahabatmu yang berambut merah juga terang-terangan bilang padaku bahwa seharusnya kamu menikahiku saja sekalian. Entah bagaimana pendapatmu soal itu. Kamu, yang telah terlalu sering terluka oleh masa lalu.
            Kamu, yang ternyata belum bisa melupakannya – bahkan setelah setahun berlalu.Memang, kalian berdua masih berteman baik. Itu hakmu.
            Mata birumu tak bisa bohong saat bercerita tentangnya malam itu. Kamu masih sangat mencintainya.
            Mungkin karena itulah, akhirnya aku batal jujur soal perasaan cintaku yang belum juga berlalu. Namun, aku tetap memasang senyum saat menemanimu ke pernikahan teman kita...dan Senin itu, hari terakhirmu di kota ini.
            “Berbahagialah.” Hanya itu yang kukatakan padamu saat kita akhirnya berpisah. Jawabmu: “Kamu juga.”
            Dasar sial, kenapa juga aku masih mencintaimu seperti ini?

            Mungkin suatu saat kamu akan membaca ini dan tahu. Mungkin mereka yang akan memberitahumu, begitu sadar siapa sosok bermata biru yang terlalu sering kusebut dalam banyak tulisanku...

Tulisan ini juga diikutsertakan dalam: http://www.kompasiana.com/rubyastari/kc-celaka-aku-masih-mencintaimu_560ddf7323afbd6305b501b5 )