Rabu, 30 Juli 2014

"ATAS NAMA KEMENANGAN?"

Apakah penting untuk selalu menang dalam setiap permainan – atau segala hal? Siapakah yang sebenarnya (paling?) pantas disebut pemenang?
                Sudah tiga kali benak saya dihampiri dua pertanyaan itu. Yang pertama saat saya hanya punya 20 menit untuk menyelesaikan esai sebanyak 80 kata dalam bahasa Inggris, dalam rangka melamar kerja. Yang kedua saat saya dan murid-murid remaja saya tengah membahas mengenai kisah seorang gadis berusia 15 tahun yang jenius, karena sudah duduk di bangku kuliah – meski tak bisa bermain piano sebaik yang dia inginkan.
                Yang ketiga cukup bodoh: emosi saya sempat ‘terpancing’ gara-gara update status konyol (setidaknya, menurut saya, nih!) yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk unfollow, remove, dan – sekalian! – memblokir akun orang tersebut. Mengapa? Saya jahat? Kenapa tidak? Itu hak saya, sama seperti hak Anda untuk setuju atau tidak dengan pendapat saya. (Kalau kita mau bicara hak asasi, ya!)
                Saat menulis esai, dengan jujur saya menjawab bahwa...ya, pada dasarnya – semua orang selalu ingin menang. Percaya deh, nggak ada yang mau bercita-cita untuk kalah atau jadi pecundang. Aneh saja.
                Karena itulah, banyak yang sampai menempuh segala cara untuk memenangkan sesuatu – atau paling tidak dianggap pemenang-lah. Mulai dari melanggar aturan hingga memanipulasi perasaan orang lain agar merasa bersalah dan membiarkan si perengek menang. Tak peduli curang atau sampai menumbalkan orang lain, pokoknya harus menang. Apalagi bila kemudian yang menang bisa berbuat suka-suka sama yang kalah. Siapa sih, yang tidak punya keinginan untuk (merasa) berkuasa, setidaknya sekali saja dalam hidupnya?
                Tak heran, bullying akan selalu menguntungkan pelaku bullying. (Ya, iyalah! Apalagi orang bisa kaya hanya dengan menjadi preman dan mengancam serta memeras orang lain.) Meski terdengar amat menyedihkan, banyak sosok gila hormat di antara kita yang sama sekali tidak peduli perasaan orang lain, selama yang mereka lakukan dapat membuat mereka merasa superior. (Kasihan? Memuakkan mah, iya.)
                Saat membahas gadis jenius berusia 15 tahun yang sudah duduk di bangku kuliah, saya bersyukur dengan respon cerdas, positif, dan dewasa murid-murid di kelas saya. Menurut mereka, ada alasan bagus kenapa gadis itu tidak diberkahi bakat bermain piano.
                Ada alasan mengapa kita tidak selalu bisa melakukan segalanya sendiri, bahkan meski diberkahi otak jenius. Pertama, manusia super hanya ada di cerita fiksi. Dengan cara-Nya sendiri, Tuhan tidak pernah berhenti mengingatkan kita. Kita hanya manusia biasa. Alangkah berbahayanya bila kita terlalu bisa segalanya. Selain dapat menumbuhkan sifat angkuh atau sombong (karena merasa tidak butuh siapa-siapa lagi, berhubung toh, semuanya sudah bisa dikerjakan sendiri), kita akan cenderung memandang rendah orang lain dan berbuat semena-mena. Tidak sadar sudah terkena sindrom ‘primadonna complex’!
                Jangankan yang bisa segalanya (kalau ada!), yang baru bisa seadanya saja juga bisa bersikap sombong sama orang lain.
                Kadang ada kalah, ada menang dalam hidup. Terlalu sering kalah dapat menyebabkan rasa putus-asa. Terlalu sering menang juga berbuah jumawa. Karena itulah Tuhan Maha Adil. Kita diberi kemenangan (atau kelebihan) agar lebih menghargai diri kita. Kita juga diberi kekalahan (atau kelemahan) agar lebih menghargai orang lain yang (sebenarnya) kita butuhkan. Mudah dan sederhana sekali, bukan?
                Suka tidak suka, media sosial sudah menjadi ‘sampah’ isi pemikiran pemakainya. Seperti biasa, saya tidak bisa berbuat atau berkata banyak. Semua orang bebas berekspresi. Sama seperti resikonya yang kemudian lazim mengikuti: orang lain bebas mengomentari, setuju atau tidak. Itulah yang akan selalu terjadi.
                Dari situlah kita dapat menilai kualitas kepribadian seseorang, lalu memutuskan apa yang akan kita lakukan kemudian. Mau terus berteman dengan mereka atau sudahan? Terserah. Kita berhak bahagia dan merasa aman. Untuk apa memaksakan diri terus berteman dengan mereka yang tak lagi bikin kita merasa nyaman – apalagi hanya atas nama kesopanan belaka? Bukan berarti kita lantas total memusuhi mereka – atau bahkan sampai menyumpah-nyumpahi agar mereka tertimpa kemalangan. (Please, jangan samakan hidup Anda dengan sinetron Korea!)
                Kita hanya menjaga diri kita agar tetap waras. Bahagia itu sederhana, bukan?
                Sayangnya, masih banyak sosok (yang ‘katanya’) dewasa yang menganggap kemenangan adalah segalanya. Saking senangnya, mereka merasa makin seru saat – dalam peraturan permainan itu – yang menang berhak memperbudak yang kalah sesuka hati. Terdengar seperti bullying? Pasti. Itulah yang saya komentari.
                Sayangnya juga, jawaban orang itu tak sedewasa dan secerdas yang saya harapkan. (Bodoh juga saya, yang kadang memang suka berharap terlalu banyak sama orang!) Katanya: “Itu ‘kan hak pemenang. Tak perlu lebay.”
                Yah, barangkali menurut dia hanya pemenanglah yang berhak bersikap lebay dengan kemenangan mereka, yaitu dengan mem-bully yang kalah agar yang kalah makin merasa bagai pecundang. Karena saya bukan tipe orang yang tahan berteman dengan orang bermental bully, maka dengan senang hati saya blokir mereka dari kehidupan saya.
                Sepertinya saya sudah menjawab pertanyaan pertama. Untuk yang kedua, sepertinya (akan selalu) sama seperti yang dulu pernah saya tulis di esai:
                Semua orang bisa jadi pemenang. Hanya mereka yang bersikap sportif-lah yang patut disebut juara, meski tak selalu mendapatkan medali atau mencapai garis finish. Terdengar klise? Apakah saya tengah mencoba menghibur diri? Terserah anggapan Anda. Yang pasti, inilah yang saya pilih untuk percaya, demi kewarasan dan ketenangan batin semata. Lagipula, dunia ini sudah kelewat sesak oleh mereka yang gila kuasa, sampai rela menempuh berbagai cara yang – asli! – suka nggak kira-kira...

                R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar