Selasa, 25 Agustus 2015

"CINTA MANUSIA"

Kau tak tahu
badai yang senantiasa berkecamuk di balik senyumku
Biarlah sunyi ini menenangkanmu
agar tiada ragu maupun pilu

Jangan siksa aku dengan air matamu
meski hati ini tak selalu setuju
'Kan kusembunyikan cemas dan takutku
hanya agar kau tak lagi tergugu

Semoga Tuhan mengampuni kelemahan dan kesalahan kita
manusia biasa yang tak henti jua menuai murka

Terlalu banyak dosa yang harus ditanggung,
sebanyak pertanyaan yang sulit terjawab
semua atas nama cinta
yang kata mereka seharusnya tak pernah ada...

R.
(Jakarta, 23 Agustus 2015 - 12:00 )

"SENYUM BULAN SABIT-MU"

Entah sejak kapan aku berubah menjadi pelukis bulan. Mungkin sejak aku bertemu denganmu. Mungkin juga sejak tanpa sengaja aku membaca status Twitter seseorang tentang bulan sabit...atau mendengar lagu “Firasat”-nya Marcell (yang kemudian dinyanyikan lagi oleh Raisa) :
            “Bulan sabit melengkungkan senyummu...”
            Lalu aku mulai bertanya-tanya pada diri sendiri: apakah memang senyummu seperti itu? Ibarat bulan sabit di tengah gelapnya langit. Setiap malam aku memandang ke atas, mencari-cari bulan. Kadang dia tampak, kadang tertutup awan. Tergantung cuaca hingga polusi ibukota.
            Setelah itu, aku akan menyimpan ingatan tentang bulan itu dalam benakku. Namun, entah kenapa, setiap kali aku berusaha melukiskannya, hasilnya tidak pernah benar-benar mirip aslinya. Bulan sabit, bulan separuh, hingga bulan purnama...semuanya. Hasilnya sama saja; tidak ada yang beres.
            Kusadari bahwa aku selalu memikirkanmu setiap mencoba melukis bulan. Mengapa? Mungkin karena banyak hal yang sepertinya berkaitan dengan bulan. Seperti kita yang dulu sering bertemu di malam hari. Kamu yang sesekali suka memandangi bulan saat kita berbicara. Senyummu yang memang mengingatkanku pada bulan sabit, terutama karena deretan gigi putihmu yang rapi dan kulit legammu. Pipimu yang tidak halus-halus amat karena jerawatan. Yah, lagi-lagi mirip permukaan bulan. Lucunya, aku tidak peduli. Kamu lucu dan selalu dapat menghiburku. Seperti saat bulan purnama yang anehnya selalu mengingatkanmu pada salah satu episode “Sesame Street” yang pernah kau tonton waktu kecil dulu. Cookie Monster menganggap bulan purnama mirip dengan kue kesukaannya, sehingga terobsesi untuk memakannya. Maka, naiklah dia ke atas roket dan melaksanakan niatnya.
            Lalu, apa yang terjadi? Setelah memakan habis bulan purnama, dunia di sekeliling Cookie Monster mendadak gelap-gulita! Rupanya bulan memang tidak boleh (dan tak mungkin pula) dimakan, karena merupakan sumber cahaya di malam hari.
            Untunglah, Cookie Monster hanya bermimpi.
            “Kamu aneh,” tawa dan komentarku waktu itu. Kamu sendiri hanya nyengir dan menjawil daguku dengan gemas.
            “Tapi kamu suka, ‘kan?”
            Ah, ya. Tentu saja.
            Kau hanya menghilang setiap suamiku pulang dari penerbangannya. Tentu lebih baik memang begitu. Sayangnya, tak semudah itu aku melupakanmu. Aku rindu, meski sebaiknya dia memang tak pernah tahu. Ini tak mudah bagiku.
            Karena itulah aku mulai sering melukis bulan. Aku tak mungkin melukis wajahmu di depan dia, suamiku yang sebenarnya tampan – namun lama-kelamaan tampak bosan...dan membosankan...


           
            R.

            (Jakarta, 24 Agustus 2015)

Selasa, 18 Agustus 2015

"KISAH BARUKU (YANG TAK PERLU KAU TAHU)"


Jadi, kau ingin tahu tentangku? Apa saja yang ingin kau tahu?
            Mengapa kau begitu ingin tahu? Apa untungnya bagimu? Apakah kau sedang berusaha mencari-cari ‘cacat’-ku?
            Maaf, aku bukan siapa-siapa. Aku bukan selebriti ternama, apalagi sang primadona. Aku bahkan tidak tahu caranya menjadi diva. Aku mungkin punya cukup banyak akun social media dan kuyakin aku bukan satu-satunya. Tak ada yang istimewa.
            Lalu, apa yang masih ingin kau tahu tentangku? Kenapa? Untuk apa, sih?
            Kalau kau ingin mencari tahu lewat update akun social media-ku, silakan. Selamat berburu. Kurasa kau akan kecewa, karena tidak banyak lagi yang bisa kau temukan. Tak banyak yang ingin kuceritakan. Untuk apa? Tidak semua perlu kau tahu. Tidak semua harus kubuka pada seluruh dunia. Jika memang demikian adanya, apa lagi yang akan tersisa dariku? Aku bukan milik mereka. Tak seharusnya aku jadi ‘konsumsi’ semua orang, terutama mata-mata yang ‘lapar’ dan ‘haus’ akan drama dan sensasi belaka. Mata-mata yang akan mencari-cari aibku untuk kemudian disebar kemana-mana – semata-mata hanya agar aku terpuruk begitu rendah dan hina, sementara mereka akan tertawa. Ya, tawa puas nan beringas akan nasibku yang (menurut mereka) naas.
            Apakah kau salah satunya? Aku tahu, tuduhan ini takkan pernah sudi kau terima. Andai saja, kali ini aku masih bisa percaya.
            Mengapa? Semua sudah berubah; tidak lagi sama. Kita tidak mungkin lagi bisa seperti sedia kala.
            Dulu kita memang pernah dekat. Saling berbagi cerita, suka dan duka. Masalah keluarga, teman, pekerjaan, hingga cinta. Semuanya. Katamu kita sahabat dan akan selalu demikian selamanya. Kau juga berjanji sama pada mereka.
            Kini, semua tak lagi sama. Tidak bisa. Hanya itu yang kurasa dan aku bukan satu-satunya. Mereka juga. Terus-terang, saat ini kami tak begitu peduli bila kau marah dan terluka. Karenamu, sudah banyak drama yang tidak perlu namun tercipta. Karena itu, kami pun lama-lama lelah dan gerah. Kau paling tidak sudi mengalah.
            Maafkan aku. Maafkan kami yang lama-lama tidak sabar dan (terlalu) lelah menghadapimu. Cukuplah kau tahu aku yang dulu, hanya agar kau selalu (merasa) benar. Aku yang waktu itu sering merasa kesepian di tengah keramaian, sulit dimengerti orang. Aku yang kau anggap cengeng dan lemah tak berdaya, tidak bisa dan tidak mengerti apa-apa.
            Aku yang bagimu seperti tidak tahu terima kasih dan balas budi. Baiklah. Terserah kamu. Sudah lebih dari cukup kulihat banyak posting-mu di social media yang bernada ‘menjatuhkan’ semua yang pernah membuatmu kecewa, baik sengaja atau tidak. (Termasuk aku, tentunya.) Percuma juga bila dulu kita sudah saling memaafkan, bila pada akhirnya kau selalu mengungkit-ungkit cerita lama. Kukira kau sudah rela.
            Mungkin bagimu penting untuk mendapat perhatian seluruh dunia. Maka itu, jangan marah bila aku – dan yang lain – pada akhirnya enggan berbagi cerita. Cukup tahu sekedarnya. Semua berhak punya rahasia.
            Masih ingin tahu tentangku? Sama seperti manusia pada umumnya, aku pun tak sempurna. Namun, aku tak perlu mengaku dosa padamu. Cukup Tuhan yang tahu. Kamu cukup tahu bahwa aku baik-baik saja...dan masih mendoakanmu agar menemukan cara untuk bahagia, tanpa mencari-cari pihak lain untuk dicela.

            Tertanda,

            -Mantan Sahabatmu-

"MERAH"

Merah ini bukan sekedar darah,
namun hati yang diliputi amarah.
Inilah dirimu yang ingin merdeka.

Merahmu membara,
mempesona sekaligus membutakan mereka.
Ada rasa terancam dari jiwa-jiwa yang tak terima.

Ah, apa salah si merah?
Hanya rasa percaya diri yang istimewa.
Mengapa pula mereka harus usil dan tak suka?

Merah juga warna cinta,
hati yang penuh hasrat terbuka.
Seharusnya ada yang bahagia,
bukannya berduka dan terluka.

Haruskah kau mengganti merah dengan putih,
yang kata mereka lebih suci
meski diam-diam merintih?

Merah tak selalu noda
atau pun hasrat tercela.
Untuk apa mereka menghina,
bila mereka juga memilikinya?

Merahmu adalah kejujuran sejati,
meski kalah dengan putih sang lambang suci.
Namun, putih tak pernah abadi.

Setialah dengan merahmu.
Kau bukan penggoda, hanya tangguh dalam hidup berliku.
Luka pasti ada, setajam sembilu.

R.
(Jakarta, 15 Agustus 2015 – 23:00 – 00:00. Dari #puisimalam nulisbuku.com bertopik: "MERAH".) 

Senin, 17 Agustus 2015

#CSW-CLUB DIARIES 4: "DALAM KERUMUNAN"

Pernah mendengar istilah "Sendirian dalam kerumunan" (alone in the crowd)? Ingat, sendirian bukan berarti kesepian (lonely).
Mungkin, bagi yang belum terbiasa, sendirian di tempat ramai (alias pergi tanpa kenalan, keluarga, teman, atau pasangan) akan terasa 'kagok' pada awalnya. (Sayangnya, hal ini banyak dialami kaum Hawa, makanya di sini saya merasa sedih...dan bukan kadang-kadang lagi!) Belum lagi fakta bahwa tidak semua bisa secuek itu. Ada yang langsung merasa risih saat dilihat segerombolan manusia lain hingga bete saat dicap 'aneh'. (Lagian ngapain juga ngurusin orang lain - terutama yang nggak saling kenal?)
Yah, selama nggak mengusik atau menyakiti orang lain di ruang publik, maka sah-sah saja bila (lagi) ingin sendirian. Semua tergantung keperluan. Ada juga yang mengatasnamakan kemandirian. ("Kalau mau kemana-mana harus dikawal terus atau nunggu ada yang bisa nemenin, kapan perginya?")
Begitulah. Bila sampai ada yang menyangka Anda tidak punya teman cuma gara-gara (lebih) sering terlihat sendirian di kerumunan, biarkan saja. Justru Anda patut berbangga dengan kemandirian Anda. Biarkan mereka yang sepertinya harus selalu bersama orang lain hanya untuk menunjukkan eksistensi diri.
Sendirian di keramaian juga dapat memperkaya pengalaman hidup Anda. Tidak percaya? Mungkin sebelumnya Anda terbiasa 'ikut arus' alias lebih sering mengikuti apa kata teman. Kali ini, Anda harus berani memutuskan sendiri semuanya. Dengan kata lain, nasib Anda hanya bergantung di tangan Anda (dan Tuhan, tentunya.)
Bagi penulis, tidak masalah. Biasanya mereka akan menganggap suasana dan orang-orang di sekeliling mereka sebagai gudang ide atau inspirasi tulisan. (Makanya mereka tidak pernah benar-benar merasa kesepian. Toh, banyak juga kerjaan.)
Anda juga bisa mendapatkan kenalan baru tanpa sengaja, misalnya saat nonton konser dan sambil menunggu musisi favorit tampil di panggung. Bisa saja tiba-tiba ada yang mengajak Anda mengobrol atau Anda tertarik menegur sosok yang berdiri di dekat Anda. (Cowok / cewek keren yang kebetulan juga datang sendirian, mungkin?)
Mungkin juga Anda tengah mencari sosok yang Anda rindukan di keramaian. Adakah mereka di sana?
R.
(Jakarta, 15/8/2015 – 22:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 13 Agustus 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee – Setiabudi One, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tema: “Dalam Kerumunan”.) 

Minggu, 16 Agustus 2015

"UNTUKMU, WAHAI MATA BIRU..."

Apa kabarmu,
wahai sosok bermata biru?
Sudah lama kita tidak bertemu
berbicara tentang ini dan itu.
Jujur, aku rindu.

Bagaimana kabarku?
Semoga baik selalu.
Sepertinya kita memang harus kembali bertemu
agar dapat menyambung yang lalu
atau mungkin menciptakan kisah baru.

Semoga takdir setuju
dan kita segera kembali bertemu...

R.
(Jakarta, 15 Agustus 2015 - 18:50)

Rabu, 12 Agustus 2015

"TENTANG PENONTON DI BALIK LAYAR"


“What’s the story, morning glory?” nyanyi Liam Gallagher bersama band-nya, Oasis. Mendengarnya, kamu selalu teringat dengan pertanyaan salah satu sahabat terdekatmu – saat kalian pertama kali bertemu dulu.
            “How are you?”(Apa kabarmu?) Lalu kamu akan berkedip, terdiam sesaat. Entah kenapa, butuh waktu agak lama bagimu untuk menjawab. Kadang bukan karena kamu sedang bersedih, lalu ingin berpura-pura bahwa kamu baik-baik saja.
            Mungkin akan berbeda bila pertanyaan barusan diganti dengan: “Ceritakan tentang dirimu.” Apa? Tidak juga? Yah, baiklah. Mungkin hanya berhasil saat wawancara kerja. (Mau tidak mau harus cerita, dong. Saat itu, kamu bisa cerita tentang yang perlu kamu ceritakan – seperti kenapa kamu melamar / menginginkan pekerjaan itu, apa kelebihanmu, hingga seberapa besar kamu menginginkan pekerjaan itu, dan seterusnya.)
            Bagaimana dengan situasi informal, misalnya saat kumpul dengan teman-teman baru atau...kencan pertama? Oke, untuk sementara – lupakan dulu ‘prospek masa depan’ bernama ‘calon pasangan hidup’. Diammu dan sifat (sok?) misteriusmu kerap menyulitkanmu mencapai kemungkinan itu. Mungkin banyak yang akan menyalahkanmu seperti biasa, tapi...soal jodoh siapa sih, yang benar-benar tahu? Ada juga kok, yang (kelewat) bawel sampai akhirnya ditinggal pergi.
            Ah, sudahlah. Tak perlu saling menuding. Cukup berkaca pada cermin masing-masing. Tak usah menilai diri terlalu rendah / tinggi. Masa mau mengambil-alih pekerjaan Sang Ilahi? Memangnya bisa?
            Apa yang bisa kau ceritakan tentang dirimu pada mereka? Kau, yang selalu merasa sudah terbiasa menjadi sekedar penonton, berdiri di balik layar pula. Kau yang lebih banyak diam dan memperhatikan, lalu merekam semuanya dalam ingatan. Sering kau mengubahnya menjadi sekumpulan aksara bermakna di atas lembar-lembar kertas atau layar laptopmu. Kau merasa bahwa hanya dengan itu, kau dapat ‘berbicara’ dengan lebih jelas, keras, dan lancar – meski belum tentu mereka akan membaca dan (setidaknya berusaha) memahaminya. Setidaknya, dengan itu kamu bisa mengurangi resiko disela dan dicela dengan segera.
            Kau, yang sangat menyayangi ibumu, terutama setelah ayahmu berpulang. Mungkin karena itulah kau lebih memilih diam daripada membuat beliau resah saat ada masalah. Kadang beliau tahu, tapi tak pernah bertanya. Yang lebih sering beliau tanyakan adalah kabarmu, apakah kau akan pulang akhir pekan ini...hal-hal semacam itu.
            Pekerjaanmu? Baik-baik saja. Kau sedikit bertualang, meski setidaknya berhasil mencapai impianmu menjadi penulis yang dibayar. Kau menikmatinya. Bahkan, kadang kau terlalu menyibukkan diri untuk menghindari perasaan kesepian dan kekhawatiran akan perasaan tidak berguna.
            Kau sudah berada di satu saat dimana persahabatan bukan lagi perkara kuantitas. Ya, kau memang berteman dengan semua, namun hanya benar-benar bercerita pada beberapa yang benar-benar kau percaya. (Daftar khusus ini telah melalui seleksi ketat dan bisa berubah kapan saja, tergantung mereka.) Itu pun jarang dan kadang harus dipaksa. Soal cinta? Banyak yang tidak menyadari bahwa kau selalu menempatkan mereka sebagai tokoh utama, meski sayangnya mereka hanya menganggapmu teman biasa – atau malah bukan siapa-siapa.
            Ah, memang belum saja. Sabarlah...
            “Hei, kamu!” tegur sahabat terdekatmu pada satu waktu. “Kamu sadar nggak sih, kalau sebenarnya kamu itu tidak selalu hanya jadi penonton? Banyak juga kok, yang perhatian sama kamu!”

            Benarkah? Jika demikian, mungkin memang sesekali saatmu untuk bercerita. Begitulah, bila kamu adalah aku...