Jumat, 22 November 2013

"SAAT KITA MENGHARAP SEKUEL SETELAH EPILOG"

Pernah mengalami saat-saat seperti ini? Kita membaca satu novel dan merasa sedih saat tiba di epilog. Bukan, bukan karena ceritanya sedih atau bahkan berakhir sedih. Kita tidak menyadari setelah larut dalam alur, tahu-tahu kita bertemu halaman terakhir. Rasanya mungkin sama tidak relanya dengan nonton film bagus dan akhirnya harus berjumpa juga dengan yang namanya credit title di layar. Maunya teriak (meski mungkin dalam hati) :
            “Nggak puaas! Mau lagi, aah!”
            Setelah itu, mungkin kita akan menonton lagi film yang sama (entah memutar ulang DVD-nya di rumah atau...rela boros uang hanya untuk membeli tiket lagi di bioskop.) Anda akan membaca ulang buku itu, kalau perlu sampai sampulnya lecek dan orang bosan setengah-mati melihat yang kita lakukan. Ibaratnya, kita jadi tampak seperti orang yang sulit ‘move on’, hehe...
            Mungkin kita juga akan bereaksi begini:
            “Hmm, kira-kira ada sekuelnya nggak, ya?”
            Sudah lazim bagi pekerja kreatif (seperti penulis dan sineas) untuk membuat lanjutan dari karya mereka sebelumnya – entah sekedar taktik jualan atau memenuhi permintaan penggemar, atau bahkan keduanya. Mungkin karena ide ceritanya menarik dan menginspirasi. Mungkin juga ada tokoh yang membuat kita jatuh cinta, hingga kita ingin sekali melihat kelanjutan nasib si tokoh. Apakah sosok idaman (meski fiktif) itu akan tetap jadi idaman? Akankah kita (dibuat) makin senang – atau malah kecewa dengan perubahan yang ada, baik sengaja maupun tidak?
            Begitu pula dengan dunia nyata.
            Pernah ketemu sosok yang memberi pengaruh besar bagi hidup kita, sampai-sampai kita tidak rela melepasnya pergi? Atau, pernahkah ada yang merasakan demikian tentang kita, hingga mereka sedih saat kita harus pergi – atau sedang tidak bisa sering atau terus-terusan bersama mereka?
            Apakah kita tahu orangnya? Apakah kita termasuk kategori yang disebutkan di atas? Bagaimana cara mengetahuinya?
            Bayangkan situasi ini: kita pernah ke suatu tempat dan tinggal cukup lama. Tak hanya menambah jumlah teman selama di sana, mungkin banyak juga yang lama-lama menganggap kita keluarga – seperti kita menganggap mereka saudara.
            Lalu, suatu saat – tiba-tiba kita harus pergi dan berpisah dengan mereka. Sedih? Tentu saja. Tapi itulah bagian dari hidup, sama seperti adegan terakhir dalam film dan epilog dalam novel. Tiada pertemuan tanpa perpisahan.
            Setelah itu, bayangkan bila tiba-tiba takdir (dan usaha pribadi yang nyata, tentunya) membawa kita kembali ke tempat yang sama. (Semoga ini kabar bagus, ya.) Coba hitung, ada berapa orang yang berebutan ingin ketemu kita – begitu tahu kita kembali di antara mereka, sesibuk apa pun mereka (lagi)?
            Saya tidak sedang mengajak Anda untuk ikut ‘kontes kepopuleran’. Setiap insan diciptakan berbeda. Tak perlu lantas kita berubah menjadi sosok yang selalu ingin menyenangkan semua orang, terutama hanya agar selalu dirindukan. Tetap jadilah diri sendiri – dan orang-orang yang ‘tepat’ akan mencari kita, di waktu yang tepat pula.
            Sama seperti buku dan film, yang pastinya punya pangsa pasar masing-masing. Yang pasti, alangkah menyenangkannya bila kita menjadi sosok yang selalu dinantikan – seperti pembaca novel dan penonton film yang berharap akan sekuel setelah epilog karya terakhir yang mereka nikmati...

            R.


            (Jakarta, 22 November 2013)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar