Minggu, 15 Juni 2014

"SEKSIS? SAYA...ATAU ANDA?"

"The day you judge someone you don't even know is the day you close the door of a chance to get to know them better."
(Saat Anda menghakimi seseorang adalah saat Anda menutup kesempatan untuk benar-benar mengenal mereka.)
Jujur, manusia kerap penuh prasangka, bahkan untuk sesuatu yang belum mereka pahami. Seorang sahabat bahkan pernah berujar begini:
"We all tend to be judgmental, but only the polite ones make a difference." (Kita cenderung gemar menghakimi, namun orang yang tahu sopan-santun tahu kapan harus bicara dan kapan harus tutup mulut mungkin begitu kira-kira maksud sahabat saya.)
Begini ceritanya:
Atas undangan seorang teman, saya bergabung dengan satu perkumpulan pencinta tulis-menulis. Sudah dua kali saya datang dan menikmati acaranya. Saya mengagumi kreatifitas tiap peserta dalam menuangkan tema serupa menjadi ide dan tulisan berbeda.
Yang sempat mengusik saya secara pribadi saat itu hanya komentar satu orang. (Tak perlu sebut nama, ya? Nanti yang merasa jadi 'sensi' dan saya bisa dikenai somasi.)
Saat tengah membaca cerpen dadakan saya, ada satu dialog berbunyi begini: "Sayang, banyak yang tidak segera menyadari aslinya si gadis pemalas - terutama para lelaki." Lalu, belum selesai saya membaca cerpen saya, orang ini main berkomentar tanpa permisi: "Seksis." Saya diamkan saja dan terus membaca. Mengapa? Pertama, saya memutuskan untuk tidak menanggapinya terlalu serius. Siapa tahu dia hanya bercanda atau asal ceplos. (Biasa kan, orang yang suka ngomong tanpa mikir dulu? Eh, kok saya tiba-tiba jadi ikut menghakimi, sih? Hehe.)
Kedua, kalimat barusan dalam cerpen saya merupakan reaksi kekesalan salah satu tokoh cerpen saya yang - menurut saya, sih - manusiawi. Hayo, memangnya kita tidak sering mendengar tokoh lelaki dalam novel atau film yang kerap menggerutu "Dasar perempuan!" karena kesal? Kok nggak ada yang protes, ya? Apa iya, saking seringnya jadi (dianggap) biasa, alias wajar? Beda gitu, kalau yang terjadi sebaliknya? Standar ganda-kah ini?
Ketiga, sepertinya orang itu salah forum. (Kasihan.) Kalau mau berargumen soal gender, seksisme, atau politik dan sebangsanya - carilah di forum yang sesuai. Jangan di forum tulis-menulis yang tujuannya hanya untuk bersenang-senang, sekaligus mengulik kreatifitas tiap peserta. Mengganggu suasana saja. Lagipula santai sajalah, Bung. Tidak semua isi tulisan lantas menggambarkan kepribadian asli penulisnya. Berpikir terbukalah sedikit.
Celakanya, pertemuan kedua terjadi lagi. Kali ini gara-gara saya mengomentari berita tentang mahasiswi teladan lulusan terbaik yang diantar ayahnya ke acara wisuda dengan becak. (Sang ayah memang berprofesi sebagai supir becak.) Menurut saya, hal itu dapat menginspirasi keluarga kelas menengah ke bawah lainnya agar tidak mudah menyerah dan memberikan kesempatan pada tiap anak untuk mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, baik lelaki maupun perempuan. Toh, apa pun yang terjadi, anak-anak berhak atas masa depan yang lebih baik daripada orang tua mereka. Harusnya begitu, bukan? Nabi Muhammad SAW saja bersabda bahwa pendidikan itu wajib bagi lelaki maupun perempuan.
"Ih, kok seksis gitu, sih?" Haah?! Masih ngomong gitu juga?? Halooo?! Seksisnya saya dimana, coba? Ajaib juga orang ini. (Kata beberapa teman yang pernah saya ceritakan soal insiden berulang yang tidak enak ini, justru orang itu yang malah seksis dan berpikiran dangkal. Belum apa-apa saya sudah dituduh seksis - sampai dua kali lagi! Nah, lho - sekarang saya malah bikin teman-teman saya sendiri ikut-ikutan menghakimi, padahal bertemu orang itu saja belum pernah. *tepok jidat dulu, dah!*)
Lalu, mulailah argumen yang rada 'keluar jalur forum'. Okelah, secara teori agama, lelaki wajib mencari nafkah dan menjadi kepala rumah tangga - karena itulah wajib sekolah setinggi-tingginya. Saya tantang lagi dengan pertanyaan ini:
"Terus kalau anaknya perempuan semua gimana?"
Eh, rupanya dia punya solusi 'pragmatis': "Ya, biasanya yang sulung yang dikorbankan."
Haah, dikorbankan? Bahasanya itu, lhooo!
Meski kali ini kesal, lagi-lagi saya memutuskan untuk tidak menanggapinya. Ya, lagi-lagi atas nama menghormati forum - alias sopan-santun dan tidak membuat suasana tidak enak bagi yang lainnya. Lagipula, saya terpaksa menerima pedihnya realita di negara ini: masih banyak yang berpikir segitu pragmatis, alias dangkal. Ego membuat mereka enggan melihat masalah dari sudut pandang lain. Sepertinya, orang ini belum pernah tersentuh tragedi. Bagaimana bila anak perempuan yang dipaksa putus sekolah untuk dinikahkan dengan alasan keterbatasan biaya keluarga, akhirnya malah ditelantarkan? Atau jadi korban KDRT (Kekerasan dalam Rumah-Tangga) tanpa mampu menuntut hak dan keadilan atas mereka, karena (kepalang dibuat) tidak mandiri dan selalu tergantung pada lelaki? Banyak lho, kejadian macam itu.
Atau, bagaimana dengan contoh kasus kedua, dimana si sulung 'dikorbankan' - seperti kata orang ini? Bagaimana bila pada akhirnya, timbul rasa iri dan benci si kakak pada adik-adiknya, akibat dipaksa 'mengalah' dengan cara demikian? Apalagi bila kemudian kondisi ekonomi keluarga membaik, hingga akhirnya para adik bisa sekolah sampai tinggi dan punya karir bagus. Sementara itu, si kakak belum tentu dapat izin suami untuk sekolah lagi - atau malah sudah kehilangan minat maupun ambisi.
Atau, tragedi bernama kematian yang akan selalu menghantui. Siapa yang bisa menjamin si suami - meski sebaik calon ahli surga pun - dapat hidup selamanya menafkahi istri? Apa yang terjadi bila - sepeninggal suami - istri tidak punya level pendidikan yang cukup tinggi untuk mendapatkan pekerjaan bagus? Mau hidup dari apa? Harta warisan keluarga? Asuransi? Mau sampai kapan? Lama-lama 'kan habis juga!
Ah, sudahlah. Mungkin mereka benar, saya hanya  buang-buang waktu dan tenaga. Percuma meladeni orang yang asal nyeletuk tanpa berpikir panjang. Nggak level gitu! Tidak ada gunanya mendebat mereka yang sudah kepalang membentuk opini (miring) di kepala mereka tentang Anda, bahkan sebelum mereka benar-benar mengenal Anda.
Kalau mereka merasa tidak perlu mengenal Anda? Ya, sudah. Toh, bukan Anda yang ajan merugi. Bukannya ngambekan ya, tapi Anda 'kan sudah berusaha berbaik-baik sama mereka!
Tuh, 'kan? Lagi-lagi saya kembali menghakimi. Ah, sudahlah - terserah yang punya otak di sana. Moga-moga hati nuraninya juga ada...
R.
(Jakarta, 15 Juni 2014)

1 komentar:

  1. saking keponya, gw sampe googling apa itu seksis :)
    pro kontra pasti ada yang peting bagaimana kikamenyikapinya aja

    BalasHapus