Rabu, 18 Maret 2015

"PATAH HATI? SO WHAT?"

Aku heran dengan tuduhan kalian bahwa aku munafik.

Apa pasal? Gara-gara kasus patah hati terakhirku. Tidak seperti biasanya, kali ini aku memberanikan diri ‘menembak’ cowok itu duluan. Rada klasik sih, mengingat sekarang zamannya internet. Orang lebih banyak cuap-cuap lewat media sosial, curhat lewat inbox sampai yang baca kadang terserang virus malas (maklum, pastinya suka panjang-panjang – meski tidak sampai mengalahkan panjangnya naskah epik La Galigo.) Kalau tidak, palingan lewat email atau minimal SMS, BBM, Whatsapp, dan entah apa lagi yang sedang trend sekarang atau lewat telepon saja sekalian. Yang paling berani masih dengan cara ngomong di depan orangnya langsung – itu pun kalau habis itu tidak sampai pingsan masih bagus!

Aku mengiriminya surat. Jadul banget, kan? Lebih tepatnya, aku meninggalkan surat untuknya di meja kerjanya malam itu, lalu main kabur begitu saja karena ketakutan. Kata para sahabatku, aku sudah termasuk cukup berani melakukan itu.

Hasilnya? Aku ditolak. Tapi bukan karena aku atau caraku yang mungkin bagi sebagian orang cukup...hmm, apa ya? Kayak ABG retro? Biar saja. Alasannya masuk akal, dia mau pindah kerja ke luar kota dan lagi ribet mikir urusan perpindahan. Timing-nya memang lagi jelek saja.

Setidaknya kami masih tetap berteman. (Usaha menghibur diri? Hmm, bisa jadi.)

Sebelumnya, aku juga pernah menghadiri pernikahan sosok yang kucintai tapi tak pernah tahu perasaanku. Ya, iyalah. Mau dikemanakan harga diri ini kalau seluruh dunia tahu aku mencintai lelaki yang waktu itu empat bulan lagi akan menikahi tunangannya? Begini-begini aku masih punya malu!

Sama yang itu, kami juga masih tetap berteman. (Ngapain juga musuhan?) Bukan salahnya kalau aku jatuh cinta pada orang – dan waktu – yang tidak tepat. Aku selalu menganggapnya cobaan.

Jadi, aku sama sekali tidak mengerti mengapa kalian menganggap kisah cintaku (yang nyaris tidak eksis ini, alias mendekati titik nadir) begitu tragis dan memilukan. Aku bukan orang Yunani dan ini bukan kisah epik yang itu (yang kerap ngetop disebut dengan “Greek Tragedy”.) Sedih pasti ada, tapi ngapain pula berlarut-larut? Memangnya dengan merengek dan meratapi nasib, mereka akan otomatis langsung mau denganku, begitu?

Ini dunia nyata dan semua orang semakin lama semakin sibuk akhir-akhir ini. Tak ada waktu untuk menuruti galau. Aku sudah terlalu dewasa untuk itu. Cukup bocah ingusan yang berlagak demikian, meski mereka belum tentu mengerti benar artinya cinta. Jangankan mereka, orang-orang (yang mengaku) dewasa saja juga hobi memakai kata cinta untuk mainan, padahal mengerti maknanya saja tidak. Bah!

Sekarang ini aku sedang apa? Mencari lagi? Ah, tidak. Setelah gagal berkali-kali, aku mau santai dulu. Nikmati waktu sendiri. Siapa tahu, dengan berusaha bahagia meski sendiri, akan ada yang tertarik denganku – karena aku tidak terlalu tergantung dengan kehadiran sosok lain untuk membuatku bahagia. Bukankah seharusnya begitu?

Berapa umurku? Ah, sudahlah. Mau tahu...apa mau tahu banget?

Satu-satunya obat patah hati yang paling mujarab adalah mengingatkan diri sendiri bahwa orang pertama yang harusnya kita bahagiakan terlebih dahulu adalah...ya, diri kita sendiri. Betul, kan?


Maaf, saya bukan munafik. Saya hanya realistis dan mencoba bersyukur dengan apa yang saya punya sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar