Senin, 16 Maret 2015

"SULITNYA MENGHILANGKAN BURUK SANGKA"

Mengapa kebiasaan yang satu ini paling sulit dihilangkan? (Hayo, ngaku aja deh – tapi tenang, nggak perlu sama saya, kok!) Bahkan orang yang paling baik pun – sadar nggak sadar – pernah melakukan hal ini.
            Mungkin ini alasan basi, tapi banyak yang kerap sulit membedakan antara waspada dengan curiga. Apalagi hidup di ibukota. Belum lagi bagi yang hobi ber-social media, yang kadang mudah ‘termakan’ dengan berita-berita yang belum tentu benar adanya. Atau jangan-jangan Anda hobi menyebarkan yang demikian?)
            Waspada memang perlu. (Bukankah kita memang wajib menjaga diri?) Namun, apa jadinya kalau waspada bablas menjadi curiga berlebihan – alias berburuk-sangka? Hidup jadi tidak tenang. Rasanya seluruh dunia ingin menyerang, baik secara diam-diam maupun terang-terangan. (Tunggu sebentar, memangnya Anda pikir Anda siapa – pusat semesta? Memangnya pusat semesta dimana? #salahfokus )
            Kelanjutannya bisa ditebak: kita jadi rentan stres. Terus bisa sakit...dan nggak bahagia. Kalau sudah begini, siapa yang rugi?
            Mungkin kita harus mencoba kembali berpikir positif. Kalau masih tertipu juga? Ya, sudah. Daripada (bisanya) hanya merengek, meratapi nasib, atau menyumpah-nyumpahi pihak yang telah merugikan kita (terus-terusan pula!) – mending segera bangkit dan lakukan sesuatu yang lebih berarti. Bisa menuntut mereka secara hukum (kalau kasusnya memungkinkan.) Bisa juga lebih berhati-hati lain kali.
            Memilih memaafkan pelaku? Selamat, berarti Anda manusia berhati besar. Kalau tidak? Ya, sudah. Terserah Anda, selama Anda nggak jadi jatuh sakit karenanya. (Nggak kayak di sinetron-sinetron alay, belum pernah saya melihat orang yang benar-benar bahagia karena mendendam!)
            Kalau memutuskan untuk berhenti mempercayai pelaku? Cukup bicara seperlunya sama mereka, alias batasi curhat. Toh, Anda juga berhak punya privasi. Kesal dan sakit hati itu wajar, tapi nggak perlulah sampai menyumpah-nyumpahi orang itu agar segera kena sial. Nggak perlu juga keseringan ngomongin orang itu kepada semua kenalan Anda, sampai kesannya Anda begitu ‘terobsesi’. Percayalah, itu nggak akan bikin perasaan Anda lebih baik. Yang ada Anda malah akan sulit berbahagia, karena masih saja sakit hati sama masa lalu. Gimana enggak? Diungkit-ungkit melulu, sih! Nggak bosan, ya?

            R.

            (Jakarta, 15 Maret 2015)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar