Senin, 10 Agustus 2015

"JIWA YANG TERSESAT"

Dia telah tersesat
Bisa Kau lihat
usahanya untuk kembali
hanya kepada-Mu Yang Sejati

Dia telah tersesat
Dia hanya ingin bertobat
meski mereka bilang terlambat
meski sesalnya kian memberat

Akankah Kau me-rdhoi-nya,
anak manusia yang tak luput dari dosa?
Apakah Kau telah begitu murka,
sehingga selamanya dia akan celaka?

Semoga dia belum tersesat terlalu jauh,
hingga masih terjangkau ampunan-Mu...

R.

(Jakarta, 4 Agustus 2015 – 16:00)

Sabtu, 08 Agustus 2015

#CSW-CLUB DIARIES 3: “SYARAT DAN KETENTUAN”

Dijamin, banyak kening yang akan berkerut saat membaca “syarat dan ketentuan yang berlaku” pada produk atau situs mana pun. Boro-boro baca, mendengarnya saja sudah jiper duluan! Bahkan, saking jipernya, kebanyakan dari kita pasti lebih memilih tidak membaca semuanya atau malah skip semuanya saja sekalian. (Hayo, ngaku aja, deh!) Alasannya standar: mulai dari males, ribet, hingga nggak ngerti bahasa teknis / hukum.
            Kalau di kemudian hari terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, ada dua kemungkinan: kita merasa ditipu dan lantas mencak-mencak ke yang punya produk – atau panik setengah-mati saat kena tuntutan hukum. Nah, lho! Gimana, tuh? Semua gara-gara tidak membaca semuanya atau sama sekali.
            Bagaimana dengan yang ‘tidak tertulis’ di dunia nyata? Banyak! Suka tidak suka, mau tidak mau kita terpaksa berurusan dengan “syarat dan ketentuan” yang berlaku dalam situasi atau relasi tertentu, meski sebenarnya hati tidak berkenan.
            Bagi yang tidak punya masalah, mungkin akan mengikuti tanpa banyak ribut. Bagi yang segan tapi malas ribut, mungkin masih akan mengikuti – tapi pakai acara ngedumel dalam hati.
            Nah, bagi yang tidak suka? Biasanya mereka juga punya dua pilihan: melawan habis-habisan (tanpa peduli resiko dimusuhi sejagat) atau memilih hengkang sekalian atau berhenti menggunakan produk yang bersangkutan. Begitu pula dalam urusan cinta. Wajar bila setiap orang punya idealisme tertentu mengenai hubungan macam apa yang ingin mereka jalani...atau kriteria calon pasangan idaman mereka. (Lagi-lagi namanya juga manusia!) Kalau sudah begini, istilah ‘kasih tanpa syarat’ terdengar begitu utopis. Terlalu sempurna.
            Sebelum ada yang keburu berargumen, benarkah kasih ibu tanpa syarat? Tanpa mengurangi rasa hormat para perempuan dengan peran mulia ini, bukankah ibu juga manusia – yang punya pengharapan tertentu pada sang anak – dan bisa lelah juga bila si anak (dianggap) bermasalah?
            Sebaiknya tidak perlu dijawab di sini, karena toh pengalaman hidup tiap orang berbeda-beda. Begitu pula pemahaman mengenai ‘cinta tanpa syarat’. Ah, memangnya beneran ada? Mungkin hanya sampai titik tertentu kali. Manusia adalah mahluk dengan kemampuan terbatas. Sering mereka hanya bisa mencoba mengikuti “syarat dan ketentuan yang berlaku”, bahkan dengan kelemahan mereka masing-masing...
R.

(Jakarta, 4/8/2015 – 21:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 6 Agustus 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee – Setiabudi One, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tema: “Syarat dan Ketentuan”.) 

Jumat, 07 Agustus 2015

"SEHARI BERSAMA CINTA"

Selamat pagi, cinta
Kau menyapa bagai sang surya
yang sinarnya menembus jendela
Senyummu kebahagiaan sederhana

Selamat siang, cinta
Semoga hari ini lancar bagi kita
Tiada drama maupun huru-hara
Walau ada, mari kita hadapi bersama

Selamat malam, cinta
Hanya kepadamu-lah aku ingin pulang
setelah bertarung mati-matian di luar sana
cobaan dan tantangan tanpa henti di dunia nyata

Saatnya kita terlelap di peraduan,
dengan sosokmu, wahai penawar kedamaian...

R.


(Jakarta, 7 Agustus 2015 – 18:30)

"PAPA"



Seperti akhir pekan sebelumnya, seharian itu aku duduk memperhatikan Papa. Dalam kamarnya yang telah disulap menjadi bengkel seni pribadinya, beliau bekerja dengan tekun. Mulai dari mengamplas kayu hingga halus permukaannya, hingga membentuknya jadi macam-macam dalam beragam ukuran. Ada kepala, badan, tangan, dan kaki. Beliau juga menyambung-nyambungkan bagian-bagian tersebut dengan ahli. Tak heran, karena inilah Mama dulu sampai jatuh cinta.

            Dari kecil, aku selalu suka melihat Papa bekerja. Menurutku, Papa seperti Gepetto yang membuat Pinocchio – sebelum memohon kepada Ibu Peri agar dapat menghidupkannya menjadi anak manusia sungguhan. Ya, Gepetto seorang pembuat boneka kesepian yang sangat menginginkan kehadiran seorang putra.

            Seharusnya Papa tidak perlu merasa kesepian. ‘Kan masih ada aku...

            Kulihat Papa mulai melukis wajah boneka itu dengan cat warna permanen. Mata, hidung, bibir, dan alis. Wajah perempuan, aku langsung mengenalinya, bahkan sebelum beliau mulai menempelkan rambut palsu berwarna hitam dari fiber dan memakaikan gaun biru tua sederhana namun indah.

            Wajah itu begitu familiar. Kurasakan tenggorokanku tercekat. Susah-payah aku mengatur napas, sementara badai tengah bergemuruh liar dalam benak dan hatiku. Ada yang mengambang di pelupuk mata, terancam tumpah. Berat dan panas. Pedih.

            Kurasakan tangan dr.Wanda Wiryawan di pundakku. Aku bahkan tidak menyadari bahwa beliau sudah di sampingku cukup lama.

            Aku masih terus memandangi Papa. Wajah keriput beliau kini berhias seulas senyum puas. Matanya tampak bercahaya.

            Entah kenapa, mendadak beliau tampak seperti anak kecil yang kesenangan. Setelah jadi, dia menyerahkan boneka itu padaku.

            “Ini adikmu,” kata beliau tanpa ragu, seakan tengah menggendong seorang anak kecil dan memindahkannya ke tanganku. “Anna cantik, ya?”

            Entah apa lagi yang harus kukatakan pada Papa. Mungkin benturan di kepala beliau juga menjadi penyebab. Yang pasti, Papa tidak sengaja. Itu hanya kecelakaan, akibat supir mabuk yang menabrak mobil mereka malam itu. Mama dan Anna sekarang sudah tenang di alam sana. Aku sudah rela...


            Ah, andai saja Papa juga bisa merelakan mereka...

Kamis, 06 Agustus 2015

#CSW-CLUB DIARIES 2: “LIFT”

Kehidupan urban tidak bisa lepas dari penggunaan lift. Lihat saja, nyaris tidak ada gedung yang tidak berfasilitas lift. (Apalagi yang berlantai banyak. Kecuali kalau pengelolanya cukup ‘kreatif’ dalam mengajak pengunjungnya untuk ‘berolah raga gratisan’. Dijamin banyak yang akan bilang: “Makasih, dah!” lalu mengambil langkah seribu. Sekian.)
            Buat yang ingin buru-buru dan tidak ingin membuang waktu dan tenaga (iyalah!), memakai lift sudah biasa. Lain cerita bila mereka penderita klaustrofobia (ketakutan irasional akan berada di tempat sempit dan tertutup, apalagi dalam waktu lama.) Ya, meski sebenarnya mereka juga belum tentu senang bila harus naik tangga ke lantai delapan, misalnya.
            Banyak cerita seputar kejadian di dalam lift, mulai dari terjebak saat mati listrik – baik sendirian maupun sama orang lain – hingga kekhawatiran dan rasa takut saat terjadi gempa di tempat tinggi. Percaya atau tidak, ada lho, yang sampai menolak tawaran pekerjaan – hanya gara-gara letak kantornya di lantai atas dan cukup tinggi sekali. (Mau tidak mau harus pakai lift setiap hari!) Alasannya: “Daripada kerja jadi nggak tenang, tiap saat khawatir ada gempa?” Apalagi bagi yang sudah pernah mengalaminya. Sekali saja cukup.
            Belum lagi yang sudah pernah nonton film-film horor macam “The Eye” dan “Final Destination 2”. (Iya, yang ada adegan di dalam lift-nya – dengan tingkat keseraman yang berbeda.) Makin nggak nyaman aja deh, pas naik lift – apalagi kalau sampai dipikirin banget-banget. (Makanya jangan. Lain kali juga jangan nonton film horor kalau tidak siap dengan efek sesudahnya!)
            Tak hanya rasa takut kejebak di dalam lift. Ada lagi hal-hal yang dapat menambah rasa takut – bahkan setelah Anda terjebak di dalam lift, seperti:
1.      Kalau kejebaknya bareng orang yang kalem dan tidak mudah panik sih, syukurlah. Namun bagaimana kalau tidak, misalnya kejebak sama anggota keluarga – apalagi anak kecil yang berpotensi lebih banyak menangis ketakutan? Alamat Anda yang harus memberanikan diri menangani situasi agar satu lift jangan sampai mati kalau tiba-tiba ada kabel suspensi yang lepas. Hiiih...!
2.      Kejebak seorang diri, tanpa bisa melihat keluar dengan jelas gara-gara pintunya tidak berjendela (seperti lift di mall). Jadi, nggak tahu pasti penyebab lift mendadak mati. Gangguan listrik, longgarnya kabel suspensi, atau...korslet hingga kebakaran? Apalagi bila tombol emergency-nya juga ikut mati!

Semoga tidak perlu ada yang sampai mengalami contoh-contoh kejadian di atas saat naik lift...

R.

(Jakarta, 4/8/2015 – 21:00. Ditulis berdasarkan diskusi apik dalam pertemuan The Couchsurfing Writers’ Club pada tanggal 30 Juli 2015, pukul 20:00 di Anomali Coffee – Setiabudi One, Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Tema: “Lift”.)

Rabu, 05 Agustus 2015

"MESRA...SEBATANG KARA..."

terlalu lama dingin dalam jiwa
sepi merajalela,
hingga lupa rasanya mesra
tiada belahan jiwa

ah, aku tahu apa?
mesra hanya milik mereka yang berdua
aku hanya penonton biasa,
bisu berselimut lara

jiwa ini masih dingin,
saat mesra hanya sebatas ingin
rasa yang lama asing,
meski hasrat ingin bersanding

bayangan pun enggan bermesraan denganku,
si gila yang tak henti memikirkanmu
meski gagal bercumbu

jadilah ilusiku,
racun tanpa penawar berupa kemesraan semu
biar hati ini perlahan membiru,
diracuni rindu

mungkin besok rindu akan menjelma sembilu
biarkan kuresapi mesra dengan realita itu
 kau dan dia, bukannya aku

selamat tinggal, ilusi terindahku
 selamat bermesraan dengannya
mungkin senyumku akan kaku,
sementara tawamu ceria

malam ini, kasih tak sampai bermetamorfosa,
mesra dengan kebengisan realita
 habislah tanpa sisa!

akankah ada alasan lagi untuk merengkuh mesra?
yang ada hanya lelah
 rasa termanis pun berubah mentah

R.

(Jakarta, 1 Agustus 2015 – 23:00 – 00:00. Dari #puisimalam nulisbuku.com bertopik: "MESRA".)

Selasa, 04 Agustus 2015

“ADVANX7: TABLET BEROTAK CANGGIH UNTUK INDONESIA”

Kabar baik bagi pencinta tablet untuk pertengahan Agustus 2015 ini: AdvanX7 akan segera hadir di tengah-tengah kita. Dari Advan Intel Bloggers’ Gathering yang diadakan di Fairmount, Senayan (3/8/2015), AdvanX7 diresmikan.



Mengapa AdvanX7? Didukung oleh Intel dan Indosat, tablet berotak canggih ini diharapkan dapat menjadi produk lokal bercita rasa internasional yang disukai dan terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat, seperti halnya di India – dimana produk-produk lokal yang berkaitan dengan teknologi lebih berjaya daripada produk-produk impor.
Bapak Andi Gusena selaku Brand Director Advan menyatakan bahwa saat ini Advan sudah menjadi nomor satu di Indonesia. Bapak Harry K.Nugraha selaku Country Manager Intel Indonesia juga menerangkan mengenai keunggulan AdvanX7. Atom X3, baterai untuk AdvanX7, telah terbukti lebih irit.



Apa lagi keunggulan-keunggulan lainnya? Bapak Yakobus selaku Product Manager Advan menerangkan bahwa AdvanX7 memiliki RAM sebesar 1 GB dan ROM 8 GB. Besar sekali, bukan? Selain itu, Advan X7 bisa didapatkan lewat Android Kitkat 5.7 Lollipop sebagai suporter. Dual camera dan dual SIM Card-nya juga menguntungkan. Bayangkan, satu SIM Card bisa buat browsing, sementara satu lagi untuk menelepon, SMS, atau mengirim pesan lewat Whatsapp.
Meski besar, Advan X7 lewat Android Kitkat 5.7 Lollipop cukup tipis dan ringkas, sehingga masih bisa dimasukkan ke dalam kantong celana tanpa terkesan terlalu menggembung. Bagi pebisnis super sibuk, fitur multimedia editing-nya lebih powerful dan dapat melancarkan multitasking, misalnya: Anda ingin browsing sambil membalas email dari kantor atau ingin mengecek trending topic di akun social media Anda. Tidak ada acara lelet atau pun boros.

Satu lagi nilai plus-nya: fasilitas Advan VoiceTag, dimana data berupa rekaman suara Anda dapat dikonversi menjadi teks. Hal ini sangat berguna bagi pengguna teknologi berkebutuhan khusus, seperti penyandang tuna netra misalnya.