Jumat, 13 November 2015

"MATA BIRU FELICITY"

“Kang, kamu ingin kuantar menemui orang-orang yang matanya enak dipandang, bukan?”
            Kulirik abang kembarku dengan perasaan sebal. Wajah lonjongnya yang berkulit pucat tampak cerah. Mata besarnya yang mirip sekali dengan mataku semakin belo karena kesenangan.
            Fajar, abangku, menatapku. Mungkin juga karena kita juga kembar, hanya beda lima menit pula. Saat dia nyengir jahil, tatapanku jatuh pada sepupu kami Firas. Tidak seperti kami berdua, Firas pendek, gempal, dan badungnya minta ampun. Seringainya justru jauh lebih menyebalkan meski sudah kutatap dengan sedemikian tajam.
            “Awas kalau kamu ngajakin dia yang enggak-enggak!” ancamku sambil menuding wajahnya. Bukannya takut, bocah kuliahan berusia 19 tahun itu hanya terus cengar-cengir.
            Kami pun berpisah. Aku kembali ke kamar hotelku sendirian dengan hati dongkol, sementara Fajar dan Firas memasuki salah satu klub malam paling hip di kota itu. Entah ada apa di dalam sana, aku tidak tahu. Jujur, aku juga tidak mau tahu, meski diam-diam masih mencemaskan nasib abang kembarku. Maklum, Fajar masih bocah yang relatif alim – beda banget sama Firas yang hobi keluyuran di dunia malam.
            Ah, sudahlah. Biar mereka saja yang bertanggung-jawab dengan pilihan mereka. Saatnya lebih mengurus dosa masing-masing.
            Dengan pikiran gelisah, aku jatuh tertidur...
---***---
            “Dia cewek tercantik yang pernah kulihat, Tar.”
            Kutatap abangku yang masih polos itu dengan perasaan separuh skeptis, separuh mengantuk. Pagi itu, kami berdua tengah sarapan di kafe lantai bawah hotel tempat kami menginap. Firas masih tidur di kamar mereka, jadi hanya Fajar yang turun untuk sarapan. Palingan sepupu kami yang badung itu akan terbangun siang ini dengan hangover. Parah benar.
            “Emang bener matanya sebiru itu?” tanyaku penasaran. Fajar mengangguk mantap.
            “Felicity blasteran Indo-Amrik,” katanya dengan tatapan terpesona, mungkin karena sambil membayangkan cewek yang ditemuinya di klub semalam. “Ternyata dia juga tinggal di hotel ini. Nanti dia mau ke sini. Kita mau jalan-jalan bareng keliling kota. “Mau ikut?”
            “Hah?” Astaga, cewek macam apa yang menghampiri cowok duluan – pas baru kenal pula? Oke, mungkin aku konservatif, tapiii...
            “Fajar!” Seorang cewek berlogat asing muncul di depan pintu kafe, melambai pada abangku dengan senyum ceria. Memang, dia cantik sekali. Wajah ovalnya yang berkulit pucat dibingkai rambut pirang sebahu dan bermata biru cemerlang sempurna. Dia lebih mirip peri cerita dongeng daripada manusia biasa, menurutku. Aneh.
            Setelah mengenalkan Felicity padaku, aku setuju ikut mereka jalan-jalan keliling kota. Entah kenapa, ada rasa curiga. Cewek itu baik sih, tidak hanya mau mengobrol dengan Fajar sementara aku dicuekin. Mungkin juga dia terpaksa gara-gara abangku mengajakku. Mungkin diam-diam dia hanya mau mereka berdua.
            Tidak masalah bagiku. Namun, siang itu seseorang menyenggol Felicity tanpa sengaja di tengah kerumunan. Sambil menjerit panik, cewek itu buru-buru berlutut dan seperti mencari-cari sesuatu. Fajar dan aku langsung membantu.
            “What’s wrong?” tanya Fajar penasaran. Felicity masih menunduk ke lantai sebelum Fajar bergeser dan tiba-tiba terdengar bunyi ‘krak’ halus.
            Felicity terkesiap dan mendongak. Saat itulah kami berdua melihatnya. Entah kenapa, aku jadi ingin ketawa.
            Satu matanya tidak sebiru sebelumnya, melainkan coklat gelap biasa...

            Fajar masih bengong, sementara Felicity langsung ambil langkah seribu. Tidak kusangka, hari gini masih ada juga cewek minder dengan fisiknya sendiri...


2 komentar: