Kamis, 12 November 2015

"PAHLAWAN SEHARI-HARI?"

Ini bukan maksud mengecilkan sosok pahlawan – atau bahkan makna kepahlawanan itu sendiri. Ini tentang realita, dimana sebenarnya banyak sekali pahlawan sehari-hari – namun kita kerap abai dan lalai. Bahkan, celakanya banyak yang malah tidak peduli.
            Kita sudah terlalu terbiasa dengan gambaran sosok ‘pahlawan’ yang bombastis seperti gambaran media massa. Persis kepercayaan saya waktu kecil dan belajar sejarah dari buku-buku di sekolah. Pahlawan pasti yang bisa menggunakan senjata, jago berkelahi, pemberani, tidak takut mati, dan selalu membela yang lemah.
            Sayangnya, ada juga tambahan perspektif patriarki: pahlawan itu (pasti) laki-laki! Lalu bagaimana dengan perempuan? Kalau pun ada, waktu itu yang dianggap memenuhi syarat-syarat mutlak di atas di antaranya seperti: Cut Nyak Dien dan Maria Christina Tiahahu. Yang lain?
            Oke, ada juga pahlawan intelektual. Sebut saja R.A. Kartini, Dewi Sartika, Ki Hajar Dewantara, Budi Utomo, Multatuli, dan masih banyak lagi. Kalau yang sekarang bisa disebut salah satunya B.J.Habibie.
            Mungkin inilah yang membuat banyak pemuda kita ingin masuk kepolisian atau angkatan bersenjata. Mereka ingin jadi pahlawan, berbakti membela negara, dan melindungi yang lemah. Bagus, bila memang disertai niat yang tulus. (Seperti pahlawan asap di Riau, misalnya.)
            Lain cerita bila banyak yang masih salah kaprah dengan arti ‘pahlawan’, seperti menyamakannya secara mentah-mentah dengan ‘jagoan’. Ya, yang seperti di film-film aksi laga, yaitu: pakai senjata, jago berkelahi, pemberani, tidak takut mati, dan selalu dapat puja-puji. Selalu membela yang benar? Belum tentu. Salah-salah mereka malah jadi pelaku kekerasan, terutama saat memaksakan kehendak dan karena gila pengakuan. Sangat merusak arti pahlawan sesungguhnya, bukan?
            Bagaimana dengan para pahlawan lainnya? Ibu-ibu yang memasak tanpa henti agar para tentara dapat makan dengan kenyang dan kuat berperang? Atau mereka yang langsung turun-tangan saat bencana datang, bahkan tanpa sokongan dana maupun pengakuan dari mata dunia?
            Para ortu, guru, teman, atau mungkin sosok yang kita sering temui sehari-hari? Saya percaya, meski dengan tindakan sekecil apa pun – bahkan yang mungkin dianggap remeh orang lain – semua berpotensi menjadi pahlawan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Resepnya sederhana, namun seringkali sulit diterapkan:
            Rela tanpa pamrih.
            Kita mungkin memuji para guru seperti dalam lirik “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa”. Kita juga familiar dengan istilah “Pahlawan Devisa” bagi para TKI (tenaga kerja Indonesia) yang berjibaku ke luar negeri, meninggalkan keluarga dan tanah air untuk mencari penghasilan – bahkan kerap dengan taruhan nyawa. Atau “Pahlawan Budaya” untuk sosok seperti Pak Raden – nya “Si Unyil”.
            Lalu, bagaimana dengan sosok-sosok lain yang sebenarnya juga berjasa, namun kerap luput dari perhatian media hingga malah dianggap biasa saja? Pertanyaan retoris ini membuat jadi pahlawan tidak mudah. Bukan kita yang menggelari diri sendiri pahlawan, namun mereka yang mungkin menganggap kita demikian. Bahkan, yang sering terjadi adalah seseorang baru dianggap pahlawan setelah mereka tiada.
            Dan banyak juga yang malah dilupakan, padahal jasa mereka tiada duanya...
            Semoga kita termasuk yang menghargai jasa para pahlawan, bahkan saat mereka tak bernama. Bagaimana kalau kita sendiri bercita-cita menjadi seorang pahlawan? Mampukah kita TIDAK melakukan tiga hal sederhana di bawah ini?
1.    Mencari pengakuan dan pujian setelah berbuat baik.
2.    Bertanya-tanya (bahkan meski dalam hati): “Ada untungnya gak ya, buat saya?”
3.    Marah-marah saat tidak ada yang memperhatikan dan menghargai hasil jerih-payah kalian.

Jika bisa, selamat. Mungkin Anda termasuk pahlawan sejati yang semoga tidak makin langka akhir-akhir ini...


R.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar