Kamis, 02 Januari 2014

'WRITING MARATHON' DI MALAM TAHUN BARU 2014

Selamat Tahun Baru 2014 Masehi! Bagaimana perayaan Tahun Baru kalian? Pasti beragam dan seru-seru ceritanya. Mungkin ada yang berpesta dengan petasan dan kembang api, menginap di hotel berbintang, atau menonton pagelaran seni? Terjebak kemacetan dalam guyuran hujan lebat, ke luar kota, atau ke luar negeri sekalian? Di rumah saja, sama teman dan keluarga, atau malah sendirian? Bertapa di tempat sepi mungkin?
            Atau malah harus bekerja?? Apa pun itu, semoga acara Tahun Baru kalian kemarin menyenangkan.
            Saya memutuskan untuk merayakan Tahun Baru kemarin dengan cara berbeda: ikut online writing marathon! Lagi-lagi gara-gara tantangan lewat Twitter yang saya lihat tanggal 30 Desember kemarin. Berhubung hari itu tidak sempat dan baru bisa mengerjakannya tanggal 31, jadilah sepulang kerja saya ngendon di salah satu convenient store berfasilitas wi-fi dan mulai mengetik.
            Deadline-nya? Pas tengah malam, alias pergantian tahun. Minimal 3000 kata. Untung temanya sudah ditentukan, jadi tidak perlu ngelantur kemana-mana.
            Mungkin banyak yang menganggap pilihan saya aneh. (Bayangkan, seorang perempuan sendirian di malam hari – hanya dengan buku atau laptop. Orang Indonesia ‘normal’ mana pun pasti akan heran!)
            Alasan saya? Banyak. Pertama, bosan. Bayangkan kalau kita melakukan yang itu-itu saja tiap pergantian tahun. Lama-lama hambar, tidak ada variasi. Kalau tiba-tiba kita terpaksa sendirian, bukannya malah garing – karena sudah (terbiasa) bersama-sama orang lain?
            Kedua, saya tertarik dengan hadiahnya. (Haha, hari gini siapa sih, yang tidak mau duit – atau rezeki runtuh lainnya? Buat yang mau jadi penulis serius seperti saya mungkin juga mengincar kesempatan hasil karya mereka dimuat!)
            Ketiga, sebagai penulis lepas, saya ingin menantang diri sendiri. Mau menang-kalah, urusan belakangan. Anggap saja ajang latihan!
Pukul sepuluh malam, tulisan sudah selesai dan terkirim. Setelah itu? Saya memutuskan untuk menulis yang lainnya, hingga bunyi terompet dan petasan di luar menandakan pergantian tahun – alias tengah malam. Kalau dipikir-pikir lagi, mau begadang mah, tidak perlu menunggu Malam Tahun Baru. Apalagi bagi pekerja kreatif macam penulis lepas.

R.


(Jakarta, 1 Januari 2014 – 8:30 pm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar