Rabu, 03 Februari 2016

H4:"UNTUK PENGUSIR MIMPI BURUKKU"

Dear “Kamu”,

                Semalam aku bermimpi buruk. Aku berada dalam sebuah kamar, namun tidak sendirian. Aku sedang duduk di tempat tidur ketika kurasakan tangannya memegang bahuku. Kukira itu kamu, tapi ternyata...dia. Dia duduk di sampingmu, menatapku dengan mata coklatnya dan tersenyum – atau lebih tepatnya, menyeringai – penuh ejekan.

                Aku langsung mendorongnya dan berdiri. Tawanya semakin keras mengejek, sementara aku beranjak ke cermin. Kulihat bayangannya di sana, masih menatapku dengan ekspresi geli di wajahnya yang tirus.

                “Ayolah,” katanya. “Kamu juga suka, ‘kan?”

               Prang! Kutinju cermin di hadapanku hingga kacanya pecah berhamburan. Buku-buku jariku berdarah, tapi anehnya tidak terasa sakit. Mungkin karena aku sendiri juga tidak peduli. Kulihat pecahan-pecahan kaca yang cukup besar bertebaran di meja rias. Di belakangku, tawanya masih terdengar.

           Entah kenapa, tiba-tiba timbul pikiran gelap itu di benakku. Kupungut pecahan kaca yang paling besar.

            Aku hanya ingin dia berhenti tertawa. Aku hanya ingin dia diam, tapi tak perlu sampai harus...

          Aku berbalik dan menyerangnya dengan pecahan kaca di tanganku, sementara benakku terus menjeritkan satu kata berulang-ulang: Bangun! Bangun! Bangun!

            Dan aku pun terbangun. Sekujur tubuhku dingin dan gemetar. Kamu duduk di samping tempat tidurku dan langsung memegang tanganku.

         “Mimpi buruk lagi?” tanyamu khawatir. Aku mengangguk, sebelum kamu hanya membelai ikal gelapku dan menyuruhku: “Tidur lagi.”

          Tapi aku tidak mau. Aku hanya ingin terus terjaga, agar bisa melihatmu dan memastikan semua ini kali ini nyata – bukan hanya mimpi belaka. Aku tidak ingin jatuh tertidur...

      Apa daya, ternyata akhirnya aku pun kembali ke dunia nyata, kali ini benar-benar kamarku sendiri. Tidak ada dia, tapi juga tidak ada kamu.

       Mungkin kali ini aku sudah benar-benar gila. Lihat saja, hingga kini aku masih terus menulis surat untuk sosok yang hingga kini belum terbukti keberadaannya di dunia nyata. Belum tentu kamu beneran ada. Mungkin, karena itulah aku tidak berani memberimu nama atau bahkan sekadar julukan.

      Mungkin, hingga kini aku masih separuh skeptis akan cinta. Mungkin inilah yang terjadi bila seseorang yang skeptis akan cinta menulis surat cinta. Banyak yang tidak masuk akal. Tidak seceria manusia normal. Seperti pengembara yang lupa tujuan semula, namun kehilangan peta dan GPS-nya pun tidak menyala. Konyol sekali, ya?

        Banyak sekali hal yang tidak kuceritakan pada keluarga, bahkan teman-teman yang paling dekat sekali pun. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai seseorang kalau saja aku sudah lama tidak dekat dengan mereka yang seharusnya dekat? Aku mengisolasi diri. Aku takut mengundang seseorang untuk menjadi terlalu dekat, karena pada akhirnya akan sama...mereka pergi juga. Sama seperti dia.

        Sama seperti kamu?

        Bagaimana cara mencintai orang yang punya kesulitan mencintai diri sendiri – atau sulit percaya bahwa mereka pun sebenarnya juga berhak dicintai, lengkap dengan segala kekurangan mereka? Tak peduli bahwa ayah mereka pernah menyebut mereka terlalu aneh untuk bersama orang lain atau bahkan tidak pernah ada untuk mereka. Tak peduli bahwa ibu mereka tampaknya lebih memperhatikan si sulung dalam keluarga atau bahkan menganggap mereka sebagai kesalahan yang seharusnya tidak pernah dilahirkan.

       Mungkin, karena itulah dulu aku sempat dekat dengannya. Dia sendiri juga pernah bilang kalau alasan dia tertarik padaku adalah karena aku berbeda, tidak seperti lainnya. Aku aneh, namun tidak pernah berusaha terlalu keras untuk menjadi normal agar (dianggap) sama dengan mereka. Aku hanya kompromi.

     Ya, ada kesamaan antara aku dan dia, meski tidak semuanya. Kukira aku bisa mencintainya, namun itu tidak pernah cukup. Cinta itu tidak pernah benar-benar ada. Kami berdua hanya sosok-sosok kesepian yang kebetulan bertemu pada jalur yang sama, sebelum akhirnya berpisah juga. Dia bahkan meminta terlalu banyak dalam waktu yang terlalu singkat.

         Dia bahkan tak pernah benar-benar tahu apa itu cinta...

       Bagaimana denganku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa aku sudah berusaha sebisanya. Tidak ada gunanya terus bersama bila akhirnya sama-sama terluka.

       Bagaimana denganmu? Masih berwujud dalam mimpi saja, seperti sebelumnya. Baiklah, aku masih akan sabar menunggu, seperti biasa. Sendiri bukanlah malapetaka. Untuk saat ini, aku masih baik-baik saja.

          Sampai nanti.

          Yang memikirkanmu dan menunggumu,


          Nona Separuh Skeptis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar